Sabo Dam Penanggulangan Lahar Merapi

KODE : L1.SS.C17


Ilustrasi :

Sabo sendiri berasal dari bahasa Jepang, “sa” yang berarti pasir dan “bo” yang berarti pengendalian. Teknologi sabo ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970 sejak kedatangan Mr. Tomoaki Yokota, seorang tenaga ahli di bidang teknik sabo dari Jepang. Saat itu teknologi sabo  dipandang sebagai salah satu alternatif terbaik dalam rangka upaya penanggulangan bencana alam akibat erosi, aliran sedimen dan proses sedimentasi di Indonesia.

Sabo Dam merupakan terminologi umum untuk bangunan penahan, perlambatan dan penanggulangan aliran lahar di sepanjang sungai yang berpotensi terlanda lahar. Beberapa Sabo Dam seperti tanggul, cek dam dan konsolidasi dam telah dibangun di kawasan Gunungapi Merapi.

Sabo Dam is general term for structure that blocks, flattening or divert lahars flows along the river path that might be inundated by lahars. Several sabo dam structures such as existing dike, check dam and consolidation dame have been constructed around Merapi volcano.


Sabodam merupakan bangunan pengendali aliran debris atau lahar yang dibangun melintang pada  alur sungai. Prinsip kerja Bangunan Sabo adalah mengendalikan sedimen dengan cara menahan, menampung dan mengalirkan material / pasir yang terbawa oleh aliran dan meloloskan air ke hilir.

Selama masa kejadian banjir lahar pasca erupsi Merapi tahun 2010, sebanyak 77 unit sabodam yang ada di sungai – sungai lahar Merapi mengalami kerusakan atau bahkan hanyut terbawa aliran lahar (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak, 2011). Sebagian besar dugaan penyebab keruntuhan sabodam mengarah pada pondasinya yang memiliki konsep pondasi mengambang yaitu dibangun di dasar sungai tanpa pondasi yang mengikat ke dalam lapisan tanah keras dengan asumsi bahwa material dasar sungai daerah vulkanik yang didominasi pasir memiliki stabilitas dan daya dukung yang cukup baik sehingga cukup mampu mengikat bangunan untuk tetap pada posisi semula (tidak mengguling ataupun bergeser).

Sabodam dibangun dengan fungsi untuk mengendalikan sedimen dengan cara menahan, menampung dan  mengalirkan sedimen. Tata letak pembangunan sabodam di daerah gunungapi dilakukan pada daerah
produksi sedimen sampai dengan daerah pengendapan sedimen. Di daerah tersebut batuan dasar alur sungai sudah tertimbun endapan hasil letusan gunungapi, sehingga letaknya cukup dalam. Untuk itu pondasi sabodam dibuat mengambang dengan anggapan bahwa batuan pada pondasi tersebut memiliki karakteristik yang cukup keras.

Sabodam ini dibangun secara seri artinya bangunan yang satu mendukung bangunan lainnya, dengan jarak tertentu yang disyaratkan agar sabodam stabil dan aman dari gerusan lokal (VSTC, 1985).  Pola pengendalian aliran lahar (sabodam) memiliki perbedaan fungsi pada daerah yang berbeda-beda. Daerah Gunungapi berdasarkan pengendalian lahar dibedakan menjadi empat macam yaitu :

  1. daerah pengendapan lahar,
  2. daerah transportasi lahar,
  3. daerah sumber material lahar,
  4.  daerah puncak gunung.

Jenis-jenis bangunan Sabodam yang ada di Gunungapi Merapi berjumlah 264 buah dengan tipe yang berbeda-beda. Tipe yang berada untuk daerah sumber material lahar adalah Sabodam, dam konsolidasi, dan tanggul pengarah.

Daerah transportasi lahar memiliki tipe bangunan Sabodam, dam konsolidasi, normalisasi sungai, dan tanggul banjir. Kantong lahar, dam konsolidasi, tanggul banjir, gronsil, dan normalisasi sungai berada pada daerah pengendapan lahar.

