Tipe Letusan Plinian

KODE : L1.SU.B14


Letusan tipe Plinian merupakan tipe letusan gunungapi yang berawal dari Letusan Gunungapi Vesuvius tahun 79 Masehi berdasarkan cerita Pliny the Younger. Tipe letusan ini merupakan letusan yang paling dahsyat di antara tipe letusan gunungapi lainnya. Sering terjadi secara tiba-tiba setelah mengalami masa istirahat yang sangat panjang.

Letusan tipe Plinian terjadi ketika magma yang sangat kental dengan kandungan gas tinggi menyemburkan material letusan hingga mencapai stratosfir dan menyebabkan perubahan iklim secara global, seperti pada kejadian letusan Tambora tahun 1815. Abu letusan, aliran abu dan aliran piroklastika ( nuees ardentes ) sangat dominan dalam tipe letusan ini. Lava terbentuk pada fase akhir letusan.

Letusan dapat berlangsung sangat singkat, kurang dari 1hari, atau beberapa hari hingga bulan. Letusan yang berlangsung lama dimulai dengan pembentukan letusan abu dan disertai aliran piroklastika. Karena volume magma yang dikeluarkan sangat besar, tubuh gunungapi bagian atas runtuh sehingga membentuk kaldera ( kawah besar dengan diameter lebih dari 2km). Abu letusan dapat menyebar hingga daerah yang sangat luas. Letusan ini sering disertai suara letusan yang sangat keras, seperti kejadian letusan Krakatau tahun 1883.

Beberapa letusan gunungapi yang memiliki karakteristik sama dengan tipe Plinian, di antaranya adalah Krakatau, Indonesia tahun 1883; St. Helens ( fase letusan lanjutan setelah letusan tipe Pelean), Amerika tahun 1980; Tambora, Indonesia tahun 1815; Tarumae, Jepang tahun 1739; Santorini, Yunani tahun 1645 sebelum Masehi; Crater Lake tahun 4860 Sebelum Masehi.

Ciri-Ciri Letusan Plinian :

  1.  Tekanan gas sangat kuat
  2. Lavanya cair
  3. Melemparkan/membobol kepundan
  4. Membentuk kaldera
  5. Letusan hingga ketinggian 80 km

Plinian eruptions are marked by their similarity to the eruption of Mount Vesuvius in AD 79 as described in a letter written by Pliny the Younger. Plinian eruptions are probably the most explosive and powerfull of all. They often start suddenly and unexpectedly after a long quiet period.
Plinian eruptions occur when on utmost viscous magma containing a lot of gas exploded in the dept of the volcano and blew out volcanic material very high into the stratosphere. This, may result in climate changes, such as during the 1815 eruption of Tambor. Ashfalls, ashflows and pyroclastic flows ( nuees ardentes ) predominote. Lava flows may be emitted as the eruption ends.
Short eruptions may lost less than a day. Longer events may take several days to months. The longer eruptions began with production of clouds of volcanic asg, accompanied by pyroclastic flows. The amount of magma erupted can be so large that the top of the volcano may cllapse, resulting in a caldera formation. Fire ash deposit can be distributed over large areas. Plinian eruptions are often accompanied by loud noise, such as of Krakatau in 1883.
The examples of large Plinian eruptions resulting in formation of a caldera are the 1815 eruption of Mount Tambora and 1883 Krakatau eruption in Indonesia; the 1980 eruuption of Mount St.Helens ( initiated by Pelean and then presecuted by Plinian eruption ); the 1645 & 1739 eruptions of Mount Termos in Japan, also from Santorini in Greece which erupted in the 4860 BC that formed the Crater Lake and the 1645 BC eruption.

