Koleksi Lantai 1

  • Meliputi filosofi kegunungapian dan alat peraga kegempaan serta tempat pengumpulan dan perarsipan benda bernilai yang berkaitan dengan Gunung Merapi dan Gunungapi pada umumnya.

Peta Kawasan Gempa Bumi

KODE : L1.SB.D5


Zona Rawan “Local Site Effect” Gempa bumi di Yogyakarta Oleh: Daryono Sucipto BMKG

Oleh: Daryono SUcipto BMKG
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Daerah Yogyakarta dan sekitarnya, secara tektonik merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi ini disebabkan karena daerahnya yang berdekatan dengan zona tumbukan lempeng di Samudera Indonesia. Di samping sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas tumbukan lempeng tektonik, daerah Yogyakarta juga sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Kondisi tektonik semacam ini menjadikan daerah Yogyakarta dan sekitarnya sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks.

Berdasarkan data sejarah kegempaan Jawa, daerah Yogyakarta sudah beberapa kali mengalami gempa bumi merusak, yaitu pada tahun 1840 (terjadi tsunami), 1859 (terjadi tsunami), 1867 (5 orang tewas, 372 rumah roboh), 1875 (skala intensitas mencapai V-VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1937 (skala intensitas mencapai VII-IX MMI, 2.200 rumah roboh), 1943 (250 orang tewas, 28.000 rumah roboh), 1957 (skala intensitas mencapai VI MMI), 1981 (skala intensitas mencapai VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1992 (skala intensitas mencapai V MMI), 2001(skala intensitas mencapai V MMI), 2004 (skala intensitas mencapai V MMI) dan 2006 (6.000 orang tewas, lebih dari 1.000.000 rumah rusak berat). Gempa bumi Yogyakarta 10 Juni 1867 terjadi pada masa kolonial Belanda. Akibat gempa bumi ini tercatat 372 rumah roboh dan menewaskan 5 orang.

Berdasarkan kajian pustaka, kerusakan parah akibat gempa bumi terkonsentrasi di daerah Bantul. Catatan sejarah menunjukkan bahwa getaran dirasakan di kota Yogyakarta sangat dahsyat mencapai skala intensitas VIII hingga IX MMI. Saat itu kerusakan tidak saja melanda permukiman penduduk Yogyakarta, tetapi beberapa bagian dari bangunan Kraton Yogyakarta juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Para ahli geologi menduga bahwa gempa bumi kuat ini memiliki episentrum yang berada di daratan, pada suatu kawasan di sepanjang sesar Sungai Opak. Berdasarkan lokasi dan tingkat kerusakan parah yang ditimbulkan, diperkirakan gempa bumi ini memiliki magnitudo di atas 6.0 Skala Richter.

Menurut ahli geologi berkebangsaan Belanda, Van Bemmelen (1949), daerah Yogyakarta, juga pernah dilanda gempa bumi merusak dengan spektrum getaran yang sangat luas pada 23 Juli 1943. Gempa bumi besar ini terjadi pada masa pendudukan kolonial Jepang. Kota-kota yang mengalami kerusakan berat adalah Pacitan, Klaten, Yogyakarta, Bantul, Purworejo, Kebumen, Cilacap, Tegal dan Purwokerto. Korban yang tewas akibat gempa bumi ini mencapai sekitar 250 orang, lebih dari 4.500 orang menderita luka parah dan sebanyak 28.000 rumah penduduk mengalami rusak berat.

Para ahli kebumian memperkirakan episentrum gempa bumi dahsyat ini terletak di Samudera Indonesia kira-kira 100 kilometer sebelah selatan Kota Kebumen. Dengan mempertimbangkan model pola subduksi lempeng di selatan Jawa serta dengan memperhatikan landainya zona Benioff di kawasan ini, tampaknya hiposenter diperkirakan dangkal, tidak melebihi 60 kilometer. Sesar-sesar lokal yang masih aktif yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta serta jenis tanah yang gembur dengan kandungan air tanah cukup tinggi tampaknya telah mengamplifikasi getaran gempa bumi hingga menyebabkan kerusakan parah di daerah tersebut. Yang penting dicatat di sini adalah bahwa rumah yang roboh atau rusak berat bukanlah rumah-rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu, serta tidak pula rumah-rumah penguasa kolonial yang dibangun dengan konstruksi baik, tetapi rumah-rumah milik kelas menengah tempo doeloe yang dibuat dari batu bata yang tidak begitu kuat.

Gempa bumi Jawa Tengah dan Yogyakarta ini merupakan contoh klasik gempa bumi subduksi dangkal yang berpusat di cekungan busur luar Jawa. Terakhir, pada 27 Mei 2006, daerah Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya Bantul kembali diguncang gempa bumi tektonik yang sangat dahsyat. Meskipun kekuatan gempa bumi relatif kecil, hanya 6.4 Skala Richter, namun telah mengakibatkan lebih dari 6.000 korban tewas, lebih dari 40.000 korban luka-luka dan lebih dari 1.000.000 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Zona Paling Rawan Ada sebuah fenomena menarik, dimana daerah kerusakan paling parah akibat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah membentuk suatu pola spasial yang unik. Daerah kerusakan parah membentuk sabuk yang membujur dalam arah Baratdaya-Timurlaut, meliputi Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan. Fakta ini dapat dilihat pada peta agihan kerusakan gempa bumi hasil pantauan satelit yang menunjukkan adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang paralel dengan jalur sesar Sungai Opak.

Pada awalnya, para ahli ilmu kebumian berpendapat bahwa daerah kerusakan yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak disebabkan oleh aktivitas gempa bumi yang dipicu oleh reaktivasi sesar Sungai Opak. Pendapat ini kemudian menjadi pro dan kontra setelah ditentukan episentrum gempa bumi terletak pada koordinat -8.03 LS dan 110.54 BT, tepatnya pada jarak sekitar 20 kilometer di sebelah timur sesar Sungai Opak. Episentrum gempa bumi utama (mainshock) ini dinilai lebih akurat, karena didukung dengan data sebaran episentrum gempa bumi susulan (aftershock) yang terkonsentrasi di sebelah timur Sesar Opak.

Gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah menyimpan beberapa keganjilan dan tanda tanya terkait dengan lokasi episentrum dan sebaran kerusakannya. Berdasarkan peta rasio kerusakan yang ada, ternyata daerah kerusakan paling parah adalah Kecamatan Pundong, Jetis, Pleret (rasio kerusakan: 75-100%) yang lokasinya berjarak lebih dari 20 km dari episentrum gempa bumi. Daerah-daerah di perbukitan Baturagung dan Wonosari yang lokasinya lebih dekat dengan episentrum gempa bumi justru mengalami kerusakan ringan (rasio kerusakan: <6.25%).

Fakta ini menunjukkan bahwa teori yang menyatakan bahwa intensitas kerusakan gempa bumi akan menurun terhadap bertambahnya jarak dari episentrum gempa bumi tidak sepenuhnya benar. Distribusi kerusakan gempa bumi yang membentuk pola “sabuk kerusakan” yang paralel dengan sesar Sungai Opak saat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, merupakan tanda tanya besar yang perlu dicari jawabannya. Ini penting, mengingat lokasi episentrum gempa bumi tidak terletak pada jalur Sesar Opak.

