Kunjungan Anggota Paskibraka Kabupaten Sleman 2017 ke Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunungapi Merapi (MGM) - Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) Kabupaten Sleman yang bertugas dalam upacara Peringatan detik-detik Proklamasi dan Pengibaran Duplikat bendera Pusaka HUT RI ke-72 yang dilaksanakan di Alun-alun Denggung Kabupaten  adalah 18 siswa 18 siswi terpilih dari seleksi yang dilakukan Dinas Pemuda dan Olahraga yang dibantu oleh TNI, POLRI dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Sleman.

Rangkaian kegiatan Paskibraka Kabupaten Sleman setelah bertugas pada tanggal 17 Agustus 2017 seperti yang disampaikan salah satu pendamping dari Purna Paskibraka Indonesia, Nurul Hikmah Bella, "Kegiatan adik-adik Paskibraka 2017 pada tanggal 18 adalah Temu Gubernur DIY dan Paskibraka se-DIY di Kepatihan pagi hari, dilanjutkan resepsi Kenegaraan di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman bersama Bupati Sleman. Pada tanggal 19 Agustus dilanjutkan wisata lokal di kabupaten Sleman yang mencakup tentang Pendidikan, Teknologi, Budaya, untuk itu kami mengajak adik-adik Paskibraka Kabupaten Sleman 2017 untuk berkunjung di Museum Gunungapi Merapi supaya dapat menambah wawasan tentang kegunung apian dan dilanjutkan 2 kegiatan selanjutnya".

Dalam kunjungan tersebut diterima langsung oleh Kepala Museum Gunungapi Merapi Bapak Ari Triyono, dalam sambutannya beliau menyampaikan kepada adik-adik anggota Paskibraka Kabupaten Sleman untuk bisa membantu mempromosikan dan mengenalkan Museum di Yogyakarta pada umumnya dan museum Gunungapi merapi pada khususnya, "Kami mengharapkan kepada adik-adik Paskibraka untuk memperkenalkan dan mungkin bisa mengajak teman-temannya untuk dapat berkunjung ke Museum, Karena di museum adik-adik dapat menambah pengetahuan terutama tentang Gunungapi merapi, mengenal karakteristik gunung api dan wawasan baru yang lain".

Salah satu anggota Paskibraka yang mengikuti kunjungan museum yaitu Feval menyampaikan bahwa sangat menyenangkan berkunjung ke museum karena belum pernah dan banyak ilmu yang diperoleh, "Sangat menyenangkan, karena saya baru 1 tahun ini pindah ke Jogja dan belum mengunjungi tempat tempat seperti  Museum Gunungapi Merapi ini".

Dalam kunjungan tersebut anggota Paskibraka didampingi oleh edukator museum yang membantu dalam menjelaskan apa saja koleksi Museum Gunungapi Merapi, diakhiri dengan menonton film Mahaguru Merapi.(dkp)

Pameran Pendidikan Kab.Ciamis

Museum Gunungapi Merapi (MGM) - Di awal bulan Agustus ini Museum Gunungapi Merapi  mengikuti acara Pameran Pendidikan yang diselenggarakan oleh Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) Jakarta, bertempat di Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pameran ini didukung oleh Museum Transportasi, Museum Olahraga dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, yang di dalamnya terdapat Museum Gunungapi Merapi, Museum Pendidikan Indonesia, dan Museum Monjali sebagai peserta pameran. Pameran yang berlangsung dari tanggal 7-11 Agustus 2017 ini mengusung tema "Dengan Semangat Kemerdekaan Membuka Jalan Anak Didik Generasi Bangsa Meraih Prestasi Termulia dalam kehidupannya dan Membawa Kita Menjadi Bangsa Pemenang".

Di hari pertama pameran (7/8), stand MGM dibanjiri oleh pengunjung dari siswa-siswa sekolah dasar di Kabupaten Ciamis. Terlihat antusiasme pengunjung sangat tinggi dan banyak yang menanyakan tentang keberadaan Gunungapi Merapi.

Kegiatan Ambassador Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunungapi Merapi (MGM) – Sebanyak 30 finalis Duta Museum DIY didapuk menjadi Museum Ambassador untuk 30 museum yang ada di DIY, Jumat (14/7/2017). Kehadiran para duta ini diharapkan bisa menjadi salah satu instrumen untuk mengembangkan museum. Ambassador Museum Gunungapi Merapi ditetapkan Sdr. Duwi Kurnianto Pambudi yang berprofesi sebagai salah satu pengajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ambassador Museum Gunungapi Merapi membantu dalam mempromosikan Museum Gunungapi Merapi kepada masyarakat luas untuk lebih mengenal dan mengunjungi Museum Gunungapi Merapi. Museum Gunungapi Merapi salah satu destinasi wisata edukasi untuk menambah pengetahuan dan informasi mengenai Gunung Merapi, mitigasi bencana, dan potensi sumberdaya gunungapi.

