Francois van Boekhold dan Kisah Pendakian Gunung Merapi

Pendaki Merapi difoto dari Pasar Bubar.     Sumber: kompas.com

Awal September 2018, Merapi masih dalam Level II Waspada. Riuh kaki para pendaki gunung tak lagi hingar bingar. Pendakian ditutup, hanya pendakian untuk monitoring dan mitigasi saja yang diizinkan. Merapi telah menjadi salah satu gunung primadona para pendaki saat ini bahkan untuk beratus tahun yang lampau. Ditengah ramainya posting foto Merapi milik para pendaki dengan ceritanya masing-masing, ada satu kisah pendaki yang tak banyak diketahui. Nama pendaki itu adalah Francois van Boekhold. Bedanya, van Boekhold belum mengenal instagram, facebook, sebab ia hanya menuliskannya dalam sebuah catatan pada tahun 1786, inilah kisah tentang orang Eropa pertama yang memuncaki Gunung Merapi.

Van Boekhold, dari namanya bisa diduga ia orang Belanda. Tanggal 17 Juli 1786, pagi-pagi sekali ia meninggalkan Salatiga, menuju Selo, Boyolali. Dari situ, ia menyiapkan keperluannya untuk mendaki gunung merapi. Malam hari itu juga dia berangkat. Sekitar tengah malam, dibawah cahaya bulan, ia mendaki ke arah timur. Bertambah tinggi ia mendaki, ia merasakan dingin yang semakin menjadi. Usahanya berbuah manis, pukul 5 pagi diiringi hujan rintik ia sampai di puncak Merapi, barang kali ia orang pertama yang menuliskan betapa indahnya sunrise – yang banyak diburu pendaki – dari puncak Merapi. Tirai malam disibak semburat sinar matahari, menampilkan pemandangan jajaran gunung di daratan Jawa yang mengelilingi Merapi. Puncaknya merekahkan rupa kubah dengan aneka warna belerang yang terbakar.

Nampaknya, van Boekhold tidak puas, ia kembali lagi mendaki Merapi pada 9 Agustus 1786. Jalur yang berbeda, memberikan tantangan berbeda, kali ini ia membawa tali. Seperti yang diduga, ia kali ini merayapi tebing-tebing curam. Van Boekhold tiba sekali lagi di puncak dan kali ini, ia memberanikan diri mendekati kawah, ia kini melihat dengan jelas bentuk nya yang seperti peluru dan belerang-belerang aneka warna yang keluar dari dinding kawah.

Berkat lawatannya ini, - dan untungnya van Boekhol seperti ornag Eropa pada umumnya yang gemar menulis – kisahnya keluar dalam terbitan berkala Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap den Kunsten en Wetenschappen, milik Perkumpulan Masyarakat Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan -  yang kelak jadi lembaga keilmuan tertua di Asia Tenggara -  edisi ke-6 yang terbit tahun 1792 dengan judul Relaas van een togt naar den Brandenden Berg op Java – Cerita Perjalanan ke Gunung Berapi di Jawa.

 

Pamerkan Batik Sebagai Kekayaan Budaya Lereng merapi

Ada yang menarik dari Museum Gunungapi Merapi (MGM) pada Senin, 29/9. Selain koleksi yang sudah ada, kali ini MGM menghadirkan stand pameran batik tepatnya di sebelah utara maket Gunung Merapi. Dalam stand tersebut dihadirkan produk batik dari lereng Merapi tepatnya daerah Pentingsari, Cangkringan. Menurut penjaga stand sekaligus sang seniman batik, Fitri Andono Warih karya batik dari Pentingsari banyak ditujukan mengangkat kearifan lokal atau potensi yang dimiliki wilayah Merapi pada umumnya dan Penting sari pada khususnya. Motifnya banyak mengadopsi tema tumbuhan sebagai simbolisme alam merapi. Selain itu diangkat pula tema mitologi kerakyatan tentang batu persembahan dan Baruklinting yang digambarkan sesosok naga yang melindungi desa Pentingsari saat merapi mengalami erupsi.

 

Selain produk batik dari Pentingsari, dalam stand tersebut juga menghadirkan batik dari beberapa rumah produksi Batik Badong yaitu, Umbulharjo Cangkringan, Ngawi, dan Nganjuk. Batik yang dipamerkan meliputi batik cap dan batik tulis. Mayoritas batik yang dipamerkan berupa kain batik jadi yang tidakhanya bisa dinikmati keindahannya tetapi juga bisa dibeli. Ditampilkan pula kreasi seni batik baru berupa lukisan batik diatas kain yang kemudian dibingkai. Dipamerkan dua lukisan, pertama dengan tema negara yang digambarkan dengan sosok manusia, menggambarkan hirarkis sebuah negara dengan kepala adalah pemerintah yang terkadang tak selaras, ribut sendiri, dan carut marut. Sehingga badannya atau rakyatnya ikut terkena dampak. Dan yang kedua adalah sepasang burung surga, Cendrawasih.

 

Tidak hanya memamerkan karya batik saja, pengunjung juga bisa merasakan bagaimana membatik secara langsung menggunakan canting dengan isian malam cair. Pengunjung akan diberi sebuah kain bergambar untuk kemudian dibatik. Karya yang sudah dibatik bisa turut dibawa pulang. Tujuanya tiada lain memberikan pengajaran para pengunjung lewat pengalaman membatik bahwa seni batik yang asli tidak hanya berada pada pola gambar dan warna saja, tetapi inti sebenarnya ada pada prosesnya. Sebab, sekarang ini karena tuntutan ekonomi dan pasar banyak produk bermotif batik yang dibuat dengan teknik printing yang kemudian disamakan dengan batik pada umumnya. Hari pertama pameran, menuai antusiasme pengunjung museum yang mencoba belajar membatik baik domestik maupun wisatawan mancanegara. Praktek membatik ini bisa diikuti pengunjung dengan gratis, dan dapat diikuti selama stand pameran berlangsung sampai hari Minggu, 30/9.