Hasil kajian indeks kerawanan seismik berdasarkan pengukuran mikrotremor di daerah Bantul telah berhasil memberi jawaban adanya fenomena efek tapak lokal (local site effect) di daerah ini. Ada beberapa kesimpulan yang dihasilkan dari kajian indeks kerawanan seismik di Yogyakarta. Pertama, tingkat kerusakan gempa bumi ternyata dikontrol oleh karakteristik bentuk lahan dan tingkat kerusakan gempa bumi tidak dipengaruhi oleh jarak dari pusat gempa bumi. Kedua, distribusi kerusakan gempa bumi yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak ternyata tidak disebabkan oleh adanya reaktivasi sesar seperti yang diprediksi oleh para ahli sebelumnya. Adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang pola sebarannya sesuai dengan zona paling rawan yang mencakup wilayah Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan merupakan cerminan local site effect akibat adanya endapan material sedimen Gunungapi Merapi.

Zona paling rawan tersebut merupakan daerah yang memiliki indeks kerawanan seismik paling tinggi hasil pengukuran mikrotremor di Yogyakarta. Fakta ini diungkap tidak bermaksud untuk memberikan rasa takut kepada masyarakat. Fakta mengenai kerawanan seismik suatu kawasan justru harus diungkap dan disosialisasikan untuk membangun kapasitas diri seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi yang mungkin terjadi di masa mendatang. Sangat jarang dipahami oleh masyarakat awam bahwa gempa bumi kuat merupakan suatu siklus dan akan berulang kembali pada periode tertentu. Kondisi ini akan terus menerus berlangsung dan berulang kembali membentuk sebuah siklus periode ulang gempa bumi di suatu kawasan tertentu.

Jika mencermati fakta sejarah kegempaan Yogyakarta, sejak dahulu daerah Bantul merupakan kawasan yang selalu mengalami kerusakan paling parah setiap terjadi gempa bumi. Kondisi alam semacam ini merupakan sebuah kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Bantul, sehingga suka tidak suka, semua itu harus dihadapi oleh penduduk yang tinggal di kawasan seismik aktif. Oleh karena itu pemahaman tentang manajemen bencana perlu dimengerti dan dikuasai oleh seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, maupun swasta guna menekan sekecil mungkin jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda yang mungkin timbul jika terjadi gempa bumi. q-c-(1607-2009).

*) Daryono SSi MSi, Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Mitos Gunungapi Bromo Rara Anteng & Joko Seger

KODE : L1.SB.D3


Legenda Gunung Bromo berkaitan dengan legenda kawasan Tengger. Menurut legenda, pada akhir abad 15, seorang putri keturunan kerjaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan Joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng ( Teng ) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan, kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikarunia keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.

Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkan 25 orang puta-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega apabila kehilangan putra putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib “Saudara-saudaaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widi menyelematkan kalian semua. Hiduplah damai dan tentram, sembahlah Sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke 14 mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga dan binatang peliharaan kepada Sang Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.

MOUNT BROMO MITHOLOGY RARA ANTENG & JOKO SEGER
The legend of Mount bromo reated to the region of Tengger. According to this legend, at the end of the 15th century a princess named Roro Anteng from Majapahit who started a principality with her husband, Joko Seger. They named the principally Tengger, on amalgam of the last syllable of both their names, Rara Anteng ( Teng ) and Joko Seger ( Ger ).
Being childless for many years, they made a trip up Mount Bromo to seek the help of the mountain gods in granting them a child. The god agreed to their request, but demanded that they have to sacrifice their younger child to Bromo crater.

Many years later they had 25 children. When the last and final child was born Roro Anteng and Joko Seger refused to do the sacriface as promised. The god then threatened with fire and brimstone until Raden Kesuma finally relented. After the child was thrown into the crater of the volcano, his voice was heard asking that an annual ceremony be performed to appease the gods. The ceremony was still being performed to this day. It takes place on the 14th day of the full moon Kasodo, according to the Tenggerese calendar. Rice, fruits, vegetables, flowers and livestock are offered to the mountain of gods.

Cara Penyelamatan Diri dari Ancaman Bahaya Gunungapi

KODE : L1.SB.D1


Indonesia masih memiliki Gunung Api yang Aktif, beberapa di antaranya sudah sempat meletus, sebut saja Gunung Merapi Yogyakarta dan Gunung Sinabung. Gunung api masih menjadi ancaman bagi masyarakat karena sewaktu waktu bisa saja Erupsi. Tentu hal ini perlu di waspadai. Letusan gunung api memberikan dampak positif bagi manusia dan juga bagi lingkungan. Salah satunya adalah letusan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S, No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa partike debu yang berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.

Letusan Gunung Api bisa membuat kelumpuhan ekonomi karena aktifitas masyarakat di wilayah gunung api akan terganggu. Oleh sebab itu banyak yang perlu di perhatikan untuk menghadapi letusan gunung api. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran gunung api aktif perlu tetap waspada dan perlu mempersiapkan dari sekarang karena erupsi bisa terjadi secara tiba tiba.

Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi

  • Kenali daerah setempat dalam menentukan tempat aman untuk mengungsi. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi awal saat gunung api baru Erupsi dan sambil menunggu bantuan dari Dinas Terkait
  • Membuat perencanaan penanganan bencana erupsi gunung api.
  • Mempersiapkan pengungsian saat diperlukan
  • Mempersiapkan kebutuhan dasar seperti, makanan, minuman, serta obat obatan

Jika Terjadi Letusan Gunung Api

  • Pergi menjauh dari area gunung terutama area berbahaya seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  • Jika berada di tempat terbuka, tetap lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Waspadai karena sewaktu waktu bisa terjadi letusan susulan.
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
  • Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  • Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.

Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi

  • Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
  • Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin

Erupting Mountain Volcano Mt Merapi Full Moon

CARA PENYELEMATAN DIRI DARI ANCAMAN BAHAYA GUNUNGAPI
Apa yang harus dilakukan untuk menghindari ancaman bahaya letusan gunungapi ?

1. Awan panas :
a. Menjauh dari kawasan rawan bahaya ancaman aliran piroklastika
b. Menjauh dari lembah sungai yang berhulu di puncak gunungapi.

2. Aliran lava :
Meskipun aliran lava memiliki kecepatan aliran yang lambat, jangan berada di lembah sungai yang menjadi zona aliran lava.

3. Lontaran batu (pijar) :
a. Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana lontaran batu terutama di sekitar puncak gunungapi atau kawah.
b. Saat berlari menghindari lontara batu, selalu melihat ke atas untuk mengetahui arah lontaran batu.

4. Gas beracun :
a. Menjauhkan diri dari sumber keluarnya gas beracun;
b. Menjauhkan diri dari lembah, celah dan cekungan pada saat cuaca mendung, hujan dan berkabut
c. Gunakan masker gas atau kain penutup hidung yang dibasahi air.
d. Membawa obor atau api untuk mendeteksi keberadaan gas beracun. Api akan mati tanpa tertiup angin.

5. Hujan abu :
a. Berlindung di dalam bangunan permanen beratap kokoh.
b. Bersihkan atap rumah dengan menyemprotkan air sehingga beban abu terhadap bangunan menjadi berkurang
c. Menggunakan masker dan kaca mata
d. Buah-buahan dan sayuran yang berasal dari kebun yang terkena abu letusan harus dibersihkan terlebuh dahulu dengan air.

6. Lahar hujan :
Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aliran lahar, terutama di lembah-lembah sungai yang berhulu di daerah puncak.

HOW TO SURVIVE FROM VOLCANOES ERUPTION
1. Pyroclastic Flows :
a. Keep out from hazard zone of pyroclastic flows hazard
b. Keep out from the river valley originated from the summit areas.

2. Lava flow :
Even though lava flows is slower than pyroclastic flows and lahars, keep out from river valley that may be inundated by lava flows.

3. Ballistic trajectory :
Keep out from hazard zone of ballistic trajectory hazard particularly in the summit area.
Pay attention of trajectories while you run away.