Ilustrasi penampang sabo dam. (Sumber : Ditjen SDA)

Source : Moh. Dedi Munir* , Djudi
Balai Sabo, Kementerian PU, Sopalan, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta, 55282

Pos Pengamatan Gunungapi Merapi

KODE : L1.SS.C9


Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) merupakan prasarana sistem pengamatan gunungapi yang berlokasi di kawasan gunungapi. Di gunungapi Merapi terdapat 5 ( lima ) PGA, yaitu :

  • Pos Babadan di lereng barat laut
  • Jrakah dan Selo di lereng utara
  • Kaliurang di lereng selatan
  • Ngepos di lereng baratdaya

Pengamatan visual dan kegempaan melalui alat pencatat gempa ( seismograf ) untuk mengetahui perubahan aktifitas gunungapi dipantau secara menerus di Pos Pengamatan Gunungapi.
Selain itu, PGA dapat berfungsi sebagai salah satu pusat penyebaran informasi kegunungapian terhadap masyarakat di sekitarnya. Kegiatan pengamatan vsual, kegempaan dan sosialisasi yang dilakukan PGA dilaporkan ke Balai Penyelidikan dan Pengembangan Tekhnologi Kegunungapian (BPPTK) di Jogjakarta.

Volcano Observatory Post (VOP) is an infrastructure supporting the voclano monitoring system. There are 5 ( five ) VOP around Merapi voclano, consist of :
– Babadan in the Northwest
– Jrakah and Selo in the North
– Kaliurang in the South
– Ngepos Post in the Soutwest flank of Merapi volcano
The visual and seismic monitoring and socialization activities held in VOP is reported to BPPTK in Jogjakarta


FASILITAS DAN LAYANAN

Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi :

Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi berfungsi dalam pengembangan metoda, teknologi dan instrumentasi di bidang mitigasi dan bencana geologi meliputi pengembangan sistem transmisi data analog maupun digital, membuat program-program antarmuka (interface) dari berbagai peralatan instrumentasi yang disertai dengan pengembangan software sebagai perangkat lunak untuk pengoperasian sistem.

Laboratorium Geokimia :Laboratorium Geokimia memberikan layanan jasa analisis sampel-sampel gas, padatan, dan cairan, dalam konsentrasi major, minor, maupun trace-element. Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan instrumentasi yang modern dan metoda analisis berstandar nasional maupun internasional.

Laboratorium Petrografi :Sayatan tipis dan analisisnya dapat dilakukan di Laboratorium Petrografi BPPTK untuk mengetahui ragam dan jenis maupun komposisi mineral/kimia. Dari jenis atau komposisi batuan tersebut dapat dipelajari sifat-sifat batuan dan proses yang terjadi.

Perpustakaan : Sebagai suatu institusi di bidang kebumian khususnya di bidang vulkanologi dan mitigasi bencana geologi, BPPTK mempunyai sarana perpustakaan dengan berbagai macam buku pustaka kebumian. Koleksi perpustakaan selain berbagai buku, jurnal, bulletin dan majalah dari luar BPPTK, juga mengkoleksi seluruh publikasi dan laporan penyelidikan BPPTK. Koleksi buku yang tersedia mencakup teks book dibidang kebumian dan kebencaan, Jurnal kebumian internasional.

Pos Pengamatan Gunungapi : Untuk mengamati Merapi secara optimal, BPPTK dilengkapi dengan lima pos pengamatan yang terletak di sekeliling lereng Merapi. Beberapa pos pengamatan sudah berdiri sejak jaman kolonial Belanda seperti Pos Ngepos dan Pos Babadan.

Ruang Monitoring : BPPTK mempunyai ruangan pemantauan khusus yang berfungsi sebagai terminal penerima data dari stasiun pengamatan lapangan baik itu terletak di Merapi maupun gunungapi lainnya. Data yang masuk ke sini secara real-time dan kontinyu antara lain data pemantauan kegempaan, deformasi (tiltmeter), data pemantauan suhu dan data pemantauan gas.

PRODUK RANCANG BANGUN ISTRUMENTASI

Pemantauan merupakan ujung tombak mitigasi. Dengan pemantauan suatu fenomena maka prediksi ancaman bahaya alam dapat dibuat. Dalam pemantauan, penguasaan teknologi sangat diperlukan, dari sisi sistem instrumentasi itu sendiri maupun pengolahan data. Dengan adanya tuntutan kemandirian dan penguasaan teknologi sistem pemantauan tersebut maka BPPTK mencoba mengembangkannya. Beberapa produk yang telah dihasilkan antara lain:

Sistem Telemetri Laju Rendah (TLR) : Sistem TLR merupakan sistem pengiriman data yang dilakukan secara kontinyu dari jarak jauh dengan kecepatan pengiriman  berlaju rendah dalam orde menit. Sistem ini diterapkan untuk sensor-sensor suhu, tiltmeter, extensometer dan parameter lain yang hanya memerlukan sampling rendah. Semua sensor yang keluarannya sinyal elektrik analog dapat diadaptasikan pada sistem ini. Pengiriman data digital dari parameter-parameter tersebut di atas membantu mengetahui kondisi di lapangan secara online dengan interfal waktu tertentu. Modul pengirim dan penerima dari sistem TLR. Sistem ini dapat menerima masukan (input) 8 sensor analog dan 1sensor pembangkit pulsa, dan bekerja pada tegangan 7-15 volt dengan kondisi ideal pada tegangan 10-13 volt. Arus untuk sistem kontrol 27-35 mA, sedangkan arus radio (IC V8) pada saat Stand by sebesar 70 mA, Transmit 0,5 W 0,8 A (high), dan Transmit 5,5 W 2,0 A (low). Kecepatan modem pada sistem ini sebesar 300/bps, standart BEL 202.

Mobile Sistem TLR : Merupakan sistem akuisisi data TLR untuk pemantauan aktivitas gunungapi dengan sistem mobile, akses dan prosesing data dapat dilakukan dimana saja. Sistem yang berbasis protokol internet (IP) ini menjadi suatu sistem yang mempunyai fleksibilitas dan mobilitas tinggi. Data dari lapangan pemantauan diterima oleh Radio Modem/GSM Modem dan data dipancarkan kembali via GSM Modem dengan layanan SMS ke PVMBG. Sistem ini terdiri dari: Power, Sistem komputer, wireless LAN, Modem Radio, GPRS Modem, Web Cam.

Diskriminator : berfungsi sebagai demodulator untuk mengambil kembali sinyal gempa yang dimodulasi oleh VCO. Perangkat ini mampu mengkonversi perubahan frekuensi menjadi perubahan tegangan yang kemudian diumpankan pada unit rekorder. Diskriminator yang dihasilkan mempunyai center frekuensi 1700 Hz dan 2040 Hz dengan deviasi: 0,008 Volt/Hz dan Range: 1575 s.d 1825 Hz dan 1915 s.d 2165 Hz. Tegangan power yang dimiliki oleh alat ini sebesar ±12 Volt (tegangan ganda) dan Arus sebesar 50 mA.

Voltage Controlled Oscilator (VCO) : VCO berfungsi sebagai modulator (pembawa sinyal), yang mentransformasikan sinyal gempa dalam besaran tegangan listrik menjadi sinyal gempa dalam besaran frekuensi audio yang dapat dikirim melalui radio. Rangkaian VCO yang dikemas dalam casing yang berbentuk tabung memerlukan power sebesar 10 – 12,8 Vdc dengan konsumsi daya 230 mA 12 Vdc. Peralatan ini mempunyai frekuensi tengah dapat diatur pada 1020Hz, 1700Hz, 2040Hz dan 3060Hz.

Sensor Curah Hujan : Digunakan sebagai alat penakar intensitas curah hujan dengan sistem kerja penghitungan pulsa yang dihasilkan oleh sensor timbangan yang merupakan model dengan magnetik switch dengan kapasitas 0,5 mm per cacah. Perangkat ini dibuat dengan bahan plat aluminium yang mempunyai diameter15,5 cm.

Sensor Level Air : Sensor ini digunakan untuk mengetahui level air permukaan di dalam tanah dengan menghitung perubahan jarak suatu benda apung terhadap titik acuan. Perangkat yang membutuhkan power 5 Vdc ini mampu mendeteksi kedalaman air sampai dengan 50 meter, dengan ketelitian ukur 20 mVolt/ cm.

Sirine Peringatan Dini : Salah satu cara untuk menginformasikan ke masyarakat adanya bahaya yang diakibatkan oleh letusan Gunung Merapi, maka dibuat suatu sirine.  Sistem ini dikendalikan dari jarak jauh oleh saluran radio VHF. Intensitas pengeras suara sirine ini maksimum sebesar 110 db, dengan catu daya yang dibutuhkan sebesar 24 VDC. Sistem bekerja pada frekuensi respon 50-20000 Hz dengan sumber suara sirine merupakan rangkaian analog dengan frekuensi 500-6000 Hz dan radio pemancar 140-160 MHz.

