Kerjasama Penguatan Literasi dengan SMA N 1 Pakem

Kemah Budaya

         11 Juli 2019. Dilaksanakan Kemah Budaya oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman yang diikuti oleh perwakilan kontingen pramuka di wilayah Sleman, Yogyakarta dan juga se-Jawa. Pelaksanaan  rangkaian Kemah Budaya dilaksanakan dari tanggal 10 Juli - 12 Juli 2019 di Desa Wisata Garongan, Turi, Sleman, yang dimana tim sosialisasi dan promosi Museum Gunungapi Merapi ditunjuk sebagai salah satu narasumber untuk tanggal 11 Juli 2019. Dengan membawakan materi berkaitan dengan pengurangan resiko bencana khususnya ancaman dari letusan Gunung Merapi.

Mengingat tentang kondisi dan lokasi pelaksanaan kemah budaya berada di lereng Gunung Merapi, maka panitia pelaksana membahas salah satu materi tentang pengurangan resiko bencana khususnya tentang ancaman letusan Gunung Merapi. Seperti apa ancaman yang potensi ditimbulkan dari letusan Gunung Merapi dan apa yang seharusnya kita lakukan untuk menghadapi ancaman tersebut. Yang sebagaian besar materi tersebut sudah menjadi bagian dari koleksi yang dimiliki oleh Museum Gunungapi Merapi.

Dalam penyampaian informasi dan materi tersebut, tim Museum Gunungapi Merapi menggandeng tim dari Tagana (Taruna Siaga Bencana) Kab.Sleman komunitas dibawah naungan Dinas Sosial Kab.Sleman selaku pelaksana harian dalam upaya pengurangan resiko bencana.

Penyamapaian materi dikemas dalam bentuk fun game yang disampaikan kolaborasi tim Museum Gunungapi Merapi dan Tagana Kab.Sleman.

Museum Jajah Pawiyatan

20 April 2019 - Museum jajah pawiyatan menjadi satu program baru dari Museum Gunungapi Merapi bagian dari sosialisasi museum kepada khalayak umum.. di bawah naungan Dinas Kebudayaan Kab Sleman.
Saat ini sasaran utamanya adalah murid-murid yang ada di sekolah2 baik di kab.Sleman maupun di luar kab.Sleman.

Kali ini yang beruntung adalah SMP 2 Ngaglik, menjadi sekolah pertama pelaksaan Museum Jajah Pawiyatan. Dilaksanakan di aula SMP N 2 Ngaglik yang di ikuti siswa kelas VII.

Materi yang di sampaikan dalam program ini adalah :
1. Pengetahuan tentang Gunungapi Merapi dan bahaya serta manfaat keberadaannya
2. Keberadaan Museum Gunungapo Merapi sebagai satu tempat wisata edukasi tentang Gunung Merapi dan mitigasi bencana letusan merapi
3. Fun game yang bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi dalam menghadapi suatu masalah terutama ketika terjadi kondisi chaos akibat letusan Merapi

Acara yang dilaksakan di awali dengan sambutan-sambutan, dilanjutkan dengan materi mengenai Gunung Merapi dan Museum Gunungapi Merapi. Di tutup dengan fun game yang meriah di pandu oleh salah satu pemandu Museum Gunungapi Merapi..

Salam Sahabat Museum !
Museum Dihatiku !

Edukasi Kesiapsiagaan Bencana Untuk Anak

Sleman - Museum Gunungapi Merapi melaksanakan program kegiatan berupa pemberian edukasi tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana kepada anak-anak hunian tetap (huntap) Banjarsari, Glagaharjo, Cangkringan,Sleman pada tanggal 27 Januari 2019.

Kegiatan tersebut terlaksana atas kerjasama dari  Museum Gunungapi Merapi  dengan   Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kab.Sleman serta SOS Children Villages Indonesia. SOS merupakan organisasi sosial nirlaba non-pemerintah yang aktif dalam mendukung hak-hak anak.