Tipe Letusan Vulcanian

KODE : L1.SU.B13


Terminologi letusan tipe Vulcanian pertama kali dikemukakan Giuseppe Mercalli, yang menyaksikan suatu letsan di Pulau Vulcano pada tahun 1888-1890. Letusan tipe Vulcanian biasanya dimulai dengan letusan freatomagmatik yang menghasilkan suara dentuman sangat keras sebagai akibat terjadinya iteraksi magma dan air di bawah permukaan. Tipe ini biasanya diikuti dengan letusan besar melalui lubang kepundan dan kolam letusan berwarna gelap yang melemparkan material letusan campuran antara material tua yang terbongkar dengan materialmagmatik. Kolom letusan selanjutnya berubah warna menjadi abu-abu muda seperti kolom letusan tipe Plinian. Fase letusan ini disertai dengan pembentukan lava kental yang mengandung gas dan menghasilkan abu gunungapi, dan aliran piroklastika. Contoh tipe letusan ini pernah terjadi pada letusan gungapi Fuege di Guatemala 1944, Agustine di Alaska 1976, dan Sankurajima di Jepang 1985.
Material letusan tersebut tersebar dalam kawasan yang lebih luas dibandingkan dengan tipe letusan Hawaiian dan Strombolian. Batuan piroklastik dan surge membentuk kerucut gunungapi, sedangkan abu letusan menutupi kawasan yang cukup luas. Fase akhir letusan ditandai dengan keluarnya lelehan lava. Tipe letusan ini mampu melemparkan blok batuan ukuran beberapa meter sejauh ratusan meter hingga beberapa kilometer. letusan tipe Vulcanian dapat mengancam keselamatan manusia dalam jarak ratusan meter dari pusat letusan. Salahh satu ciri utama tipe letusan ini adalah terbentuknya bom kerak roti dengan ukuran 2-3 m.

Ciri-ciri Letusan Tipe Vulcanian :

  1.  Mengeluarkan material padat seperti bom, abu, lapili, dan material cair
  2. Awan dan debu membentuk bunga kol
  3. Tekanan gas gas sedang
  4. Lavanya agak cair

Contoh Letusan Tipe Vulcanian :

  1. Tipe vulkano kuat : G. Vesuvius dan G. Etna
  2. Tipe vulkano sedang : Gunung kelud dan G. Anak Bromo
  3. Tipe vulkano lemah : Gunung Bromo dan Gunung Raung

 

The term Vulcanian was first used by Giuseppe Mercalli, witnessng the 1988-1890 eruptions on the island of Volcano. Vulcanian eruptions ussually commence with phreatomagmatic eruptions which can be extremely noisy due to the rising magma heating water in the ground. This is ussually followed by the explosive throat clearing of the vent and the eruption coloumn is dirty grey to black as old weathered rocks are blasted out of the vent. As the vent is clear, further ash clouds become grey-white and creamy in colour, with convulations of the ash similar to those of Plinian eruptions. This phase is followed with production of viscous lava containing high amounts of gas, glassy volcanic ash and pyroclastic flows. Examples of the eruptions are Fuego in Guatemala 1944, Augustine in Alaska 1976 and Sakurajima volcano in Japan 1985.
The tephra is dispersed over wider areas that from effusive Hawaiian or Strombolian-eruptions. The pyroclastic rock and the base surge deposits form an ash volcanic cone, while the ash covers a large surrounding area. The eruption ends with a flow of vicous lava. Vulcanian eruptions may throw large meter-size blocks several hundred meters, occasionally up to several kilometers. Vuulcanian eruptions are dangerous to people within several hundred meters from the vent. One of typical characteristics of this eruption type is the breadcrust bomb. These can blocks often 2 to 3 meters in dimension.

Tipe Letusan Strombolian

KODE : L1.SU.B12


Letusan tipe Strombolian merupakan tipe letusan gunungapi berenergi rendah yang diadopsi dari letusan Gunungapi Stromboli di Italia. Letusan Gunungapi Stromboli menyemburkan material pijar berupa lapili dan bom lava beberap meter hingga ratusan meter ke udara. Volume material letusan kecil hingga sedang dengan kekuatan letusan yang sporadis.
Material letusan berwarna merah ketika tersemburkan dari kawah tetapi menjadi kehitaman ketika mulai mengalami pendinginan dan menjadi batuan padat. Material letusan terakumulasi di sekitar pusat letusan dan membentuk kerucut sinder, Lava Basaltik mengalir dalam jarak yang cukup pendek dan tebal seperti yang terjadi pada letusan tipe Hawaiian, letusan tipe Strombolian tidak menghaslkan aliran piroklastika.
Kandungan gas berbentuk gelembung, yang dinamakan stug berkembang menjadi besar dan muncul melalui pipda kepunden dan menyembur di permukaan sehingga tekanannya menjadi berkurang. Setiap letusan selalu mengeluarkan gas gunungapi, kadang-kadang selama beberapa menit. Gas slug dapat terbentuk pada kedalaman 3 km sehingga sulit diprediksi.
Aktifitas letusan tipe Strombolan berlangsung cukup lama karena sistem kepunden tidak dipengaruhi oleh aktifitas letusan sehingga letusan dapat terjadi berulang-ulang. Sebagai contoh, letusan Gu release volcanic gases, sometimenungapi Paricutin yang berlangsung secara menerus antara tahun 1943-1952. Letusan tipe Strombolian di Gunungapi Erebus, Antartika berlangsung selama beberapa dekade. Sementara itu, letusan di Gunungapi Stromboli berlangsung ribuan tahun.