Regulator Solar Panel : Untuk mengatur pengisian aki dari solar panel, yaitu menjaga kondisi accu agar tidak mendapat pasokan energi terlalu banyak. Apabila pasokan energi terlalu banyak maka konsentrasi air accu akan meningkat sehingga sell accu akan mudah mengalami kerusakan. Pengesetan regulator solar panel dilakukan pada tegangan aki minimum start pengisian sebesar 11,8 V DC dan maksimum stop pengisian 13,8 V DC, sedangkan besarnya tegangan maksimum solar panel adalah 18 V DC dan arus maksimum 5 Ampere.

Real time Seismic Amplitude Measurement (RSAM) : Kegempaan yang terjadi akibat adanya aktifitas suatu gunungapi merupakan salah satu parameter pemantaun yang sangat penting. Optimalisasi sistem pemantauan kegempaan terus dilakukan. Salah satu upaya optimalsisasi dalam pemantauan kegempaan adalah sistem pemantauan seismik secara RSAM. Data RSAM merupakan hasil integrasi data seismik yang telah disampling dengan kecepatan 60 data – 100 data perdetiknya. Data tersebut kemudian dirata-rata setiap 5 / 10 menit sekali dan kemudian disimpan dalam bentuk teks ke dalam hardisk / memory untuk kemudian dapat diinformasikan melalui layar komputer ataupun dapat dikirim secara jarak jauh melalui SMS. Bentuk data yang tersimpan dalam bentuk teks dapat dibuka menggunakan program spread sheet yang ada dipasaran. Komponen komponen yang terdiri dari filter, integrator, ADC,dan mikrokontroler 8 bit yang telah dirangkai menjadi rangkaian RSAM. Instalasi rangkaian RSAM pada seismograf kinemetrics PS-2 dengan kecepatan putar drum 120 mm/menit, dengan setting diskriminator pada frekuensi center 2040 Hz. Rangkaian sistem RSAM diinstal pada out dari diskriminator seismometer dan kemudian masuk ke komputer melalui serial port.

 

Dari kiri ke kanan: Gedung kantor BPPTK jl. Cendana 15 Yogyakarta, Pos Pengamatan Gunungapi Selo, Pos Pengamatan Gunungapi Babadan, Pos Pengamatan Gunungapi Jrakah, Pos pengamatan Gunungapi Kaliurang dan Pos Pengamatan Gunungapi Ngepos.

(1) Diskriminator berfungsi sebagai pemisah sinyal pembawa dan sinyal asli gempa pada telemetri seismic analog, (2) VCO-amplifier berfungsi sebagai penguat dan pembangkit sinyal frekuensi pada telemetri seismic analog, (3) RSAM adalah alat untuk melihat amplitude (energy) rata-rata gempa dalam waktu tertentu, (4) regulator solar panel untuk menyambung dan memutus arus dari solar panel ke accu, (5) penakar hujan digital, (6) timer digital untuk seismograf analog, (7) alat pengukur level air tanah, (8) akuisisi data dan pengirim dengan SMS, (9) Wachtdog listrik untuk menghidupkan computer secara otomatis, (10) seismometer digital suhu kawah, (11) radio modem penerima sinyal, (12) Mobile instrument untuk menerima dan mengontrol data lapangan, (13) data akuisisi dan pengirim lapangan, (14) ektensometer (modifikasi), (15) Mini Doas untuk mengukur konsentrasi gas SO2 (tahap experiment), (16) Recorder analog gempa (modifikasi).

 

Pemantauan kegempaan dengan telemetri seismik analog terdiri atas dua bagian yaitu sistem lapangan dan sistem penerima. Komponen utama sistem lapangan adalah seismometer (4) dan VCO-amplifier (5) yang berfungsi menguatkan sinyal dan merubah tegangan menjadi frekuensi yang akan ditumpangkan pada gelombang radio pembawa (6) dengan antena yagi (7). Adapun catu daya terdiri dari solar panel (1) dan regulator (2) untuk memutus dan menyambung arus dari aki (3) ke solar panel. Pada stasiun penerima sinyal akan diterima oleh radio receiver (a) yang kemudian diteruskan ke diskriminator (b). Dari sini sinyal dapat disalurkan langsung ke rekorder (seismograf) (d) atau disimpan dan ditampilkan secara digital di PC (e) dengan bantuan ADC (analog to digital converter) (c). 