Kegiatan yang  dilaksanakan di  Museum Gunungapi Merapi  bertujuan  untuk  mengenalkan  resiko bencana kepada  anak sejak dini termasuk memetakan bencana apa saja yang berpotensi terjadi di sekitar sekolah maupun rumah tinggal mereka khususnya bencana alam letusan Gunung Merapi dan gempa bumi yang sangat besar potensi terjadi dan mengancam. Bagaimana cara menghadapi bencana yang mungkin terjadi, apa saja yang diperlukan atau di butuhkan dalam melindungi diri dari  ancaman  bahaya  yang  terjadi,  kepada siapa  mereka harus  meminta perlindungan jika terjadi bencana, dan kemana mereka harus menyelamatkan diri jika terjadi bencana adalah beberapa  point materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut terutama dalam menghadapi bahaya letusan Gunungapi Merapi.

Kegiatan yang di ikuti 25 anak huntap tersebut dikemas dalam bentuk kegiatan berupa outbound yang menggunakan lokasi di halaman belakang Museum Gunungapi Merapi dan dipandu oleh anggota Tagana Kab.Sleman. Dilanjutkan dengan  berkeliling di koleksi  Museum Gunungapai Merapi  yang kemudian diakhiri dengan  menyaksikan pemutaran film Mahaguru Merapi serta evaluasi tentang kegiatan di aula Museum Gunungapi Merapi.

Salah satu bentuk kepedualian Museum Gunungapi Merapi terhadap masyarakat di lereng Merapi yang berpotensi terdampak dari letusan yang sewaktu-waktu mengancam menjadi pendorong kuat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut mengingat tujuan pendirian dan keberadaan Museum Merapi menjadi salah satu tempat edukasi mengenai bencana alam terutama letusan Gunungapi Merapi.

Salam Sahabat Museum !

Museum Dihatiku !

 

Barcode koleksi Museum Gunungapi Merapi

 

Museum Gunungapi Merapi, mulai pada Januari 2019 koleksi di Museum Gunungapi Merapi dilengkapi dengan barcode koleksi. Ini adalah fasilitas pendukung yang di sediakan oleh pengelola museum untuk koleksi yang ada di Museum Gunungapi Merapi agar pengunjung dapat lebih cepat dan nyaman dalam memperoleh informasi koleksi di Museum Gunungapi Merapi.

Barcode koleksi Museum Gunungapi Merapi terletak di setiap koleksi yang ada di museum baik di koleksi lantai 1 dan lantai 2. Tertempel di setiap pojok koleksi. Semua pengunjung dapat mengakses secara gratis untuk fasilitas barcode tersebut.

Cara untuk menggunakan atau mengakses barcode koleksi adalah sebagai berikut :

  1. Arahkan kamera HP ke QR Code ke setiap barcode yang tertempel di setiap koleksi atau unduh aplikasi QR Reader di HP
  2. Scan tampilan QR Code yang tertempel di setiap koleksi museum
  3. QR Code akan megarahkan ke halaman website informasi

Jika sudah menscan QR Code dari koleksi akan secara otomatis terhubung atau masuk di Website resmi museum yang berisi informasi setiap koleksi Museum Gunungapi Merapi.

Pengadaan fasilitas barcode koleksi museum di Museum Gunungapi Merapi sebagai salah satu wujud peningkatan kualitas museum yang didirikan selain sebagai tempat wisata juga sebagai wahana pendidikan yang dituntut untuk  mengikuti perkembangan zaman tanpa mengesampingkan fasilitas pemandu yang sudah dimiliki oleh museum.

Salam Sahabat Museum !

Museum Dihatiku !

Peningkatan Kapasitas SDM Tagana Kab. Blitar dalam Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Alam di Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunungapi Merapi, pada hari Selasa 6 November 2018 berlangsung kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM Tagana Kab. Blitar dalam Perlindungan Sosial Penanggulangan Bencana Alam. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kab.Blitar yang menaungi Tagana Kab.Blitar. Peserta kegiatan ini terdiri dari 60 peserta yang berasal dari Dinas Sosial Kab.Blitar, Tagana Kab.Blitar dan Dinas Sosial Kab.Sleman beserta Tagana Kab.Sleman.