Ciri-ciri Tipe Letusan Strombolian :

  1. Memuntahkan material bom, lapili, dan abu
  2. Letusan terjadi pada interval waktu yang sama
  3. Tekanan gas rendah
  4. Magmanya sangat cair

 

Strombolian eruptions are relatively low-level volcanic eruptions. This type of eruption was named after the Italian volcano named Stromboli. These eruptions consist of ejection of incandecent cinder, lapili and lava bombs to altritudes of tens to hundreds of meters. They are small to medium in volume, with sporadic scale of eruption.
The tephra typically glows red when it is thrown from the vent, but as it surface cools, it become dark to black colour when it solidify. The tephra accumulations in the vicinity of the vent, forming a cinder cone. The basaltic lava flows down in a shorter distance and become thicker, than the corresponding Hawaiian eruptions: it may or may not be accompanied by production of pyroclastic rock.
The gas coalesces into bubbles, called slugs, and grow large enough to rise through the magma coloumn, bursing near the top due to decrase in pressure and throwing magma into the air. Each episode thus releases volcanic gases, sometimes as frequently as a few minutes apart. Gas slug can form as deep as 3 kilometers, therefore it is difficult to predict.
Strombolian eruptive activity can be very long-lasting because the conduit system is not affected by eruptive activity, so that the eruption can repeatedly occur. For example, the Paricutin volcano erupted continuously between 11943-1952. Mount Erebus, Antarticua has produced Strombolian eruptions for at least many decades, and Strombolo itself has been producing Stromboloan eruptions dor several thousand years.

Pengaruh Letusan Gunungapi Terhadap Perubahan Iklim

KODE : L1.SB.D4


Gunung berapi memancarkan aerosol sulfat yang memantulkan sinar matahari yang masuk, mendinginkan planet ini. Sebuah letusan gunung berapi besar seperti letusan Pinatubo pada tahun 1991 dapat memiliki efek pendinginan global dari 0,1 ° -0.3 ° C selama beberapa tahun Robock 1994 , Zielinski 2000 ).

Namun, mega-letusan atau serangkaian letusan dapat memiliki efek pendinginan yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk beristirahat, memberikan efek pemanasan yang dapat dirasakan. Zielinski 2000 mempelajari gunung yang meletus di masa lalu, khususnya selama beberapa abad terakhir:

Gambar 1: Perturbasi di kedalaman optik rata-rata tahunan dari letusan gunung berapi

Zielinksi menyimpulkan “tidak adanya vulkanisme climatically efektif pada tahun 1920 periode sampai awal 1950-an tidak diragukan lagi mengkontribusikan kondisi hangat keseluruh wilayah selama dekade-dekade.” Zielinski 2000 ).

Hal ini ditegaskan oleh Hegerl 2003 yang menemukan:

“Awal pemanasan abad ke-20 ini disebabkan gabungan dari pemanasan rumah kaca, kontribusi pasti dari matahari memaksa, dan pemulihan dari periode sebelumnya dari vulkanisme berat”

Demikian pula, Bertrand 1999 menemukan:

“Kurangnya vulkanisme selama periode 1925-1960 dapat menjelaskan, setidaknya sebagian, untuk tren pemanasan yang diamati dalam periode ini”. Bertrand sedang menyelidiki efek dari pengaruh matahari dan vulkanik pada iklim dan menyimpulkan “ini jelas tidak cukup untuk menjelaskan observasi pemanasan abad ke-20 dan lebih khusus lagi tren pemanasan yang dimulai pada awal tahun 1970-an”.