4. Toxic Gas :
a. Keep out from source of volcanic gases.
b. Do not stay on the valley, creek, or low topographic area when a cloudy condition and rainfall.
c. Wear gas masker or wet towels.
d. Bring a torch or gasoline to detect gases.

5. Ash :
a. Stay in the building with a permanent roof support.
b. Keep roofs free of thick accumulation of ash, sweep or shovel ash from roofs.
c. Wear dust masker and google.
d. You may eat vegetables and fruits from the garden, but wash it s first.

6. Lahars :
Keep out from river valley originating fom the summit area, which may be inundated by lahars.

KOLEKSI BATU DARI BEBERAPA GUNUNGAPI DI INDONESIA

KODE : L1.SU.X1


KOLEKSI BATU DARI BEBERAPA GUNUNGAPI DI INDONESIA

( STONE COLLECTION FROM SEVERAL VOLCANIC IN INDONESIA )

  • Lava Alkaline Gunungapi Muria Jepara Jawa Tengah ( Alkaline Lava of Muria Volcano Jepara-Central Java )
  • Lava Andesit Gunungapi Sindoro Jawa Tengah ( Andesitic Lava of Sindoro Volcano – Central Java )
  • Lava Andesit Gunungapi Slamet-Jawa Tengah ( Andesitic Lava of Slamet Volcano – Central Java )
  • Dasit Gunung Kromong Cirebon – Jawa Barat ( Dacite of Mount Kromong Cirebon – Central Java )
  • Diorit Balukbuk Majalengka – Jawa Barat ( Diorite of Mount Balukbuk Majalengka-West Java )
  • Kubah Lava Gunungapi Kelud 2007 Kediri – Jawa Timur ( The 2007 Lava Dome of Kelud Volcano Kediri – East Java )
  • Bom Gunungapi Galunggung 1982 Tasikmalaya – Jawa Barat ( 1982 Volcanic Bomb of Galunggung Volcano Tasikmalaya – West Java )
  • Lava Basalt Gunungapi Dukono, Maluku Utara ( Basaltic Lava of Dukono – North Maluku )
  • Lava Basalt Gunungapi Tambora – Nusa Tenggara Barat ( Basaltic Lava of Tambora Volcano – West Nusa Tenggara )
  • Bom Gunungapi Anak Krakatau 2008 Selat Sunda ( The 2008 Volcanic Bomb of Anak Krakatau – Strait of Sunda )
  • Lava Basalt Gunungapi Guntur Garut – Jawa Barat ( Basaltic Andesit Lava of Guntur Volcano, Garut – West Java )
Flickr Album Gallery Powered By: WP Frank

Berbagai macam makhluk hidup yang ada di alam dunia ini tidak terlepas dari adanya unsur batu. Dari bermacam macam batu yang mengalami proses penguraian, kemudian menjadi tanah dan dari tanah tersebut munculah berbagai macam kehidupan.

Berikut ketiga jenis batuan yang ada pada lapisan atmosfer bumi :

  1. Batuan Beku
  2. Batuan Sedimen
  3. Batuan Metamorf

 

1.BATUAN BEKU

Batuan Beku adalah batuan yang terbentuk karena pembentukan magma dan lava yang membeku.

Apa itu magma dan lava?

Magma adalah batuan cair dan sangat panas yang berada di dalam kerak bumi/perut bumi.

Lava adalah magma yang mencapai permukaan bumi.

Jenis Batuan Beku :

– Batuan beku berdasarkan tempat pendinginannya atau pembekuannya, di bagi menjadi 3 yaitu

1. Batuan beku dalam/plutonik/intusif/tubir

Merupakan batuan yang terbentuk dari magma yang membeku jauh di dalam bumi dan hanya terdiri dari kristal saja. Proses pendinginan batuan beku dalam ini sangat lambat sekali, maka dari itu terjadi pengkristalan yang sempurna. Kristal batuan beku dalam ini besar – besar dan kasar.

Contoh : batu granit, batu gabbro, batu diorit, dan batu syenit.

2. Batuan beku gang/korok/celah

Merupakan batuan beku yang terbentuk magma yang membeku di dalam korok – korok atau gang – gang. Itu berarti letak pembekuan batuan beku korok ini lebih dekat dengan permukaan bumi dibandingkan batuan beku dalam. Karena letaknya yang lebih dekat dengan pemukaan bumi maka proses pendinginan magma disini juga terjadi lebih cepat. Maka dari itu pengkristalan yang terjadi juga tidak terlalu sempurna. Akibatnya batuan ini ada yang memiliki Kristal besar, Kristal kecil, dan bahkan tidak mengkristal, misalnya bahan amorf. Contoh : batu batu profir granit, batu profir gabbro, batu profir syenit, dan batu granit fosfir.

3. Batuan beku luar/leleran/ekstrusi/vulkanis

Magma yang keluar ke permukaan bumi disebut lava. Jika di luar pemukaan bumi, proses pendinginan lava akan berlangsung sangat cepat sekali, maka dari itu sangat kecil sekali terjadi proses kristalisasi pada batuan beku ini.

Contoh : batu rhyolit, batu andesit, batu trachit, batu basalt, batu obsidian, dan batu apung (purnice).

– Batuan beku berdasarkan kandungan SiO2 (menurut C. L Hugnes : 1962) batuan beku dibagi menjadi 4 yaitu :

1. Batuan beku ultra basa : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 kurang dari 45%.
Contohnya adalah batu basalt.

2. Batuan beku basa : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 antara 45% – 52%.
Contohnya adalah batu andesit.
3. Batuan beku intermediate : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 antara 52% – 66%.
Contohnya adalah batu dasit.
4.Batuan beku asam : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 lebih dari 66%.
Contohnya adalah batu riolit.

Contoh Batuan Beku :

1)     Batu Apung

Ciri-ciri : warna keabu-abuan, berpori-pori, bergelembung, ringan, terapung dalam air

o  Cara terbentuk : dari pendinginan magma yang bergelembung-gelembung gas

o  Kegunaan : untuk mengamplas atau menghaluskan kayu, di bidang industri digunakan sebagai bahan pengisi (filler), isolator temperatur tinggi dan lain-lain.

 

2) Batu Obsidian

Batu Obsidian

Ciri : hitam, seperti kaca, tidak ada kristal-kristal

o  Cara terbentuk : terbentuk dari lava permukaan yang mendingin dengan cepat

o  Kegunaan : untuk alat pemotong atau ujung tombak (pada masa purbakala) dan bisa dijadikan kerajinan

3)  Batu Granit

Batu Granit

Ciri : terdiri atas kristal-kristal kasar, warna putih sampai abu-abu, kadang-kadang jingga, Batuan ini banyak di temukan di daerah pinggiran pantai dan di pinggiran sungai besar ataupun di dasar sungai.

o  Cara terbentuk : dari pendinginan magma yang terjadi dengan lambat di bawah permukaan bumi

o  Kegunaan : sbg bahan bangunan

4)  Batu Basalt

Batu Basalt

Ciri : terdiri atas kristal-kristal yang sangat kecil, berwarna hijau keabu-abuandan berlubang-lubang

o   Cara terbentuk : dari pendinginan lava yanng mengandung gas tetapi gasnya telah menguap

o   Kegunaan : sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan bangunan / pondasi bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll)

 

5)  Batu Diorit

Batu Diorit

Ciri : Kelabu bercampur putih, atau hitam bercampur putih

o  Cara terbentuk : dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu subduction zone, biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu gunung didalam cordilleran ( subduction sepanjang tepi suatu benua, seperti pada deretan Pegunungan)

o  Kegunaan : sbg batu ornamen dinding maupun lantai bangunan gedung dan sbg bahan bangunan (hiasan)