Kegiatan Peningkatan Kapasitas SDM ini bertujuan untuk sharing pengalaman dan ilmu dari Tagana Kab.Sleman kepada rekan- rekan Tagana Kab Blitar dalam hal penanggulangan bencana terutama ancaman letusan gunungapi yang sudah sering terjadi, salah satunya letusan Merapi tahun 2006 dan 2010. Hal ini dikarenakan di Kab.Blitar juga merupakan daerah yang berpotensi terdampak ancaman bahaya letusan gunung api G.Kelud.

Pada kesempatan kali ini, materi yang disampaikan berupa manajemen penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi yang disampaikan oleh Kabid Linjamsos Dinsos Kab. Sleman, manajemen perlindungan sosial dalam penanggulangan bencana erupsi Gunung Merapi oleh Kasi Bansos dan Penanganan FM Dinsos Kab. Sleman, dan materi penanganan bencana erupsi Gunung Merapi dari masa ke masa oleh Ketua FK Tagana Kab Sleman. Materi-materi ini disampaikan agar peserta dapat belajar langsung dari pengalaman yang dilakukan di Gunungapi Merapi sehingga apabila terjadi letusan gunungapi, penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan cepat dan tepat.

Indonesia merupakan negara yang berada di wilayah Ring Of Fire atau Cincin Api Pasifik yang menyebabkan Indonesia memiliki 127 gunungapi aktif. Gunungapi ini tersebar dari Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, sampai dengan Kepuluan Maluku dan Wilayah Sulawesi sehingga potensi bencana juga menaungi wilayah-wilayah tersebut. Kegiatan peningkatan kapasitas SDM terutama untuk penanggulangan bencana yang tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan bencana seperti ini sangatlah bermanfaat untuk Indonesia yang memang memiliki potensi bencana tersebut. Museum Gunungapi Merapi sebagai salah satu wahana informasi-edukasi gunungapi berusaha untuk selalu memberikan dukungan untuk kegiatan seperti ini terutama yang berkaitan dengan urgensi-nya untuk meningkatkan kesadaran bencana bagi masyarakat Indonesia. Seperti semboyannya, Merapi Jendela Bumi!

Salam Sahabat Museum!
Museum di Hatiku!

Francois van Boekhold dan Kisah Pendakian Gunung Merapi

Pendaki Merapi difoto dari Pasar Bubar.     Sumber: kompas.com

Awal September 2018, Merapi masih dalam Level II Waspada. Riuh kaki para pendaki gunung tak lagi hingar bingar. Pendakian ditutup, hanya pendakian untuk monitoring dan mitigasi saja yang diizinkan. Merapi telah menjadi salah satu gunung primadona para pendaki saat ini bahkan untuk beratus tahun yang lampau. Ditengah ramainya posting foto Merapi milik para pendaki dengan ceritanya masing-masing, ada satu kisah pendaki yang tak banyak diketahui. Nama pendaki itu adalah Francois van Boekhold. Bedanya, van Boekhold belum mengenal instagram, facebook, sebab ia hanya menuliskannya dalam sebuah catatan pada tahun 1786, inilah kisah tentang orang Eropa pertama yang memuncaki Gunung Merapi.

Van Boekhold, dari namanya bisa diduga ia orang Belanda. Tanggal 17 Juli 1786, pagi-pagi sekali ia meninggalkan Salatiga, menuju Selo, Boyolali. Dari situ, ia menyiapkan keperluannya untuk mendaki gunung merapi. Malam hari itu juga dia berangkat. Sekitar tengah malam, dibawah cahaya bulan, ia mendaki ke arah timur. Bertambah tinggi ia mendaki, ia merasakan dingin yang semakin menjadi. Usahanya berbuah manis, pukul 5 pagi diiringi hujan rintik ia sampai di puncak Merapi, barang kali ia orang pertama yang menuliskan betapa indahnya sunrise – yang banyak diburu pendaki – dari puncak Merapi. Tirai malam disibak semburat sinar matahari, menampilkan pemandangan jajaran gunung di daratan Jawa yang mengelilingi Merapi. Puncaknya merekahkan rupa kubah dengan aneka warna belerang yang terbakar.

