Mitos Merapi Nyai Gandung Melati

KODE : L1.SS.D2


GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.

Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.

Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.

Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Hubungan Keraton mataram dan Merapi

Alkisah, sesaat setelah merapat di bibir pantai Parang Kusumo, Panembahan Senopati diberi tanda mata cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad (telor). Di tempat itu pula, sekali lagi kesungguhan dan kesetiaannya diuji. Dan satu lagi yang musti diingat, segera makan endhog ini, ujar nyai rara kidul ” berpesan sebelum hilang dari pandangan dan kembali keasalnya.

Tertegunlah panembahan senopati dibuatnya. Namun tanpa dinyana. Ternyata dalam perjalanan pulang ia kepergok oleh sunan kalijogo yang sedari tadi secara diam diam mengamati kejadian ini. Atas nasehat sunan klijogo pula pendiri dinasti mataram ini lalu disarankan untuk mengurungkan niat memakan telor pemberian ratu pantai selatan tersebut, meski itu hanya sebagi sarana belaka. Karena telor tersebut, diduga hanya untuk mejebak sang penembahan.

Terbukti saat sesudah telor jagad tersebut ditelan secara tak sengaja oleh Ki Juru Taman , abdi dalem setia keraton, menndadak berubah wujud menjadi raksasa.

Menyaksikan pemandangan ini bukan main masgul hati sang penembahan. Ia hanya bisa membatin , ada benarnya juga ramalan sunan kalijogo tersebut. Bagaimana seandainya ia yang memakan telor tadi ”

Sudah seperti yang digariskan , perintah ku, jagalah puncak merapi kapan saja. Selamatkan rakyatku dari amuk merapi selamanya , ” demikian titah sang Penembahan Senopati kepada juru taman yang telah berubah menjadi raksasa, petinggi lelembut di gunung merapi. Abdi dalem inilah yang akhirnya nanti dikenal sebagai Kyai Sapu Jagad, penunggu merapi.

Labuhan Merapi

Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, keraton Jogja dan Surakarta diminta menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk benda benda sesaji untuk dipersembahkan kepadanya.

Sejak itulah, upacara labuhan merapi selalu dirayakan oleh masyarakat setempat dan Kesultanan Yogyakarta maupun Surakarta secara turun temurun tanpa mengurangi muatan sakralnya.

Di Yogyakarta benda benda untuk labuhan merapi terdiri dari 8 buah yang meliputi : sinjang cangkring , semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, dan kampuh poleng. Semua benda itu diarak dari keraton dan diserah terimakan melalui Bupati Sleman, Camat Cangdringan , dan kemudian dipasrahkan kepada Juru kunci Merapi Mas Ngabehi Suraksohargi (mbah Maridjan) untuk kemudian di labuh.Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, berupa hasil bumi berupa sayur mayur,sego gunung,dan yang pokok berupa kepala kerbau yang kemudian tepat pada malam satu suro pukul 00:00WIB di bawa ke puncak kawah merapi untuk dilarung.

Pengamatan Gunungapi Indonesia

KODE : L1.SB.D6,D7,D8


PEMERIKSAAN GUNUNGAPI ZAMAN BELANDA
– Ilustrasi Gunungapi Merapi oleh Jughhuhn 1835
– Ilustrasi Kubah Lava Gunungapi Merapi dilihat dari Gunungapi Merbabu oleh Junghuhn 1836
– Ilustrasi kubah lava Gunungapi Merapi oleh Jughhuhn 1836

SEJARAH PENGAMATAN GUNUNGAPI INDONESIA

1920
Setelah letusan Gunungapi Kelud di Jawa Timur tahun 1919 yang menewaskan lebih dari 5000 orang, pemerintah Hindia Belanda pada 16 September 1920 membentuk Vulkaan Bewakings Dients ( Dinas Penjagaan Gunungapi ) yang bertugas mengamati aktivitas Gunungapi.

1922
Diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek ( VO ).

1922-1941
Volcanologische Onderzoek membangun beberapa pos penjagaan gunungapi sejak tahun 1920 di beberapa tempat khususnya di Pulau Jawa; antara lain Pos Krakatau, Tangkuban Perahu, Papandayan, Kawah Kamojang, Kelud, Semeru, Kawah Ijen dan Merapi. Di Merapi dbangun 5 pos penjagaan gunungapi, yaitu Maron, Krinjing, Babadan, Plawangan dan Ngepos. Sejak tahun 1939 VO mulai dikenal secara international sebagai Volcanological Survey.

1942-1945
Pada saat pendudukan Jepang, kegiatan penjagaan gunungapi ditangani ooleh sebuah badan yang disebut Kazan Chosabu.

1945
Setelah Indonesia merdeka dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah Jawatan Pertambangan.

1966
Menjadi Urusan Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi.

1976
Berubah menjadi Sub Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.

1978
Menjadi Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan .dan Energi.

1984
Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral, Departmen Pertambangan dan Energi.

2001
Sejak 2001 berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan sumber Daya Mineral Nomor 1915 tahun 2001, penanganan mitigasi bencana gunungapi, gerakan tanah, gempa bumi dan tsunami, erosi dan sedimentasi ditangani oleh Direktoral Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

2005
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.0030 Tahun 2005 mengubah Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di bawah Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

 

 

MILESTONE OF VULCANO MONITORING IN INDONESIA

1920
After Kelud eruption in 1919 killed more than 5000 peoople, the Netherlands Indies government on 16 September 1920 established “Vulkaan Bewakings Dients” ( Vulcano Monitoring Bureau) that handle monitoring for volcanic activities.

1922
Volcanologische Onderzoek (VO) instead of Vukjaan Bewakings Dients.

1922-1941
Vulcanologische Onderzoek has constructed several volcano observatory posts in Java since 1920, such as Krakatau, Tangkuban Perahu, Papandayan, Kawah Kamojang, Kelud, Semeru, Kawah Ijen and Merapi. Around Merapi volcano there were 5 observatory posts constructed, namely Maron, Krinjing, Babadan, Plawangan and Ngepos. Since 1939, VO was recognized internationally as Volcanological Survey.

1942-1945
During Japanese colony, volcanic activities task was handled by Kazan Chosabu.

1945
After Indonesia Independency, Indonesian Government established Volcanological Survey under Mines Bureau.

1966
The Division of Volcanology subtituted the Volcanological survey under Directorate of Geology.

1976
The Division of Volcanology was changed to Sub Directorate of Volcanology under Directorate of Geology, Ministry of Mines.

1978
Establishing the Directorate of Volcanology under General Directorate of Mines, Ministry of Mines and Energy.

1984
Directorate of Volcanology under General Directorate of Geology and Mineral Resources, Ministry of Mines and Energy.

2001
According to the Regulation oof Ministry of Energy and Mineral Resources Number 1915, 2001, mitigation of volcanic hazard, landslide, earthquake and tsunami, erosion and sedimentation were the responsibility of The Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation.

2005
According to the Regulation of Ministry of Energy and Mineral Resources Number 0030, 2005 Directorate of Volcanology and Geological Hazard Mitigation changed to be the Center of Volcanology and Geological Hazard Mitigation.

Pertumbuhan Kubah Merapi

KODE : L1.SU.C5


Menampilkan panorama puncak Merapi dari tahun 1786 hingga tahun 2007