6)  Batu Andesit

Batu Andesit

Ciri : batuan bertekstur halus, berwarna abu-abu hijau tetapi  sering merah atau jingga

o  Cara terbentuk : berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, terbentuk (membeku) ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius.

o  Kegunaan : Nisan kuburan, Cobek, Arca untuk hiasan, Batu pembuat candi

7)  Gabro 

Batu Gabro

Ciri : Berwarna hitam, hijau, dan abu-abu gelap. Struktur batuan ini adalah massive, tidak terdapat rongga atau lubang udara maupun retakan-retakan. Batuan ini memeiliki tekstur fanerik karena mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata dan mineral yang besar menunjukkan bahwa mineral tersebut terbentuk pada suhu pembekuan yang relatif lambat sehingga bentuk mineralnya besar-besar

o  Cara terbentuk : terbentuk dari magma yang membeku di dalam gunung

o  Kegunaan : untuk penghasil pelapis dinding ( sebagai marmer dinding )

8)  Batu Liparit

Batu Liparit

Ciri : bertekstur porfiris dan umumnya berwarna putih, mineral pembentuknya feldspar, kuarsa, biotit dan mungkin juga mineral berwarna gelap.

o  Cara terbentuk :

o  Kegunaan :

2. BATUAN SEDIMEN

Batu Sedimen atau Endapan: batuan yang terbentuk karena pengendapan / hasil pelapukan dan pengikisan batuan yang dihanyutkan oleh air atau terbawa oleh tiupan angin. Kemudian endapan ini menjadi keras karena tekanan atau ada zat-zat yang merekat pd bagian-bagian endapan tersebut.Jenis Batuan Sedimen :

Berdasarkan tanaga/medium pengendapannya, batuan sedimen dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

  • Batuan sedimen aeris atau aeolis : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan angin. Contoh : tanah loss, tanah tuf, dan tanah pasir di gurun.
  • Batuan sedimen glasial : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan es/gletser. Contoh : moraine.
  • Batuan sedimen aquatic : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan air. Contoh : breksi, konglomerat, batu pasir.
  • Batuan sedimen marine : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan air laut.

Berdasarkan tempat pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi sebagai berikut :

  • Batuan sedimen teristis : batuan sedimen yang diendapkan di darat.
  • Batuan sedimen limnis atau lakustre : batuan sedimen yang diendapkan di danau. Contoh : tuff danau dan tanah liat danau
  • Batuan sedimen marine atau continental : batuan sedimen yang diendapkan di laut. Contoh tanah loss, tanah merah, dan tanah gurun pasir.
  • Batuan sedimen fluvial : batuan sedimen yang diendapkan di sungai.
  • Batuan sedimen glacial : batuan sedimen yang diendapakan di tempat yang terdapat es atau salju.

Berdasarkan cara pengendapannya, batuan sedimen di bedakan menjadi sebagai berikut :

  • Batuan sedimen klastis : batuan sedimen yang terbentuk dari pelapukan dan erosi dai jenis batuan lain yang kemudian molekulnya mengendap, bergabung dan mengeras menjadi satu. Contoh : breksi, batuan pasir.
  • Batuan sedimen kimia atau khemis : batuan sedimen yang terbentuk dari proses pelapukan kimiawi yang kemudian mengalami pemisahan molekul zat. Molkul zat yang terpisah kemudian bersatu dengan molekul zat lainnya, dan akhirnya terbentuklah batuan. Namun, ada yang mengatakan juga bahwa batuan sedimen khemis adalah larutan di dalam air dan langsung diendapkan.
  • Batuan sedimen organis : batuan sedimen yang terbentuk karena kumpulan jasad renik yang kemudian menjadi batuan. Namun ada juga yang mengatakan bahwa batuan sedimen organis adalah larutan di dalam air yang kemudian diambil oleh organisme, dan melalui organisme itu membentuk batuan endapan oranis.

Contoh Batuan Sedimen :

1)   Batu Konglomerat

Batu Konglomerat

Ciri : material kerikil-kerikil bulat, batu-batu dan pasir yang merekat satu sama lainnya

o  Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat

o  Kegunaan : untuk bahan bangunan

2)  Batu Pasir

Batu Pasir

Ciri : tersusun dari butiran-butiran pasir, warna abu-abu, kuning, merah

o  Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat

o  Kegunaan : sebagai material di dalam pembuatan gelas/kaca dan sbg kontruksi bangunan

3)  Batu Serpih

Batu Serpih

Ciri : lunak, baunya seperti tanah liat, butir-butir batuan halus, warna hijau, hitam, kuning, merah, abu-abu

o  Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas dan halus karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat

o  Kegunaan : sbg bahan bangunan

4)  Batu Gamping (kapur)

batu gamping

o  Ciri : agak lunak, warna putih keabu-abuan, membentuk gas karbon dioksida kalau ditetesi asam

o  Cara terbentuk : dari cangkang binatang lunak seperti siput, kerang, dan binatang laut yang telah mati. Rangkanya yang terbuat dari kapu tidak akan musnah, tapi memadat dan membentuk batu kapur

o  Kegunaan : sbg bahan baku semen

5)  Batu Breksi

Breksi

Ciri : gabungan pecahan-pecahan yang berasal dari letusan gunung berapi

o  Cara terbentuk : terbentuk katena bahan-bahan iini terlempar tinggi ke udara dan mengendap di suatu tempat

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan dan sbg bahan bangunan

 

6)  Stalaktit dan Stalagmit

stalagmit-dan-stalaktit

Ciri : kuning, coklat, krem, keemasan, putih

o  Cara terbentuk : Air yang larut di daerah karst akan masuk ke lobang-lobang (doline) kemudian turun ke gua dan menetes-netes dari atap gua ke dasar gua. Tetesan-tetesan air yang mengandung kapur yg lama kelamaan kapurnya membeku dan menumpuk sedikit demi sedikit lalu berubah jadi batuan kapur yang bentuknya runcing-runcing.

o  Kegunaan : sebagai keindahan alam (biasanya di gua-gua)

7)  Batu Lempung

batu Lempung

Ciri : Coklat, keemasan, coklat, merah, abu-abu

o  Cara terbentuk : lempung residu adalah sejenis lempung yang terbentuk karena proses pelapukan (alterasi) batuan beku dan ditemukan disekitar batuan induknya. Kemudian material lempung ini mengalami proses diagenesa sehingga membentuk batu lempung.

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan

  1. BATUAN METAMORF

Batuan Metamorf atau Batuan Malihan adalah batuan yang berasal dari batuan sedimen dan batuan beku yang mengalami perubahan karena panas dan tekanan

Jenis / Macam-macam Batuan Metamorf :

Berdasarkan faktor pembentuknya, batuan metamorf dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :

  • Batuan Metamorf Kontak

Proses pembentukan batuan metamorf kontak terjadi secara berurutan yang disebabkan oleh suhu yang tinggi akibat berdekatan dengan magma sehingga memanasi batuan di sekitarnya. Oleh karena itu, proses pembentukan batuan metamorf kontak ini terjadi pada daerah yang tidak begitu luas. Contoh batuan metamorf kontak antara lain batu marmer di Tulung Agung, dan batu bara di Bukit Barisan.

  • Batuan Metamorf Dinamo (metamorforfosis regional)

Batuan metamorf dinamo merupakan batuan yang terbentuk karena faktor tekanan dalam waktu yang lama. Contoh batuan ini adalah batu sabak.

  • Batuan Metamorf Kontak Pneumatalitis

Dalam perubahan batuan kontak dan batuan metamorf dinamo kadang – kadang terjadi penambahan bahan – bahan lain juga. Bahan tersebut dapat berupa gas, cair, maupun bendap padat. Bahan – bahan ini lalu mempengaruhi proses dan hasil perubahan batuan tersebut. Contohnya adalah kwarsa yang mengandung fluorium akan menjadi topaz (batu permata berwarna kuning.