Singkatnya, kurangnya aktivitas gunung berapi memiliki beberapa bagian dalam kenaikan suhu selama paruh pertama abad ke-20. Namun, telah memainkan bagian kecil dalam tren pemanasan global modern yang dimulai pada 1970-an. Foster dan Rahmstorf (2011)menggunakan pendekatan regresi linier berganda untuk menyaring efek dari aktivitas gunung berapi dan matahari, dan El Nino Southern Oscillation (ENSO ). Mereka menemukan bahwa aktivitas gunung berapi, yang diukur dengan aerosol Data ketebalan optik (AOD) hanya disebabkan antara 0,02 dan 0,04 ° C per dekade pemanasan dari tahun 1979 hingga 2010 (Tabel 1, Gambar 2), atau sekitar 0,06-0,12 ° C pemanasan permukaan dan troposfer yang lebih rendah, repsectively, sejak tahun 1979 (dari sekitar 0,5 ° C diamati pemanasan pada permukaan).

Tabel 1: Tren ° C / dekade komponen sinyal karena MEI, AOD dan TSI dalam regresi suhu global, untuk masing-masing dari lima catatan suhu 1979-2010. 

Gambar 2: Pengaruh faktor eksogen pada temperatur global untuk GISS (biru) dan data RSS (merah). (A) MEI; (B) AOD; (C) TSI.

Seperti Foster dan Rahmstorf, Lean dan Rind (2008) melakukan regresi linier berganda pada data suhu, dan menemukan bahwa meskipun aktivitas gunung berapi dapat mencapai sekitar 10% dari pemanasan global yang diamati 1979-2005, antara 1889 dan 2006 aktivitas gunung berapi memiliki efek pendinginan bersih kecil di suhu global. Dengan demikian gunung berapi belum menyebabkan pemanasan global jangka panjang selama abad yang lalu, dan dapat menjelaskan hanya sebagian kecil dari pemanasan selama 25 tahun terakhir.

Sejumlah penelitian telah menggunakan berbagai pendekatan statistik dan fisik untuk menentukan kontribusi gas rumah kaca dan efek lainnya terhadap pemanasan global yang diamati, seperti Foster & Rahmstorf dan Lean & Rind. Dan seperti studi tersebut, mereka menemukan bahwa gunung berapi memiliki kontribusi yang relatif kecil terhadap pemanasan global, dan pada kenyataannya, kemungkinan memiliki efek pendinginan bersih selama 50-65 tahun terakhir (Gambar 3)

 

 

Volcanoes emit sulfate aerosols which reflect incoming sunlight, cooling the planet. A large volcanic eruption such as the Pinatubo eruption in 1991 can have a global cooling effect of 0.1°–0.3°C for several years (Robock 1994Zielinski 2000).

However, mega-eruptions or a series of eruptions can have a cooling effect that take decades to wear off, giving a perceived warming effect. Zielinski 2000 studies past volcanoes, particularly over the past few centuries:

Figure 1: Perturbations in the mean annual optical depth from volcanic eruptions

Zielinksi concluded “the lack of any climatically effective volcanism in the period 1920s to early 1950s undoubtedly contributed to the overall warm conditions during those decades.” (Zielinski 2000).

This is confirmed by Hegerl 2003 who found:

“early 20th century warming is attributed to a composite of greenhouse warming, an uncertain contribution from solar forcing, and a recovery from a previous period of heavy volcanism”

Similarly, Bertrand 1999 found:

“the lack of volcanism during the period 1925-1960 could account, at least partly, for the observed warming trend in this period”. Bertrand was investigating the effect of solar and volcanic influence on climate and concluded “these are clearly not sufficient to explain the observed 20th century warming and more specifically the warming trend which started at the beginning of the 1970s”.

In short, a lack of volcanic activity had some part in temperature rise over the first half of the 20th century. However, it has played little part in the modern global warming trend that began in the 1970s.  Foster and Rahmstorf (2011) used a multiple linear regression approach to filter out the effects of volcanic and solar activity, and the El Niño Southern Oscillation (ENSO).  They found that volcanic activity, as measured by aerosol optical thickness data (AOD) has only caused between 0.02 and 0.04°C per decade warming from 1979 through 2010 (Table 1, Figure 2), or about 0.06 to 0.12°C warming of the surface and lower troposphere, repsectively, since 1979 (out of approximately 0.5°C observed surface warming).

Table 1: Trends in  °C/decade of the signal components due to MEI, AOD and TSI in the regression of global temperature, for each of the five temperature records from 1979 to 2010.