Diagram umum stasiun lapangan (pengirim) dan stasiun penerima sistem TLR. Stasiun lapangan dapat memiliki delapan channel sensor laju rendah seperti tiltmeter (3), extensometer, curah hujan (6), suhu (5), level air dan lain sebagainya. Data dari berbagai sensor masuk ke sistem akuisisi (1) dan ditransmisikan melalui gelombang radio dengan frekuensi tertentu melalui antena pengirim (7). Seperti halnya pemantauan seismik di stasiun TLR catudayanya terdiri atas accu (2) , solar panel (4) dan regulator. Di stasiun penerima data diteruskan dari antena (a) ke modem (b) dan komputer ( c ) yang akan memisahkan, menata dan memformat data dalam bentuk digital yang kemudian disimpan sebagai database data pemantauan. Bila sistem TLR ditambah dengan modem GSM (4) maka data dapat dikirim dalam bentuk teks melalui fasilitas SMS. Data SMS ini bisa dikirim ke nomor-nomor HP yang telah diprogram yang dapat diterima dimana saja sepanjang masih ada sinyal telepon selular.

 

Mobile TLR dilengkapi dengan fasilitas modem GSM dirancang untuk memiliki aksesibilitas dan mempunyai fleksibilitas tinggi. Apabila stasiun lapangan juga terdapat modem GSM maka komunikasi antar stasiun dan penerima dapat dilakukan dimana saja sepanjang masih ada sinyal yang tertangkap. Dengan model pemantauan ini komunikasi dapat dilakukan antar mobile sistem itu sendiri, dengan pos pengamatan atau dengan stasiun lapangan langsung.

SOURCE LINK :  http://merapi.bgl.esdm.go.id/

Sejarah Letusan Merapi

KODE : L1.SS.C8


SEJARAH LETUSAN

Sejarah letusan G. Merapi secara tertulis mulai tercatat sejak awal masa kolonial Belanda sekitar abad ke-17. Letusan sebelumnya tidak tercatat secara jelas. Sedangkan letusan-letusan besar yang terjadi pada mas sebelum periode Merapi baru, hanya didasarkan pada penentuan waktu relatif. Secara umum, letusan G. Merapi dapat dirangkum sbb :

– Pada periode 3000 – 250 tahun yang lalu tercatat lebih kurang 33 kali letusan, dimana 7 diantaranya merupakan letusan besar. Dari data tersebut menunjukkan bahwa letusan besar terjadi sekali dalam 150-500 tahun (Andreastuti dkk, 2000).

– Pada periode Merapi baru telah terjadi beberapa kali letusan besar yaitu abad ke-19 (tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad ke-20, dimana awan panas mencapai 20 km dari puncak. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun (Newhall, 2000).

– Aktivitas Merapi pada abad ke-20 terjadi minimal 28 kali letusan, dimana letusan terbesar terjadi pada tahun 1931. Sudah ¾ abad tidak terjadi letusan besar.

Berdasarkan data yang tercatat sejak tahun 1600-an, G. Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam 4 tahun. Masa istirahat berkisar antara 1-18 tahun, artinya masa istirahat terpanjang yang pernah tercatat andalah 18 tahun. Secara umum, letusan Merapi pada abad ke-18 dan abab ke-19 masa istirahatnya relatif lebih panjang, sedangkan indeks letusannya lebih besar. Akan tetapi tidak bisa disimpulkan bahwa masa istirahat yang panjang, menentukan letusan yang akan datang relatif besar. Karena berdasarkan fakta, bahwa beberapa letusan besar, masa istirahatnya pendek. Atau sebaliknya pada saat mengalami istirahat panjang, letusan berikutnya ternyata kecil. Ada kemungkinan juga bahwa periode panjang letusan pada abad ke-18 dan abad ke-19 disebabkan banyak letusan kecil yang tidak tercatat dengan baik, karena kondisi saat itu. Jadi besar kecilnya letusan lebih tergantung pada sifat kimia magma dan sifat fisika magma. Diskripsi singkat letusan G. Merapi yang tercatat disajikan pada gambar di bawah ini. Gambar tersebut menunjukkan grafik statistik letusan G. Merapi sejak abad ke-18. Pada abad ke-18 dan ke-19, letusan G. Merapi umumnya relatif besar dibanding letusan pada abad ke-20, sedangkan masa istirahatnya lebih panjang.