Contoh Batuan Metamorf :

1)     Batuan Pualam atau Batu Marmer (dari batu gamping/kapur)

batu marmer

Ciri : campuran warna berbeda-beda, mempunyai pita-pita warna, kristal-kristalnya sedang sampai kasar, bila ditetesi asam akan mengeluarkan bunyi mendesah, keras dan mengkilap jika dipoles

o  Cara terbentuk : terbemtuk bila batu kapur mengalami perubahan suhu dan tekanan tinggi

o  Kegunaan : untuk membuat patung dan lantai/ubin

2)  Batuan Sabak

batu sabak

Ciri : abu-abu kehijau-hijauan dan hitam, dapat dibelah-belah menjadi lempeng-lempeng tipis

o  Cara terbentuk : terbentuk bila batu serpih kena suhu dan tekanan tinggi

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan, sbg batu tulis, sbg bahan bangunan, dan untuk membuat atap rumah (semacam genting)

3)   Batu Gneiss (ganes)

batu gneiss

Ciri : berwarna putih kebau-abuan, terdapat goresan-goresan yang tersusun dari minera-mineral, mempunyai bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut

o  Cara terbentuk : terbentuk pada saat batuan sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi.

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan

4)  Batu Sekis

batu sekis

Ciri : berwarna hitam, hijau dan ungu, mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilapdan terkadang ditemukan kristal garnet

o  Cara terbentuk : batuan metamorf regional yang terbentuk pada derajat metamorfosa tingkat menengah.

o  Kegunaan : sebagai sumber mika yang utama (satu komponen penting dalam pembuatan kondensator dan kapasitor dalam industri elektronika)

5)  Batu Kuarsit  

batu kuarsit

Ciri : berwarna Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah, sering berlapis-lapis dan dapat mengandung fosil, lebih keras dibanding gelas dan terdapat butiran sedang

o  Cara terbentuk : metamorfose dari batuan pasir, jika strukturnya tak mengalami perubahan dan masih menunjukan struktur aslinya. Kuarsit terbentuk akibat panas yang tinggi sehingga menyebabkan rekristalisasi kwarsa dan felsdpar.

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan, konstruksi jalan dan perbaikan

6)  Batu Milonit

batu Milonit

 

Ciri :  butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah, dan abu-abu, kehitaman, coklat, biru

o  Cara terbentuk : Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan

o  Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan

Mitologi Merapi

KODE : L1.SS.X2


Gunung Merapi hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.

Untuk memahami mitologi Gunung Merapi tidak bisa terlepas dari filosofi Kota Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pancernya. Kota ini terbelah oleh sumbu imajiner yang menghubungkan Laut Kidul, Parangkusumo – Panggung Krapyak – Kraton – Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi. Secara filosofis hal ini dibagi menjadi dua aspek, yaitu Jagat Alit dan Jagat Ageng.

Jagat alit, yang mengurai proses awal-akhir hidup dan kehidupan manusia dengan segala perilaku yang lurus sehingga terpahaminya hakekat hidup dan kehidupan manusia, digambarkan dengan planologi Kota Yogyakarta sebagai Kota Raja pada waktu itu. Planologi kota ini membujur dari selatan ke utara berawal dari Panggung Krapyak, berakhir di Tugu Pal Putih. Hal ini menekankan hubungan timbal balik antara Sang Pencipta dan manusia sebagai ciptaannnya (Sangkan Paraning Dumadi).

Dalam perjalanan hidupnya manusia tergoda oleh berbagai macam kenikmatan duniawi. Godaan tersebut dapat berupa wanita dan harta yang digambarkan dalam bentuk pasar Beringharjo. Adapun godaan akan kekuasaan digambarkan oleh komplek Kepatihan yang kesemuanya berada pada sisi kanan pada jalan lurus antara Kraton dan Tugu Pal Putih, sebagai lambang manusia yang dekat dengan pencipta-Nya (Manunggaling Kawula Gusti).

Jagat Ageng, yang mengurai tentang hidup dan kehidupan masyarakat, di mana sang pemimpin masyarakat siapapun dia senantiasa harus menjadikan hati nurani rakyat sebagai isteri pertama dan utamanya guna mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi masyarakat dilandasi dengan keteguhan dan kepercayaan bahwa hanya satu pencipta yang Maha Besar. Jagat Ageng ini digambarkan dengan garis imajiner dari Parangkusuma di Laut selatan – Karaton Yogyakarta – Gunung Merapi.

Gunung Merapi menduduki posisi penting dalam mitologi Jawa, diyakini sebagai pusat kerajaan mahluk halus, sebagai “swarga pangrantunan”, dalam alur perjalanan hidup yang digambarkan dengan sumbu imajiner dan garis spiritual kelanggengan yang menghubungkan Laut Kidul – Panggung krapyak – Karaton Yogyakarta – Tugu Pal Putih – Gunung Merapi. Simbol ini mempunyai makna tentang proses kehidupan manusia mulai dari lahir sampai menghadap kepada sang Maha Pencipta.

Menurut foklor yang diceritakan oleh Juru Kunci Merapi yang bernama R. Ng. Surakso Hargo atau sering disebut mbah Maridjan disebutkan bahwa konon Karaton Merapi ini dikuasai oleh Empu Rama dan Empu Permadi. Dahulu sebelum kehidupan manusia, keadaan dunia miring tidak stabil. Batara Guru memerintahkan kepada kedua Empu untuk membuat keris, sebagai pusaka tanah Jawa agar dunia stabil. Namun belum selesai keburu mengutus para Dewa untuk memindahkan G. Jamurdipa yang semula berada di Laut Selatan ke Pulau Jawa bagian tengah, utara Kota Yogyakarta (sekarang) dimana kedua Empu tersebut sedang mengerjakan tugasnya. Karena bersikeras berpegang pada “Sabda Pendhita Ratu” (satunya kata dan perbuatan) serta tidak mau memindahkan kegiatannya, maka terjadilah perang antara para Dewa dengan kedua Empu tadi yang akhirnya dimenangkan oleh kedua Empu tersebut.

Mendengar kekalahan para Dewa, Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untuk menghukum keduanya dengan meniup G. Jamurdipa sehingga terbang diterpa angin besar ke arah utara dan jatuh tepat di atas perapian dan mengubur mati Empu Rama dan Permadi. Namun sebenarnya dia tidak mati hanya berubah menjadi ujud yang lain dan akhirnya menguasai Kraton makhluk halus di tempat itu. Sejak itu arwahnya dipercaya untuk memimpin kerajaan di Gunung Merapi tersebut. Masyarakat Karaton Merapi adalah komunitas arwah mereka yang tatkala hidup didunia melakukan amal yang baik. Bagi mereka yang selalu melakukan amalan yang jelek arwahnya tidak bisa diterima dalam komunitas mahluk halus Karaton Merapi, biasanya terus “nglambrang” ke mana-mana lalu hinggap di batu besar, jembatan, jurang dsb menjadi penunggu tempat tersebut.

Menurut cerita rakyat yang lain yang juga diceritakan oleh mbah Maridjan: Konon pada masa kerajaan Mataram tepatnya pada pemerintahan Panembahan Senopati Pendiri Dinasti Mataram (1575-1601). Panembahan Senopati mempunyai kekasih yang bernama Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Laut Selatan. Ketika keduanya sedang memadu kasih dia diberi sebutir “endhog jagad” (telur dunia) untuk dimakan. Namun dinasehati oleh Ki Juru Mertani agar endog jagad tersebut jangan dimakan tapi diberikan saja kepada Ki Juru Taman. Setelah memakannya ternyata Juru Taman berubah menjadi raksasa, dengan wajah yang mengerikan. Kemudian Panembahan Senopati memerintahkan kepada si raksasa agar pergi ke G. Merapi dan diangkat menjadi Patih Karaton Merapi, dengan sebutan Kyai Sapujagad.