Kegiatan yang dilakukan oleh Ambassador Museum Gunungapi Merapi yaitu Kegiatan Mendongeng Bersama Forum Anak Sleman (FORANS) untuk kalangan anak Taman Kanak-Kanak pada tanggal 28 Juli 2017. Dalam kegiatan mendongeng tersebut melibatkan sekitar 150 anak yang berasal dari sekolah di sekitar Museum Gunungapi Merapi. Pengenalan Gunung Merapi yang dikemas dalam dongeng untuk anak-anak diharapkan dapat lebih mengenalkan keberadaan dan karakteristik Gunung Merapi kepada anak-anak.

Merapi Night Festival

Museum Gunungapi Merapi (MGM) – Ada event besar yang akan diselenggarakan di Museum Gunungapi Merapi pada hari Sabtu-Minggu tanggal 22-23 Juli 2016, yaitu Classic automotive  yang akan diikuti sekitar 40 mobil untuk dikonteskan dan memperebutkan piala Gubernur DIY, dan pada malam harinya akan dilanjutkan konser music Jazz bersama kelompok musik jazz Mben Senen.

Selain itu penampilan Sawung Jabo dan Sirkus Barock akan turut menyemarakkan event yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY dan Kabupaten Sleman ini. Event Merapi Night Festival ini gratis bagi pengunjung dan juga tersedia booth gratis untuk UKM dan warga sekitar yang akan menjual makanan khas atau souvenir dalam event tersebut.

Salam Sahabat Museum

Lomba Foto Terbaik di Museum Gunungapi Merapi

Lomba foto terbaik di Museum Gunungapi Merapi … Ikuti syarat dan ketentuannya :
1. Follow IG @museummerapisleman
2. Tag postinganmu ke @museummerapisleman
3. Like postingan ini
4. Tag 3 teman mu untuk bisa mengikuti lomba ini
5. Sertakan hastag #museumgunungapimerapi #visitmerapimuseum
Bikin captionmu semenarik mungkin dan pastikan akun IG mu tidak di privat selama lomba berlangsung.. Rebut hadiah menariknya berupa pulsa @50 ribu untuk 2 foto terbaik… #museumgunungapimerapi #visitmerapimuseum #kontesfoto #lombafoto #museum #explorejogja #visitsleman #wisatasleman #jogja

Mensos Resmikan Patung 5 Anggota Tagana yang Gugur Saat Erupsi Merapi 2010

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa meresmikan lima patung anggota Taruna Tanggap Bencana (Tagana) yang gugur saat bertugas ketika erupsi Merapi 2010 lalu.

Kelima patung anggota Tagana ini diletakkan di museum Gunung Merapi.

Menteri Khofifah mengatakan, lima anggota Tagana yang gugur tersebut yakni Slamet Ngatiran, warga Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman; Juprianto, warga Banjarsari, Glagaharjo, Sleman; Samiyo, warga Srunen, Glagahharjo, Sleman; Arianto Prasetyo, warga Srunen Glagaharjo, Sleman; dan Supriyadi, warga Banaran Galur, Kulon Progo.

“Kelima almarhum adalah relawan sekaligus pahlawan kemanusiaan. Mereka gugur saat membantu sesama manusia ketika terjadi erupsi Merapi 2010 lalu,” ujar Khofifah di museum Gunung Merapi, Sleman, Minggu (4/12/2016).

Khofifah mengungkapkan, kelima almarhum yang gugur ini menjadi motivasi dalam menumbuhkan semangat Taruna Siaga Bencana untuk membantu sesama manusia. Bahkan, dalam membantu sesama, petugas Tagana sampai mengorbankan nyawa.

“Ini menjadi bagian penguatan semangat kita bersama, di mana Tagana pengorbanannya tidak hanya meneteskan air mata, keringat, tetapi sampai tahapan menyerahkan nyawa untuk membantu sesama manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi menjelaskan, pada Oktober dan November 2010 lalu terjadi bencana erupsi Merapi yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Selain masyarakat, ada lima anggota Tagana yang saat itu sedang bertugas juga menjadi korban letusan Merapi.

