Awan Panas

AWANPANAS

Istilah awanpanas dipakai untuk menyebut aliran suspensi dari batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu masa gas vulkanik panas yang keluar dari gunungapi dan mengalir turun mengikuti lerengnya dengan kecepatan bisa lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan km. Aliran turbulen tersebut dari jauh tampak seperti awan bergulung-gulung menuruni lereng gunungapi dan bila terjadi malam hari terlihat membara. Awanpanas biasanya tidak segemuruh longsoran biasa karena tingginya tekanan gas pada material menyebabkan benturan antar batu-batu atau material di dalam awanpanas tidak terjadi dengan kata lain benturan teredam oleh gas. Penduduk sekitar Merapi menyebut awanpanas sebagai wedhus gembel dalam bahasa Jawa berarti domba karena secara visual kenampakan awanpanas seperti domba-domba menyusuri lereng. Istilah ini diperkirakan telah dipakai sejak berabad-abad oleh penduduk setempat (lebih tua dari pada istilah nuee-ardente).

Awan panas Merapi dibedakan atas awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi karena hancuran magma oleh suatu letusan. Partikel-partikel terlempar secara vertical dan horizontal. Kekuatan penghancuran material magma saat letusan ditentukan oleh kandungan gas vulkanik dalam magma. Awanpanas guguran terjadi akibat runtuhnya kubah lava bersuhu sekitar 500-600°C oleh tekanan magma dan pengaruh gravitasi. Proses awal yang memicu longsornya kubah dapat di timbulkan oleh tiga sebab :

  1. Longsor biasa yang sebagaimana sering terjadi di daerah lereng-lereng pegunungan. Peranan hujan menjadi faktor utama yang menimbulkan ketidakstabilan. Di daerah lereng pegunungan air hujan masuk dalam struktur tanah dan memperkecil gaya gesek pada bidang gelincir sehingga tidak dapat lagi menahan berat lereng. Dalam hal kubah lava Gunung Merapi, air hujan yang masuk ke dalam kubah lava mengalami pemanasan sehingga menjadi gas yang bertekanan cukup tinggi untuk mengganggu kestabilan kubah. Kohesi material penyusun tubuh kubah lava mengecil sehingga mudah muncul longsoran kecil maupun besar.
  2. Longsoran dipicu oleh suatu letusan kecil (lokal) yang terjadi di kubah lava. Gas bertekanan tinggi dalam kubah lava dapat memicu terjadinya letusan kecil setempat yang terjadi di permukaan kubah lava. Tekanan yang dilepaskan secara mendadak dapat mengganggu kestabilan kubah secara keseluruhan sehingga kubah dapat mengalami longsoran besar.
  3. Longsornya kubah dapat pula karena adanya dorongan dari bawah yaitu dari pipa magma gunungapi sehingga kubah lava bergeser dan akhirnya longsor. Karena adanya faktor gravitasi, tekanan dari bawah yang tidak terlalu besar sudah cukup untuk mengganggu kestabilan kubah.

Karena awanpanas jenis ini terbentuk terutama karena pembongkaran kubah lava yang sudah ada sebelumnya oleh proses gravitasi, fragmen penyusun awan panasnya relatif besar. Demikian pula kekuatan luncurnya terutama hanya oleh beratnya sendiri sehingga jangkauan atau jarak luncurnya tidak begitu besar. Kecenderungan arah luncuran masa awanpanas ditentukan oleh arah aliran-aliran hulu sungai di lereng gunungapi yang berada di bawah posisi kubah lava yang terluncurkan. Material beratnya akan meluncur di dalam alur sungai, sedangkan awan yang kelihatan bergulung-gulung akan menyelimuti aliran masa awan panas dan melebar ke tepian alur hulu sungai di kiri kanan dari alur tersebut. Jarak jangkau awanpanas ditentukan oleh kecepatan alirnya yang tergantung pada morfologi dan kelerengan/ gradien alur lembah sungai.

Kekuatan awanpanas dalam membawa material berukuran besar dan bongkahan bongkahan merupakan ciri utama dari alirannya. Endapan awanpanas tersusun dari dua bagian, yaitu bagian bawah, beberapa meter atau puluhan meter tebalnya, biasanya di dasar lembah sungai terdiri dari material berbutir kasar. Bagian atas terdiri dari endapan material abu. Menurut Fisher & Schmincke (1984), endapan awanpanas bervariasi dan mencerminkan berbagai tipe letusan dan pengendapan. Kejadian letusan awanpanas itu sendiri dapat menghasilkan asosiasi endapan awanpanas dan piroklastik surge atau hanya awanpanas atau piroklastik surge saja. Perbedaan dari dua jenis endapan ini terlihat dari pemilahan dan struktur endapannya. Endapan awanpanas terpilah buruk dan masif sedangkan piroklastik surge mempunyai pemilahan butir yang lebih baik, berukuran lebih halus dan memiliki struktur lapisan. Proses pengendapan awanpanas terjadi pada dasar lembah dan menjauh dari sumber endapannya akan menebal.

Awanpanas yang terjadi di Gunung Merapi umumnya termasuk dalam awan panas guguran. Gaya berat kubah lava atau bagian dari kubah lava yang runtuh menentukan laju dari awan panas. Semakin besar volume yang runtuh akan semakin cepat laju awanpanas dan semakin jauh jarak jangkaunya. Pada umumnya kubah lava yang terbentuk di puncak berbentuk memanjang menjulur ke arah lerengnya. Orientasi dari kubah lava ini yang menentukan arah awanpanas yang akan terjadi. Namun demikian kubah lava di puncak Merapi tidak tunggal dalam arti ada banyak kubah lava yang tidak runtuh dan kemudian menjadi bagian dari morfologi puncak gunung Merapi. Ada kecenderungan bahwa kubah lava yang lebih baru lebih tidak stabil dibanding kubah lava yang lebih dulu terbentuk. Kestabilan kubah lava juga sangat tergantung dari keadaan dasar kawah di mana suatu kubah terbentuk.

Suhu awan panas dipelajari dengan menganalisa arang kayu dari pepohonan yang terlanda awanpanas dan kemudian terbenam dalam endapan awanpanas. Pengambilan contoh arang dilakukan dari endapan awanpanas yang ada, terutama pada endapan tua. Suhu awanpanas Gunung Merapi, dibandingkan dengan awanpanas dari gunung lain dengan letusan yang lebih besar, tidak begitu tinggi. Dari analisa diperoleh data bahwa suhu awanpanas Merapi hanya sekitar 250°C. Walaupun data ini baru dari contoh yang terbatas, hasil ini menunjukkan bahwa suhu awanpanas Merapi minimal 250°C.

Comments

comments

Comments for this post are closed.