Figure 2: Influence of exogenous factors on global temperature for GISS (blue) and RSSdata (red). (a) MEI; (b) AOD; (c) TSI.

Like Foster and Rahmstorf, Lean and Rind (2008) performed a multiple linear regression on the temperature data, and found that although volcanic activity can account for about 10% of the observed global warming from 1979 to 2005, between 1889 and 2006 volcanic activity had a small net cooling effect on global temperatures.  Thus volcanoes have not caused the long-term global warming over the past century, and can explain only a small fraction of the warming over the past 25 years.

A number of studies have used a variety of statistical and physical approaches to determine the contribution of greenhouse gases and other effects to the observed global warming, like Foster & Rahmstorf and Lean & Rind.  And like those studies, they find that volcanoes have had a relatively small contribution to global warming, and in fact, likely have had a net cooling effect over the past 50-65 years (Figure 3).

Source : Link

Tipe Letusan Pelean

KODE : L1.SU.B11


Letusan Tipe Peleanmerupakan salah satu tipe letusan gunungapi. Penamaan tipe letusan ini berasal dari letusan Gunungapi Pelee tahun 1902. Tipe letusan ini menyerupai tipe Vulcanian dengan magma yang kental bertipe riolitik atau andesit. Ciri utama letusan tipe Pelean adalah terbentuknya aliran piroklastika. Pembentukan kubah lava adalah karakteristik lainnya.
Masa istirahat letusan tipe Pelean selama beberapa minggu dan mencapai puncak letusan dengan terbentuknya aliran piroklastika dan blast. Volume dan sebaran endapan rempah gunungapi tipe letusan ini lebih kecil dari letusan tipe Plinian dan Vulcanian. Magma yang kental selanjutnya membentuk kubah lava pada kepundan gunungapi. Kubah lava selanjtnya gugur membentuk aliran piroklastika. Siklus letusan biasanya berakhir dalam beberapa tahun. Dalam beberapa kejadian, tipe letusan ini dapat berlangsung menerus hingga beberapa dekade, seperti Gunungapi Santaguito.
Beberapa contoh letusan tipe Pelean adalah letusan Gunungapi Hibok-Hibok tahun 198-a951, Gunungap Lamington tahun 1951, Gunungapi Bezymianny tahun 1956, Mayan tahun 1968, dan St. Helen ( fase letusan awal) tahun 1980.

Ciri-ciri Letusan Pelean :

  1. Kekentalan magma hampir sama dengan tipe merapi
  2. Terdapat penyumbatan lava yang berbentuk jarum
  3. Tekanan gas cukup besar
  4. Letusan gas ke arah mendatar

Pelean type eruption was originated from the 1902 explosion of Mount Palee. It is similar to Vilcanican type with viscous magma, typically of rhyolitic or andesitic type. The most important characteristic of a Pelean eruption is the presence of a glowing avolanche of hit vulcanic ash, a pyroclastic flow. Formation of lava domes is another feature.
pelean eruptions are separated by decades when no activity is displayed. Emissions of ash begin a few weeks before the Pelean eruption. The climax develops when nuees ardentes and blast are formed. The tephra deposits have less volume than the corresponding Plinian and Vulcanian eruptions. The viscous magma then form domes in the vent. The dome may later collapse, resulting in flows of ash and hot blocks. The eruption cycle is ussually completed in few years, but in some cases may continue for decades, like in the case of Santguito.

Some other examples similarity to Pelean eruptions are the 1948-1951 eruption of Hibok-Hibok, the 1951 eruption of Mount Lamington, the 19956 eruption of Bezymianny, the 1968 eruption of Mayon Volcano and the 1980 eruption of Mounth St,Helens ( initial eruption stage )

Tipe Letusan Hawaian

KODE : L1.SU.B9


Tipe Hawaiian

Letusan tipe Hawaiian merupakan salah satu tipe letusan gunungapi yang mengeluarkan aliran lava dari kepundan dengan tekanan letusan yang rendah. Pada umumnya letusan tipe Hawaiian bersifat efusif dengan magma basalt berviskasitas rendah, sedikit kandungan gas, bertemperatur tinggi di sekitas kepundan, dan sedikit menghasilkan hotspot, seperti gunungapi Kilauea, meskipun terbentuk berada di sekitar zona penunjaman, seperti Medicine Lake di California, USA.