“Walaupun sudah kita latih dengan maksimal, kadang-kadang Allah dan alam berkehendak lain seperti yang terjadi terhadap saudara-saudara kita yang gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan,” katanya.

Menurut Untung, gugurnya kelima anggota Tagana tidak akan membuat surut semangat kemanusiaan masyarakat, malah sebaliknya mampu meningkatkan semangat kerelawanan warga Yogyakarta.

“Tidak menyurutkan dan membuat takut masyarakat. Karena jiwa masyarakat Yogyakarta adalah jiwa relawan sehingga apa pun kondisinya akan tumbuh jiwa-jiwa relawan,” ucapnya.

Hal ini, imbuhnya, terbukti dengan semakin banyaknya masyarakat yang tergabung dalam Tagana.

Berdasarkan data pada tahun 2010, anggota Tagana aktif sebanyak 350 orang. Pada tahun 2016, jumlahnya berlipat menjadi 1.034 orang.

Jumlah itu masih ditambah dengan anggota sahabat Tagana di DIY yang ada sekitar 3.000 orang.

“Ini bukti bahwa dengan gugurnya lima almarhum menjadi inspirasi dan motivasi bagi masyarakat Yogyakarta,” pungkasnya.

Dalam kesempatan ini, Menteri Khofifah juga memberikan bantuan uang sebesar Rp 10 juta kepada keluarga lima anggota Tagana yang gugur.

Hadir pula dalam acara peresmian patung lima anggota Tagana itu Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

PREKURSOR

PREKURSOR

Gunungapi sebelum erupsi, biasanya menunjukkan tanda-tanda perubahan fisika dan kimiawi yang bisa dirasakan dengan panca indera manusia atau hanya dapat dideteksi dengan instrumen yang sangat peka. Secara umum beberapa tanda-tanda tersebut adalah berubahnya warna asap menjadi semakin tebal dan pekat, meningkatnya jumlah gempa-gempa yang terekam oleh seismogram, berubahnya komposisi kimia gas atau air, meningkatnya derajat suhu kawah dan terjadinya deformasi tubuh gunungapi.

Prekursor adalah gejala awal sebelum erupsi. Gejala tersebut dimulai dari kedalaman dimana sumber magma segar berasal yang akan mendorong magma yang sudah lebih dulu mengisi kantong dan pipa saluran. Bertambahnya pasokan magma ini akan meningkatkan tekanan di dalam kantong magma dan pipa saluran kepundan yang dapat menyebabkan retaknya batuan di sekelilingnya. Naiknya magma ke atas akan menurunkan tekanan internal magma sebagai akibatnya gas vulkanik yang bersifat volatil akan lepas dan menambah tekanan ke batuan di sekelilingnya.

Naiknya tekanan ini mengakibatkan retakan batuan yang akan menjalarkan energi gelombang elastik yang disebut dengan gempa vulkanik. Jenis gempa ini yang biasanya hanya dapat dideteksi oleh seismom. Gempa vulkanik di Merapi dimulai pada kedalaman antara 2 sampai 5 km yang menandai awal peningkatan aktivitas vulkanik. Selanjutnya sumber gempa akan semakin dangkal hanya kurang 2 km di bawah puncak.

Proses berjalannya magma ke permukaan sebelum terjadinya suatu erupsi menimbulkan getaran yang menyebabkan terjadinya yang biasa disebut tremor. Namun di Merapi termor tidak selalu terjadi sebelum erupsi. Seiiring peningkatan tekanan dan desakan magma dari dalam maka tubuh gunungapi menggelembung dalam orde yang sangat kecil yang sering disebut deformasi. Perubahan deformasi dapat dipantau dengan berbagai teknik geodetik atau menggunakan tiltmeter dan ekstensometer. Pada proses menuju erupsi ini terjadi pula peningkatan emisis gas vulkanik misalnya SO2 ke permukaan. Gejala-gejala tersebut di atas dapat dipantau dengan berbagai macam metoda dan instrumentasi dan disebut sebagai gejala awal atau prekursor aktivitas Gunung Merapi.

Grafik prekursor erupsi khas Merapi berdasarkan data pemantauan 2006. Grafik ini menunjukkan bagaimana pola dari variasi parameter pemantauan yang muncul sebelum erupsi. Pola yang cukup jelas terliliat sampai munculnya kubah lava pertama kali (perlu diingat bahwa definisi erupsi secara vulkanologis adalah munculnya lava di permukaan). Penjelasan dan pola prekursor Merapi lebih rinci dapat dililiat pada buku prekursor Merapi.