Sumber: A. Ferry T. Indratno, diolah dari beberapa dokumen tentang G. Merapi milik TeMBI
http://tembi.org/mataram/mataram04.htm

Keterangan Lukisan :

Pemantauan Kimia Gas

KODE : L1.SS.C12


PEMANTAUAN KIMIA GAS
Merapi merupakan gunungapi sangat aktif yang memiliki hembusan gas solfatara dan fumarata secara terus menerus. Sollfatara dan fumarola merupakan fenomena yang menunjukkan bahwa magma berada relatif dekat dengan permukaan. Gas gunungapi tersusun atas unsur utama H2O, dan lainnya seperti CO2, SO2, HCl serta komposisi gas minor seperti H2, N2,CH4. Gas vulkanik Merapi juga mempunyai komposisi utama sebagaimana tersebut di atas yaitu gas H2O sebagai gas utama dengan konsentrasi 90% mol pada keadaan normal dan 9% mol merupakan komposisi utama lainnya, sedangkan unsur minor gas dalam kadar rendah yaitu 1%mol.

Untuk memantau secara terus menerus dari jarak yang aman, gas dikur dengan Correlation Spectrophotometer ( COSPEC ). Konsep pengukuran COSPEC membandingkan spektrum sinar ultraviolet pada emisi gas vulkanik dengan database spektrum yang memiliki alat tersebut. Hasil pembandingan dapat mengetahui kandungan gas SO2 di dalam asap solfatara. Akhir-akhir ini telah dikembangkan alat ukur sejenis yang disebut Mini DOAS ( Differential Optical Absorption Spectrooscopy ). Spectrophotometer ini memeliki prinsip alat dan metode pengukuran yang mirip dengan COSPEC. Alat ini lebih kecil bentuknya, lebih portabel, peka dan efisien.

Perubahan relatif komposisi gas menunjukkan hubungan dengan perubahan aktivitas vulkanik. Pada saat terjadi peningkatan aktivitas, komposisi gas akan berubah dimana kadar gas H2) akan turun, sedangkan gas utama lain akan lebih dominan. Penurunan rasio CO.CO2, kemungkinan berkaitan dengan pergerakan magma ke permukaan. Rasio SO2/HCL, CO2/HCl dan H2S/HCl mempunyai kecenderungan yang sama dengan rasio CO2/H2O.

 

 

 pH Meter adalah sebuah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH ( derajat keasaman dan kebasaan ) cairan. Kaitannya dengan gunungapi, pengukuran derajat keasaman atau kebasaan dilakukan pada air danau kawah dan mata air panas sebagai gambaram pengaruh sif kimia. A pH meter is an electronic instrumental used to measure the pH (acidity or basicity) of a liquid/ Dealing with volcano observation, pH measurement is held in the crater lake water and hotspring representing chemical magmatic feature. Masker Gas ( Gas Masker ) Alat untuk melindungi manusia dari gas beracun ketika melakukan pengkuran gas gunungapi. Property for people protection from toxic gas when measuring volcano gases.

 

 

 

TILTMETER
Tiltmeter merupakan alat yang dirancang untuk mengukur perubahan permukaan bumi dalam akurasi tinggi secara horizontal. Kaitannya dengan pemantau gunungapi, ketika tekanan magma di bawah gunung api naik ke permukaan , tubuh gunungapi terungkit miring menjauhi sumber tekanan. Sebelum terjadi letusan , magma yang bergerak ke permukaan mengakibatkan kekosongan dapur magma dan menghasilkan perubahan ungkitan.
A Tiltmeter is an instrument designed to measure very small changes from the horizontal level, either on the ground or in structures.

 

CHEMICAL GAS MONITORING
Merapi possesses solfatara and fumarole indicating a shallow magmatic chamber. Volcanic gas normally consists of water vapor (H2)) as major component, carbon dioxide (C)2), sulfur dioxide (SO2) and hydrogen chloride (HCl) and the other ones such as : hydrogen (H2), Nitrogen(N2) and CH4 as minor components. Concentrations of H2) is 90% mol fraction in normal condition, 9% of another components and 1% mol fraction for the minor component.

A distance monitoring of volcanic gas is carried out by Correlation Spectrophometer (COSPEC) on the basis of comparing UV spectrum of gas emission to spectrum database belonging to COSPEC. The comparative result yield SO2 content of volcanic gas. The most recent gas detector is Mini DOAS ( Differential Optical Absorption Spectroscopy). The basic principle of DOAS is comparable to COSPEC.

Relative changing composition of gas elucidates volcanic activities. During increasing activity of Merapi, H2O composition tend to decline, whereas the other ones tend to incline. Decreasing CO/CO2 ratio indicate a magmatic rise to the surface. The SO2.HCl, CO2/HCl and H2S/HCl ratio tend to correspond to CO2/H2) ratio on character.


GEOKIMIA

Kimia Gas
Pengukuran Laju Emisi Gas SO2 dengan COSPEC

Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu komponen yang ada dalam gas vulkanik yang dimonitor emisinya untuk memantau aktivitas suatu gunungapi. Konsentrasi SO2 bervariasi antara 5% sampai 50% mol, dengan fluks yang bervariasi.

Monitorig emisi SO2 suatu gunungapi biasanya menggunakan Corelation Spectroscopy (COSPEC). Metoda ini telah digunakan lebih dari tiga puluh tahun terakhir. Pengukurannya dapat dilakukan dari jarak jauh, walau gunungapi pada kondisi sedang terjadi letusan, dan merupakan salah satu kegiatan utama dibidang vulkanologi. COSPEC mempunyai peran yang sangat penting dalam beberapa krisis dan letusan suatu gunungapi, seperti Merapi, Kilauea, St. Helens dan sebagainya. Data COSPEC juga digunakan sebagai dasar evaluasi emisi SO2 gunungapi ke atmosfer scara global dan gas lain (menggunakan estimasi proporsi relatif terhadap gas SO2.

COSPEC mengukur kolom SOdengan menggunakan pancaran sinar ultra violet (UV) sebagai sumber energinya. Sinar masuk ke dalam instrumen dan bergerak melalui serangkaian cermin, lensa, dan slit untuk mencapai detektor dan photo multiplier dimana sinar dirubah kedalam pulsa listrik dan amplifier. Jika gas ada di dalam instrumen, COSPEC mendeteksi sejumlah radiasi UV yang diserap oleh SO2. Biasanya pengukuran dengan COSPEC dilakukan pada tempat yang tetap (fix position), dengan menempatkan COSPEC pada tripot yang berotasi dan melakukan scanning diarea plume. Pengukuran biasanya dilakukan dari jarak jauh. Selain itu COSPEC juga dioperasikan diatas mobil atau boat, kemudian mobil berjalan melintasi dibawah plumme, jika tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil, COSPEC dioperasikan di atas helicopter, yang berarti membutuhkan biaya tambahan yang besar serta keterbatasan geografi, COSPEC tidak dapat digunakan dimana saja karena beratnya. Satu hal lagi yang merupakan kelemahan COSPEC adalah masalah perawatan dan perolehan suku cadang pengganti semakin meningkat kesulitannya.

Emisi Gas SO2

Gambar Skema pengukuran emisi gas SO2 dengan sistem DOAS dan aplikasinya di Gunung Merapi.