Grafik statistik letusan G. Merapi sejak abad ke-18. Pada abad ke-18 dan ke-19, letusan G. Merapi umumnya relatif besar dibanding letusan pada abad ke-20, sedangkan masa istirahatnya lebih panjang.

Karakteristik Letusan

G. Merapi berbentuk sebuah kerucut gunungapi dengan komposisi magma basaltik andesit dengan kandungan silika (SiO2) berkisar antara 52 – 56 %. Morfologi bagian puncaknya dicirikan oleh kawah yang berbentuk tapal kuda, dimana di tengahnya tumbuh kubah lava.

Letusan G. Merapi dicirikan oleh keluarnya magma ke permukaan membentuk kubah lava di tengah kawah aktif di sekitar puncak. Munculnya lava baru biasanya disertai dengan pengrusakan lava lama yang menutup aliran sehingga terjadi guguran lava. Lava baru yang mencapai permukaan membetuk kubah yang bisa tumbuh membesar. Pertumbuhan kubah lava sebanding dengan laju aliran magma yang bervariasi hingga mencapai ratusan ribu meter kubik per hari. Kubah lava yang tumbuh di kawah dan membesar menyebabkan ketidakstabilan. Kubah lava yang tidak stabil posisinya dan didorong oleh tekanan gas dari dalam menyebabkan sebagian longsor sehingga terjadi awan panas. Awanpanas akan mengalir secara gravitasional menyusur lembah sungai dengan kecepatan 60-100 km/jam dan akan berhenti ketika energi geraknya habis. Inilah awan panas yang disebut Tipe Merapi yang menjadi ancaman bahaya yang utama.

Peta sebaran awanpanas G. Merapi yang terjadi sejak tahun 1911-2006

Dalam catatan sejarah, letusan G. Merapi pada umumnya tidak besar. Bila diukur berdasarkan indek letusan VEI (Volcano Explosivity Index) antara 1-3. Jarak luncur awanpanas berkisar antara 4-15 km. Pada abad ke-20, letusan terbesar terjadi pada tahun 1930 dengan indeks letusan VEI 3. Meskipun umumnya letusan Merapi tergolong kecil, tetapi berdasarkan bukti stratigrafi di lapangan ditemukan endapan awan panas yang diduga berasal dari letusan besar Merapi. Melihat ketebalan dan variasi sebarannya diperkirakan indeks letusannya VEI 4 dengan tipe letusan antara vulkanian hingga plinian. Letusan besar ini diperkirakan terjadi pada masa Merapi Muda, sekitar 3000 tahun yang lalu.

Sejak tahun 1768 sudah tercatat lebih dari 80 kali letusan. Diantara letusan tersebut, merupakan letusan besar (VEI ≥ 3) yaitu periode abad ke-19 (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 intensitas letusanya relatif lebih besar, sedangkan letusan abad ke-20 frekuensinya lebih sering. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun (Newhall, 2000). Letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awanpanas mencapai 15 Km.

Letusan G. Merapi sejak tahun 1872-1931 mengarah ke barat-barat laut. Tetapi sejak letusan besar tahun 1930-1931, arah letusan dominan ke barat daya samapi dengan letusan tahun 2001. Kecuali pada letusan tahun 1994, terjadi penyeimpangan ke arah selatan yaitu ke hulu K. Boyong, terletak antara bukit Turgo dan Plawangan. Erupsi terakhir pada tahun 2006, terjadi perubahan arah dari barat daya ke arah tenggara, dengan membentuk bukaan kawah yang mengarah ke Kali Gendol.

Gambar Letusan G. Merapi berupa luncuran awanpanas ke K. Gendol pada Juni 2006.

Letusan 2010

Peningkatan aktivitas mulai terlihat pada September 2010, dan pada tanggal 20 September 2010, Merapi dinaikkan statusnya menjadi ‘Waspada’ (Level II). Kenaikan status berdasarkan peningkatan aktivitas seismik, yaitu Gempa Fase Banyak dengan 38 kejadian/hari, Gempa Vulkanik 11 kejadian/hari, dan Gempa Guguran 3 kejadian/hari.

Pada 21 Oktober 2010 status Merapi kembali dinaikkan menjadi ‘Siaga’ (Level III). Kenaikan status juga berdasarkan peningkatan aktivitas seismik, yaitu Gempa Fase Banyak hingga 150 kejadian/hari, Gempa Vulkanik 17 kejadian/hari, dan Gempa Guguran 29 kejadian/hari, dan laju deformasi mencapai 17 cm/hari. Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana.