Letusan tipe Hawaiian dapat pula terjadi di sepanjang rekahan seperti letusan gunungapi Mauna Loa tahun 1950, atau pada kawah pusat seperti letusan di Kawah Kilauea Iki tahun 1959 yang menghasilkan lava air mancur setinggi 580 meter ( 1900 kaki ) dan membentuk kerucut gunungapi Pu’u Oo. Letusan lainnya terjadi di kawah Gunungapi Mihara, Izu Oshima, Jepang yang menyemburkan lava air mancur setinggi 300 meter atau lebih. Letusan yang berasal dari rekahan dapat menyemburkan lava dan menghasilkan aliran lava.

Letusan tipe Hawaiian biasanya dimulai dari pembentukan rekahan di bawah permukaan yang mengeluarkan magma pijar atau magma ar mancur. Lava dapat mengalir melalui rekahan dan membentuk lava ‘o’ dan atau Phoehoe. Letusan dari kawah pusat dapat membentuk gunungapi perisai dengan lereng landai, seperti Gunungapi Mauna Loa.

Ciri-ciri Letusan Tipe Hawaiian :

  1. Lava yang keluar sangat cair dan tipis
  2. Lava mengalir ke segala arah
  3. Membentuk tipe gunung api perisai
  4. Tekanan gas sangat ringan akan terlembar ke atas

 

A Hawaiian eruption is a type of volcanic eruption where lava flows from the vent in o relative gentle, low level eruption, so colled because it is characteristic of Hawaiian volcanoes. Typiically they are effusive eruption, with basaltic magma of low viscocity, low content of gases and high temperature of the vent. Very little amount of volcanic ash is produced. This type of eruption accurs most often an hotspot volcanoes such as Kilauea through it can occur near subduction zones ( e.g. Medicine Lake, California ).

Hawaiian eruptions may occur along fusture vent, such as during the eruption of Mauna Loa Volcano in 1950, or at the central vent, such as during the 1959 eruption in Kilauea Iki crater, which created a lava fountain 580 meters (1.900f) high and formed e 38 meters cone named Pu’u Oo and the 1986 eruption of Mount Mihara on Izu Oshima, Japan can sprut a fountain of lava to height of 300 meters or more. In fractures-type eruptions, lava spruts from a fracture on the volcano’s rilt zone and feeds lava streams that flow downlope.

Hawaiian eruptions usually start by formation of a crack in the ground from which a curtain of incandescent magma or several closely spaced magma mountain appear. The lava can over flow the fractures and form o and or Phoehoe style of flows. Eruptions from a central cone can form small lightly sloped shield volcanoes, for example the Mauna Loa.

Letusan Tipe Merapi

KODE : L1.SU.B10


Letupan tipe ini diambil dari letusan gunung Merapi. Tipe letusan ini biasanya terjadi pada gunung api tipe andesit yang berbentuk kerucut. Fragmen-fragmen guguran lava terbentuk ketika kubah lava tidak stabil pada gunung api.

Letusan tipe Merapi merupakan salah satu tipe letusan yang diadopsi dari Gunungapi Merapi di Indonesia. Dalam beberapa abad terakhir, rata-rata waktu jeda letusan Merapi yang tidak lebih dari 3,5 tahun menghasilkan perumbuhan kuubah lava yang tidak stabil yang pada akhirnya menghasilkan aliran proklastika guguran kubah lava dan. Tipe letusan ini umumnya terjadi pada gunungapi tipe andesit berbentuk kerucut.

Namun. Namun, sering pula terjadi pada letusan kubah lava berkomposisi asam. Fragmen-fragmen guguran lava berbetuk ketika kubah lava tidak stabil pada gunungap. Guguran yang terjadi dipengaruhi oleh gaya gravitasi atau dipicu oleh terusan terserah yang diawali oleh guguran gravitasional sehingga menghasilkan aliran piroklastika guguran. Karakteristik endapan aliran piroklastika dari tipe Merapi terdiri dari blek dan abu.

  1. Lava cair yang kental menyumbat mulut kawah
  2. Tekanan gas agak rendah
  3. Dapur magma relatif dangkal
  4. Tekanan gas memecahkan sumbatan lava
  5. Hasil pecahan tersebut menjadi ladu (gloedlwein)
  6. Terjadi awan panas (gloedlwolk) atau wedhus gembel

 

Gunung Merapi

Contoh letusan G. Merapi (2010)