Nampaknya, van Boekhold tidak puas, ia kembali lagi mendaki Merapi pada 9 Agustus 1786. Jalur yang berbeda, memberikan tantangan berbeda, kali ini ia membawa tali. Seperti yang diduga, ia kali ini merayapi tebing-tebing curam. Van Boekhold tiba sekali lagi di puncak dan kali ini, ia memberanikan diri mendekati kawah, ia kini melihat dengan jelas bentuk nya yang seperti peluru dan belerang-belerang aneka warna yang keluar dari dinding kawah.

Berkat lawatannya ini, - dan untungnya van Boekhol seperti ornag Eropa pada umumnya yang gemar menulis – kisahnya keluar dalam terbitan berkala Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap den Kunsten en Wetenschappen, milik Perkumpulan Masyarakat Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan -  yang kelak jadi lembaga keilmuan tertua di Asia Tenggara -  edisi ke-6 yang terbit tahun 1792 dengan judul Relaas van een togt naar den Brandenden Berg op Java – Cerita Perjalanan ke Gunung Berapi di Jawa.

 

Pamerkan Batik Sebagai Kekayaan Budaya Lereng merapi

Ada yang menarik dari Museum Gunungapi Merapi (MGM) pada Senin, 29/9. Selain koleksi yang sudah ada, kali ini MGM menghadirkan stand pameran batik tepatnya di sebelah utara maket Gunung Merapi. Dalam stand tersebut dihadirkan produk batik dari lereng Merapi tepatnya daerah Pentingsari, Cangkringan. Menurut penjaga stand sekaligus sang seniman batik, Fitri Andono Warih karya batik dari Pentingsari banyak ditujukan mengangkat kearifan lokal atau potensi yang dimiliki wilayah Merapi pada umumnya dan Penting sari pada khususnya. Motifnya banyak mengadopsi tema tumbuhan sebagai simbolisme alam merapi. Selain itu diangkat pula tema mitologi kerakyatan tentang batu persembahan dan Baruklinting yang digambarkan sesosok naga yang melindungi desa Pentingsari saat merapi mengalami erupsi.

 

Selain produk batik dari Pentingsari, dalam stand tersebut juga menghadirkan batik dari beberapa rumah produksi Batik Badong yaitu, Umbulharjo Cangkringan, Ngawi, dan Nganjuk. Batik yang dipamerkan meliputi batik cap dan batik tulis. Mayoritas batik yang dipamerkan berupa kain batik jadi yang tidakhanya bisa dinikmati keindahannya tetapi juga bisa dibeli. Ditampilkan pula kreasi seni batik baru berupa lukisan batik diatas kain yang kemudian dibingkai. Dipamerkan dua lukisan, pertama dengan tema negara yang digambarkan dengan sosok manusia, menggambarkan hirarkis sebuah negara dengan kepala adalah pemerintah yang terkadang tak selaras, ribut sendiri, dan carut marut. Sehingga badannya atau rakyatnya ikut terkena dampak. Dan yang kedua adalah sepasang burung surga, Cendrawasih.

 

Tidak hanya memamerkan karya batik saja, pengunjung juga bisa merasakan bagaimana membatik secara langsung menggunakan canting dengan isian malam cair. Pengunjung akan diberi sebuah kain bergambar untuk kemudian dibatik. Karya yang sudah dibatik bisa turut dibawa pulang. Tujuanya tiada lain memberikan pengajaran para pengunjung lewat pengalaman membatik bahwa seni batik yang asli tidak hanya berada pada pola gambar dan warna saja, tetapi inti sebenarnya ada pada prosesnya. Sebab, sekarang ini karena tuntutan ekonomi dan pasar banyak produk bermotif batik yang dibuat dengan teknik printing yang kemudian disamakan dengan batik pada umumnya. Hari pertama pameran, menuai antusiasme pengunjung museum yang mencoba belajar membatik baik domestik maupun wisatawan mancanegara. Praktek membatik ini bisa diikuti pengunjung dengan gratis, dan dapat diikuti selama stand pameran berlangsung sampai hari Minggu, 30/9.

Liburan Paskah, Museum Gunungapi Merapi Dibanjiri Ribuan Pengunjung.

Museum Gunungapi Merapi (MGM) ramai oleh pengunjung pada liburan Paskah (Wafat Isa Almasih). Paskah pada tahun ini jatuh pada hari Jumat (30/3) sehingga bertepatan dengan long weekend.