Di Gunung Merapi, pengukuran emisi gas SO2 dengan COSPEC telah dilakukan secara harian sejak tahun 1990. Metoda ini merupakan salah satu pemantauan jarak jauh berdasarkan geokimia yang telah banyak diaplikasikan di gunungapi lain di dunia. Dengan prinsip dan cara pengukuran yang sama dengan COSPEC, saat ini pengukuran emisi gas SO2 telah dikembangkan menggunakan DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy). Skema pengukuran emisi gas SO2 dengan sistem DOAS dan aplikasinya di Gunung Merapi disajikan pada gambar di atas.

Hasil pengukuran emisi gas SO2 di G. Merapi dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2006 disajikan pada gambar di bawah ini. Dari gambar tersebut dapat dinyatakan bahwa pada keadaan aktif normal Gunung Merapi melepaskan SO2 rata-rata sekitar 100 ton/hari dan emisi gas meningkat apabila terjadi peningkatan aktivitasnya. Pada erupsi Gunung Merapi tanggal 14 Juni 2006, emisi gas SO2 rata-rata mencapai 300 ton/hari. Hasil pengukuran emisi gas SO2 yang tinggi yang mengawali terjadinya erupsi gunungapi tercatat Gunungapi Etna and Asama volcano.

Gambar Hasil pengukuran emisi gas SO2 di G. Merapi tahun 1990-2007.

Gambar di atas menunjukkan bahwa secara garis besar emisi gas SO2 di G. Merapi meningkat pada saat tercatat adanya peningkatan aktivitas. Pada awal aktivitas G. Merapi, emisi gas SO2 menunjukkan tren meningkat secara tidak signifikan, tetapi saat aktivitas makin meningkat maka emisi SO2 meningkat tajam dan tercatat maksimum pada saat atau setelah terjadi erupsi. Prediksi erupsi berdasarkan emisi gas SO2 tidak sangat tepat tetapi diagnosa menunjukkan bahwa gunungapi memiliki potensi erupsi. Oleh karena itu, tren emisi gas SO2 digunakan sebagai data pendukung dalam evaluasi tingkat aktivitas gunungapi.

Pada erupsi G. Merapi Februari 1992, emisi gas SO2 rata-rata pada status “Normal” kurang dari 100 ton/hari (tahun 1991), kondisi ini menggambarkan bahwa proses pelepasan gas terhambat. Sejak September 1991 sampai Februari 1992 (status “Awas”) emisi gas meningkat tajam hingga 400 ton/hari. Tingginya jumlah pelepasan gas diduga akibat dari konduit telah terbuka. Selanjutnya emisi gas menunjukkan tren menurun hingga Bulan September 1992. Sehingga dapat dinyatakan bahwa selama episode erupsi G. Merapi Februari 1992, variasi emisi gas SO2 memiliki korelasi dengan tingkat aktivitasnya. Pada perioda erupsi November 1994, emisi gas SO2 pada status “Normal” sekitar 150 ton/hari demikian juga pada perioda Juni 1998 dan Januari 2001.

Gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 emisi gas SO2 rata-rata sekitar 100 ton/hari. Pada awal 2005, emisi gas menunjukkan peningkatan secara gradual sehingga emisi gas sekitar 150 ton/hari. Pada Januari-April 2006, emisi gas terus menunjukkan peningkatan (gambar di bawah) hingga menunjukkan rata-rata hampir 200 ton/hari. Sejak Mei 2006, emisi gas meningkat secara tajam hingga mencapai 300 ton/hari yang tercatat sebelum erupsi 14 Juni 2006. Pada saat terjadinya erupsi, pengukuran emisi gas tidak dapat dilakukan karena terhalang oleh abu vulkanik yang dilontarkan.

Gambar Emisi gas SO2 yang diukur dengan COSPEC dari Pos Pengamatan G. Merapi Jrakah.

 

Source : vsi.esdm.go.id

Pemantauan Visual

KODE : L1.SS.C11


PEMANTAUAN VISUAL
Pengamatan visual paling menarik dan penting di Gunungapi Merapi adalah pengamatan perubahan morfologi kubah lava karena memberikan informasi kemungkinan arah longsoran kubah dan besaran volume yang akan diluncurkan. Teknik pengamatan sederhana hanya memerlukan kamera dengan zoom secukupnya. Perubahan morfologi dan perkembangan nilai volume dilakukan dengan cara mengurutkan foto dari lokasi pengambilan yang sama. Foto ini kemudian diberi tanda yang mudah dilihat untuk pembanding dengan menggunakan skala dari satelit dan geometri tertentu sehingga volume kubah lava dapat dihitung.

VISUAL MONITORING
The most important and interesting in visual monitoring of the Merapi volcano is observation of morphological changing of lava dome. This information provides prediction of slope failure direction and volume of lava dome that might be collapsed. A conservative methodology is conducted by using a zooming camera taken from the selected locations in periodic time. Development of size and volume of lava dome by the time is compared to satelite imagery and then converted into mathematical calculation to figure out the volume of lava dome.

Pemantauan Deformasi

KODE : L1.SS.C13


PEMANTAUAN DEFORMASI
Deformasi bawah permukaan gunungapi memberikan petunjuk proses magma di bawah gunungapi yang dapat dijadikan indikator kemungkinan letusan gunungapi. Pemantauan deformasi di gunungapi Merapi, salah satunya menggunakan GPS ( Global Positioning System) dan EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengukur pertumbuhan kubah lava.

Teknologi GPS sangat baik digunakan untuk pemantauan deformasi gunungapi karena pengukuran GPS memberikan perubahan posisi titik pengukuran secara tiga dimensi dengan akurasi milimeter hingga centimeter, tidak terpengaruh kondisi perubahan cuaca, dapat dilakukan secara terus menetus selama 24 jam dan tidak memerlukan hubungan jarak pandang di antara titik-titik pengamatan dalam jaringan pengamatan GPS. Melalui pengukuran secara periodik pada garis vector yang sama, diharapkan besaran dan kecepatan perubahan karena deformasi tubuh gunungapi dapat diketahui.

EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengetahui deformasi yang dicerminkan oleh perubahan jarak antara alat ke reflektor yang dipasang di kawasan puncak untuk mengukur perubahan horisontal akibat deformasi. EDM membandingkan panjang gelombang cahaya beam yang dipantulkan reflektor dan dikonversikan untuk menghitung perpedaan jarak slope. Besaran dan arah perubahan jarak dikalkulasi terhadap masing-masing titik pada jaringan pengamatan.

Contoh EDP ( Electronic Distance Measurement )
edm-transit-time-measurement-reflector

 

Fungsi Dasar EDM. ( Basic Function of EDM )

 

DEFORMATION MONITORING
Ground surface deformation can give clue to processes at depth and is a reliable indicator of an impending eruption. The surface deformation monitoring at Merapi volcano utilize Global Positioning System (GPS) and Distance Electronic Measurement (EDM ) instruments to measure lava dome development.
The GPS technology is well suited for volcano deformation monitoring because its measurements can provide three-dimensional positions, potentially at milimeter to centimeter-level accuracy, independent of weather conditions, 24h/day. In addition, there is no requirement for intervisibility between stations within a GPS network and measurements can be made over relatively long distance. By repeatedly measuring the same baseline vector to accuracy commensurate to expected baseline component changes due to deformation, the rate of change in the baseline components can be reliably determined.

Electronic Distance Measurement measures horizontal distance changes due to deformation which employ a laser beam aimed of a reflector station. The instrument compares the waveform of the light beam going out with that the returning reflected beam and converts this difference to a slope distance, The magnitude and direction of the distance change are calculated for each station in the network.