Pada 25 Oktober 2010 status Merapi ditetapkan ‘Awas’ (Level IV), dengan kondisi akan segera meletus, ataupun keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana setiap saat. Aktivitas yang teramati secara visual yaitu, tanpa kubah lava, tanpa api diam, dan tanpa lava pijar guguran-guguran besar. Sedangkan seismisitasnya meningkat menjadi 588 kejadian/hari Gempa Fase Banyak, 80 kejadian/hari Gempa Vulkanik, 194 kejadian/hari Gempa Guguran, dengan laju deformasi 42 cm/hari. Radius aman ditetapkan di luar 10 km dari puncak Merapi.

Pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB terjadi letusan pertama. Letusan bersifat eksplosif disertai dengan awanpanas dan dentuman. Hal ini berbeda dengan kejadian sebelumnya, yaitu letusan bersifat efusif dengan pembentukan kubah lava dan awanpasan guguran. Letusan yang terjadi pada 29 – 30 Oktober lebih bersifat eksplosif. Pada 3 November 2010 terjadi rentetan awanpanas yang di mulai pada pukul 11:11 WIB. Melalui pengukuran dengan mini DOAS diketahui bahwa terjadi peningkatan fluks SO2 yang mencapai 500 ton/hari. Pada pukul 16:05 diteteapkan radius aman di luar 15 km dari puncak Merapi. Dan pada pukul 17:30 dilaporkan bahwa awanpanas mencapai 9 km di luar K. Gendol.

Tren meningkat pada data RSAM antara 3 – 4 November 2010 menunjukkan proses pertumbuhan kubah lava yang mencapai volume 3.5 juta m3 dan tren menurun pada 5 November 2010 menandakan penghancuran kubah lava tersebut yang menghasilkan aliran awanpanas hingga sejauh 15 km dari puncak G. Merapi ke arah K. Gendol. Pada 4 November 2010 terekam Tremor menerus dan over scale serta peningkatan massa SO2 di udara mencapai lebih dari 100 kiloton. Radius aman ditetapkan di luar 20 km dari Puncak G. Merapi. 5 November 2010, terjadi penghancuran kubah lava yang menghasilkan awanpanas sejauh 15 km ke K. Gendol. Erupsi ini merupakan erupsi terbesar. Pada 6 November 2010, Tremor masih menerus dan over scale massa SO2 di udara mencapai puncaknya sebesar 250 – 300 kiloton.

13 November 2010, intensitas erupsi mulai menurun, dan radius aman juga dirubah. Yaitu Sleman 20 km, Magelang 15 km, Boyolali 10 km, Klaten 10 km.

Pada 19 November intensitas erupsi kembali menunjukkan penurunan. Radius aman juga dirubah, yaitu Sleman sebelah barat K. Boyong 10 km, Sleman sebelah Timur K. Boyong 15 km, Magelang 10 km, Boyolali 5 km, dan Klaten 10 km.

Korban jiwa akibat erupsi G. Merapi 2010 sebanyak 347 Orang (BNPB). Korban terbanyak berada di Kabupaten Sleman yaitu 246 jiwa. Menyusul Kabupaten Magelang 52 jiwa, Klaten 29 jiwa, dan Boyolali 10 jiwa. Sedangkan pengungsi mencapai 410.388 Orang (BNPB).

Berdasarkan hasil evaluasi data pemantauan G. Merapi secara instrumental dan visual, disimpulkan bahwa aktivitas G. Merapi menunjukkan penurunan. Dengan menurunnya aktivitas tersebut, maka terhitung mulai tanggal 3 Desember 2010 pukul 09.00 WIB, status aktivitas G. Merapi diturunkan dari tingkat “AWAS” menjadi “SIAGA”.

Ancaman berikutnya adalah lahar hujan produk erupsi Merapi yang mencapai 150 juta m3. Sekitar 35% produk letusan G. Merapi tersebut masuk ke K. Gendol berupa aliran piroklastik dan sisanya tersebar di sungai-sungai lain yang berhulu di lereng G. Merapi, seperti K. Woro, K. Kuning, K. Boyong, K. Bedog, K. Krasak, K. Bebeng, K. Sat, K. Lamat, K. Senowo, K. Trising dan K. Apu. Setelah erupsi pertama tanggal 26 Oktober hingga kini apa bila terjadi hujan di puncak G. Merapi, terjadi banjir lahar di sungai yang berhulu di G. Merapi.