Pengunjung MGM di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu (30 April 2018 – 1 April 2018)  mencapai jumlah lebih dari 4.000 pengunjung. Kunjungan ini termasuk tinggi meningat pengunjung di dominasi oleh rombongan keluarga maupun rombongan regular non sekolahan. Banyaknya kunjungan di luar instansi sekolahan menunjukkan bahwa museum sudah menjadi salah satu destinasi wisata rekreasi dan edukasi yang diminati masyarakat umum. Hal ini menjadi hal yang positif karena menjadi satu pertanda terjadi perubahan paradigma museum. Museum Gunungapi Merapi menjadi menjadi destinasi wisata-edukasi yang merepresentasikan kehidupan saat ini dan pengaruhnya penting untuk kehidupan yang akan datang.

“Pada liburan panjang kali ini di hari Jumat dan Sabtu (30 Maret – 31 Maret 2018) jumlah kunjungan dari rombongan pelajar dan keluarga meningkat sekitar 20%. Terutama di hari Jumat bisa mencapai 1300 pengunjung. Museum Gunungapi Merapi menjadi destinasi favorit untuk mengisi liburan dan belajar tentang kegunungapian ” kata Ari Triyono, selaku Plt..Ka.UPT Museum Gunungapi Merapi.

Kunjungan Museum Gunungapi Merapi Tahun 2017 Didominasi oleh Golongan Pelajar

Museum Gunungapi Merapi (MGM) merupakan salah satu wisata edukasi yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya Jogja yang istimewa, MGM juga memiliki keistimewaan tersendiri. MGM merupakan museum yang menjadikan Gunung Merapi sebagai objek utama edukasi pada khususnya dan gunungapi pada umumnya. Selain sejarah dari Gunung Merapi, keistimewaaannya adalah pada site atau lokasi museum yang dekat dengan Gunung Merapi. Dari MGM, kita bisa melihat gagahnya Gunung Merapi sebagai latar belakang museum secara langsung. Oleh karena itu, tidak salah apabila MGM menjadi salah satu tujuan wisata edukasi favorit, terutama bagi pelajar yang berasal dari dalam maupun luar DIY.

Pada tahun 2017, total jumlah kunjungan MGM mencapai 261.863 pengunjung, terdiri atas 259.059 wisatawan nusantara dan 2.804 wisatawan mancanegara. Jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan tahun 2016, MGM mengalami kenaikan sekitar 17,04% di tahun 2017. Berikut jumlah pengunjung pada tahun 2016 dan pengunjung pada tahun 2017.

Dari grafik di atas, dapat dilihat bahwa jumlah kunjungan terbanyak adalah di Bulan Januari, Mei, Juli, dan Desember. Kecenderungan ini dikarenakan bulan-bulan tersebut merupakan puncak kunjungan yang berasal dari golongan pelajar. Mereka memasuki masa liburan sekolah dan juga awal masuk sekolah yang biasanya terdapat kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) ke museum atau tempat wisata edukasi lainnya. Berikut presentase kunjungan museum gunung merapi berdasarkan golongan pengunjung tahun 2017.

Kunjungan ke MGM yang berasal dari golongan pelajar mencapai angka 54% sedangkan 46% adalah golongan umum yang biasanya terdiri dari rombongan keluarga atau komunitas. Jika dibagi berdasarkan asalnya, kunjungan di MGM Tahun 2017 meliputi 38% pengunjung asal DIY, 61% luar DIY, dan 1% adalah pengunjung asing atau wisatawan mancanegara.

Kegiatan promosi dan pemasaran MGM terus dilaksanakan untuk menjaring dan menarik minat pengunjung dan ke MGM. Kegiatan promosi ini paling banyak masih berpusat di pulau Jawa.  MGM juga melakukan beberapa kali sosilasi di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Selain promosi secara langsung, MGM juga melakukan promosi melalui media social seperti facebook (museum.merapi), Instagram (@museummerapisleman), dan juga web (mgm.slemankab.go.id) untik lebih mengenalkan dan mendekatkan MGM kepada masyarakat luas, sekolah, dan penggiat wisata seperti travel agent atau biro wisata/perjalanan.