DEFORMASI GUNUNGAPI MERAPI

DEFORMASI

Pengukuran deformasi G. Merapi dilakukan dengan menggunakan berbagai metoda antara lain pengukuran jarak dengan EDM (Electronics Distance Measurement), GPS (Global Positioning System) dan Telemetri Tiltmeter. Berikut ini dijelaskan masing-masing metoda pengukuran deformasi dengan contoh-contoh hasil yang telah dicapai.

EDM

Usaha untuk melihat deformasi yang terjadi terkait dengan erupsi dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan prinsip EDM. Pemantauan dengan sistem ini telah dilakukan sejak tahun 1980 menggunakan prisma-prisma reflektor permanen walaupun belum terlihat deformasi yang signifikan melebihi ralat sistem (Siswowidjoyo dkk, 1980).

Gambar Jaringan pengukuran EDM 1988-1991.Tampak keterangan deformasi total dalam kurun waktu tersebut pada setiap titik pengukuran.

Pada tahun 1988 kembali dilakukan survey EDM oleh Voight dkk yang didukung oleh USGS, USAID, dan VSI. Program ini dilakukan dengan survey jaringan trilaterasi di puncak dan pengukuran jarak miring dari pos pengamatan terhadap reflektor-reflektor permanen di puncak.

Berdasarkan obervasi selama beberapa tahun, terukur deformasi sebesar 1,1 m/th di sektor Selatan puncak yang berlangsung pada tahun 1990 dan 1991 sebagai prekursor erupsi Januari Februari 1992. Secara umum, deformasi puncak yang terjadi tidak simetris di setiap sektor namun dominan ke arah mendekati Utara-Selatan. Medan deformasi ini diinterpretasikan sebagai akibat migrasi ke atas sumber tekanan di bawah kawah sekitar kedalaman 1 km.

Berdasarkan obervasi selama beberapa tahun, terukur deformasi sebesar 1,1 m/th di sektor Selatan puncak yang berlangsung pada tahun 1990 dan 1991 sebagai prekursor erupsi Januari-Februari 1992. Secara umum, deformasi puncak yang terjadi tidak simetris di setiap sektor namun dominan ke arah mendekati Utara-Selatan. Medan deformasi ini diinterpretasikan sebagai akibat migrasi ke atas sumber tekanan di bawah kawah sekitar kedalaman 1 km.

Saat ini pemantauan deformasi menggunakan EDM hanya dilakukan pada pengukuran jarak miring reflektor-reflektor puncak terhadap pos-pos pengamatan. Berikut adalah gambar peta jaringan pemantauan EDM saat ini.

Gambar Peta jaringan pengukuran jarak miring dengan EDM 2003-2007.

Pasca erupsi 1994, data deformasi EDM tetap menunjukkan prekursor yang jelas menjelang beberapa siklus erupsi seperti erupsi 2001 dan 2006. Pada erupsi 2006, indikasi adanya peningkatan tekanan terbaca sejak tanggal 14 Februari 2003, dimana terjadi peningkatan kelajuan deformasi yang berlanjut sampai menjelang munculnya kubah lava dan turun secara drastis saat magma mulai keluar di permukaan puncak. Seperti halnya yang terjadi pada erupsi 1992, deformasi tidak terjadi merata secara radial terhadap kubah lava. Menjelang erupsi 2006, deformasi nampak dominan ke arah Selatan – Tenggara diikuti yang ke arah Barat Daya sedangkan deformasi ke arah Utara sangat kecil dibandingkan dengan arah pengukuran yang lain.

GPS

Penyelidikan deformasi puncak menggunakan GPS telah dilakukan sejak tahun 1993 oleh Beauducel dkk bekerjasama dengan Perancis. Metode pengukuran memiliki beberapa karakteristik meliputi penggunaan receiver portable dual-frequency, baselines yang pendek (<500m), prosesing kinematic/rapid-static, adjustment gabungan antara kinematik dan statik, dan prosesing otomatis.

Gambar Lintasan pengukuran GPS kinematik (kiri) dan titik-titik referensi pengukuran statik.

 

Dari tahun 1993 sampai 2006, jaringan pengukuran GPS relatif tidak ado perubahan yang berarti. Gambar 1 memperlihatkan lintasan pengukuran GPS dengan kinematik dan titik-titik referensi. Survey GPS tahun 2006 memperlihatkan adanya perubahan pola deformasi yang mencerminkan dinamika tekanan menjelang erupsi dan setelahnya. Vektor deformasi yang nampak di sebagian besar titik pengukuran periode September 2005 sampai dengan Maret 2006 menunjukkan pola radial yang seragam sehingga apabila di potongkan akan nampak adanya pemusatan tekanan.

Hal ini mencerminkan sumber tekanan yang sangat dekat dengan permukaan puncak. Setelah erupsi, tampak vektor deformasi lebih acak dengan magnitudo yang jauh lebih kecil. Ini menunjukkan sumber tekanan yang lemah dan menyebar.

Gambar Vektor-vektor deformasi periode September 2005 s/d Maret 2006 (kiri), dan periode Maret sampai dengan November 2006.

Telemetri Tiltmeter

Monitoring kemiringan permukaan secara elekronis telah dimulai sejak 1990. Pemantauan lebih intensif dan kontinu dilakukan bekerjasama dengan USGS dan Penn State Unv (Young, 1994). Ilmuwan Jepang juga memasang beberapa platform Tiltmeter diikuti oleh ilmuwan Jerman (Rebscher, 1997) dan Perancis (Beauducel dan Cornet, 2000). Gambar di bawah ini memperlihatkan peta jaringan monitoring Tiltmeter 1992 – 1998 kerjasama VSI, USGS dan Penn State Unv. Sensor yang digunakan adalah tipe Applied geomechanics model 800 untuk di puncak dengan resolusi 2,6 µrad/mV, dan model 701 dengan resolusi 0,1 µrad/mV untuk di lereng.

Gambar Peta jaringan monitoring Tiltmeter G. Merapi 1992 – 1998
Gambar Grafik jarak miring yang terukur dari Pos Babadan terhadap sektor Barat Daya G. Merapi. Tampak peningkatan laju pemendekan jarak dua tahun setelah erupsi 2001.

Di antara sensor Tiltmeter yang terpasang, yang memberikan informasi deformasi paling dominan adalah sensor yang berada di puncak T3 sektor Barat Daya. Pada tahun 1997 teramati laju kemiringan pada orde 200 µrad/hari, sedangkan pada tahun 1998 meningkat menjadi 5000 µrad/hari (gambar di atas). Hal ini selain mencerminkan intensitas tekanan yang tinggi namun juga menunjukkan tubuh batuan tempat kedudukan sensor yang mulai lepas terhadap batuan induknya. Secara umum, inflasi yang terjadi yang ditunjukkan Tiltmeter ini terkait dengan pertumbuhan kubah lava, sedangkan deflasi terkait dengan runtuhnya material kubah lava (Voight dkk, 2000). Pada erupsi 2006 sensor Tiltmeter yang dipasang di puncak tepatnya di Lava 1957 memberikan prekursor yang cukup jelas. Sejak awal tahun 2006 sudah tampak adanya inflasi meskipun dengan laju yang rendah, sekitar 19 µrad/hari. Setelah itu menjelang munculnya kubah lava laju inflasi menjadi meningkat drastic mencapai 375 µrad/hari (komponen radial). Perubahan kemiringan radial terhadap kubah lava dam kemiringan arah tangensial dari waktu ke waktu menjelang munculnya kubah lava dan teramati nya kubah lava dipermukaan disajikan pada gambar berikut.

Gambar Grafik perubahan kemiringan yang terukur oleh sensor Tiltmeter yang dipasang di lava 1957 puncak G. Merapi. Lingkaran merah adalah kemiringan arah radial terhadao kubah lava, sedangkan lingkaran biru kemiringan arah tengensial.

 

Source : vsi.esdm.go.id