 

Source : vsi.esdm.go.id

Peta Kawasan Bencana Gunungapi

KODE : L1.SS.C14


KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNGAPI

Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi adalah peta petunjuk tingkat kerawanan bencana suatu daerah apabila terjadi letusan/kegiatan gunungapi. Peta ini menjelaskan tentang jenis dan sifat bahaya gunungapi, daerah rawan bencana, arah/jalur penyelamatan diri, lokasi pengungsian dan Pos Penanggulngan Bencana. G. Marapi diklasifikasikan sebagai gunungapi yang giat dan sering meletus. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Marapi disusun berdasarkan geomorfologi, geologi, sejarah kegiatan, distribusi produk erupsi terdahulu, penelitian dan studi lapangan.

Jenis potensi bahaya G. Marapi yang dapat mengancam keselamatan manusia dan harta benda, terdiri atas awan panas, hujan abu lebat, lontaran batu (pijar) dan lahar, sedangkan lava jarang mencapai lereng bawah yang berpenduduk, jadi tidak membahayakan. Peta Kawasan Rawan Bencana G. Marapi dibagi dalam tiga tingkatan dari rendah ke tinggi berturut-turut yaitu : Kawasan Rawan Bencana I, II, dan III, yang merupakan revisi dari Peta Daerah Bahaya Sementara G. Marapi yang telah dipetakan sebelumnya oleh : R. Hadian (1969), K. Kusumadinata (1979), dan Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi oleh M.S. Santoso (2002).

 

Kawasan Rawan Bencana III

Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran bom vulkanik. Pada Kawasan Rawan Bencana III tidak diperkenankan untuk hunian tetap dan penggunaan bersifat komersial. Pernyataan daerah tidak layak huni diputuskan oleh pimpinan Pemerintah Daerah atas rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Kawasan ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya dengan radius 3 km dari pusat erupsi, termasuk kaldera Bancah, dengan morfologi yang terjal berbatu dan tidak ada hunian, daerah ini mempunyai luas 33,3 km2.

Kawasan Rawan Bencana II

Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava kemungkinan guguran puing vulkanik (‘volcanic debris avalanches“), gas racun, lontaran batu (pijar), hujan abu lebat dan aliran lahar. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, mungkin aliran lava, lontaran batu, guguran, hujan abu lebat, umumnya menempati lereng dan kaki gunungapi. Kawasan ini dibedakan menjadi dua yaitu :

  1. Kawasan rawan bencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, guguran batu (pijar), meliputi lembah-lembah sungai yang berhulu di sekitar puncak dan dapat mencapai radius 10 km dari pusat erupsi. Daerah tersebut yang diperkirakan, untuk bagian Utara di sepanjang lembah sungai hingga ke Sungai Puar dan lembah sungai Batang. Air Jambu. Untuk bagian timur pada lembah-lembah yang dapat mencapai radius 5 km, sedangkan ke bagian selatan dan barat daya sepanjang lembah sungai yang dapat mencapai radius 7Km dari pusat erupsi, pada sungai Batang Air Sabu, Batang. Gadis, lembah Kandang ditabik Sungai Talang dan lembah di Batu Panjang. Pada bagian selatan dan Barat daya terdapat beberapa perkampungan termasuk ujung daerah ini, antara lain : Wansiro, W.N. Sabu, W.N. Balai, Kandang Ditabik, Pauh, Nonggau, Anak Kayu Parak Anau, Kayu Rampak, Mandatar, Ganting Gadang.
  2. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat. Daerah ini meliputi radius 5 km dari pusat erupsi, yang umumnya terdiri atas hutan alam dan hutan lindung. Luas daerah Kawasan Rawan Bencana II dengan luas 120,6 km2 dengan jumlah penduduk lk. 15.721 jiwa (menurut catatan sipil pada tahun 1999).

Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan Rawan Bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar/banjir. Selama letusan membesar, kawasan ini berpotensi tertimpa material jatuhan berupa hujan abu lebat dan lontaran batu (pijar). Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Kawasan rawan bencana terhadap aliran lahar/banjir. Kawasan ini terletak di sepanjang sungai / di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak.
  2. Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar).
Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Marapi