Contoh lain prekursor Merapi sebelum erupsi 1997 dan 1998 berdasarkan data perbandingan antara seismisitas, GPS, tilt dan volume kubah dalam periode aktivitas 1996 sampai 1999. Angka romawi menunjukkan periode dimana aktivitas Merapi mempunyai karakteristik berbeda secara kegempaan dan deformasi. Periode I menunjukkan kenaikan nilai tilt dan volume kubah yang disertai dengan banyaknya kejadian gempa vulkanik, MP dan guguran. Periode II gempa MP menghilang samasekali tetapi guguran masih cukup banyak dan nilai tilt serta kubah tumbuh lebih cepat. Periode III diawali dengan naiknya jumlah gempa MP sebelum erupsi 1997 yang diikuti penurunan jumlah gempa MP dan Guguran. Periode IV relatif tenang di permukaan yang ditunjukkan oleh jumlah gempa MP dan guguran yang sedikit tapi di dalam gejolak cukup tinggi yang ditunjukkan oleh banyaknya kejadian gempa vulkanik. Periode V seperti mengulangi periode kejadian sebelum erupsi 1997 yaitu naiknya jumlah MP sebelum erupsi yang dikuti oleh anjloknya volume kubah. Periode VI pada awal 1999 ditunjukkan oleh stabilnya volume kubah dan sedikitnya gempa namun periode ini hanya bertahan kurang dari 2 tahun sebelum erupsi kembali terjadi pada 2001. Data GPS menunjukkan titik NTR0 yang terletak di puncak mempunyai magnitude perpindahan terbesar yang mengindikasikan bahwa titik ini terletak pada zone yang lemah.

KARAKTERISTIK GUNUNG MERAPI

SISTIM VULKANIS

Ada beberapa factor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi diantaranya : (1) sifat magma termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air, (2) struktur dan dimensi pipa saluran magma dan (3) posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan. Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunungapi-gunungapi di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik. Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu “mati”, yang lain sangat aktif.

Erupsi Merapi terjadi relatif sering hal ini ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi, tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. Pada kedalaman 1.5 – 2 km di bawah puncak tidak dijumpai adanya hiposenter gempa, demikian pula pada kedalaman >5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.

Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma bila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana. Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0.1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3 yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing >40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.

Gambar di atas menunjukkan penampang skematik dari struktur geometri internal Merapi. Dimensi kantong magma (atas) dan dapur magma (bawah) adalah perkiraan.

EVOLUSI ERUPSI

EVOLUSI ERUPSI

Kronologi Hartman

Bagaimana kronologi suatu aktivitas letusan Merapi telah disimpulkan oleh Hartman (1935). Tiap letusan dibagi menjadi 3 fase yaitu fase awal atau keadaan sebelum meletus, fase utama yaitu aktivitas utama dan fase akhir yaitu kegiatan yang terjadi sesudah letusan berakhir. Ketiga fase tersebut merupakan atau dianggap sebagai satu siklus aktivitas letusan Merapi. Berdasarkan apa yang terjadi pada fase awal, utama dan akhir, Hartman membedakan kronologi letusan menjadi empat sebagai berikut :

Kronologi A : Siklus diawali dengan satu letusan kecil yang mengawali ekstrusi lava. Fase utama berupa pembentukan kubah lava sampai kubah mencapai volume besar dan kemudian perkumbuhan kubah berhenti. Siklus diakhiri dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah. Kejadian guguran lava pijar, kadang dengan awanpanas kecil, dapat berlangsung lama (bulanan).

Kronologi B: Dalam kronologi B ini, pada awalnya telah ada kubah lava di puncak Merapi. Fase utama berupa letusan vulkanian bersumber di kubah lava dan menghancurkan kubah lava yang ada. Letusan menghasilkan asap letusan vulkanian (contoh: asap cendawan letusan 1997). Material kubah yang hancur sebagian menjadi awanpanas yang menyertai letusan vulkanian tersebut. Fase akhir diisi dengan pertumbuhan lava baru pada bagian kubah yang hancur atau disamping kubah.

Kronologi C: mirip dengan kronologi B, hanya saja pada awalnya tidak terdapat kubah lava tetapi sumbat lava yang menutup kawah Merapi. Oleh adanya sumbat lava tersebut, fase utama berupa letusan vulkanian dengan awanpanas lebih besar (type St. Vincent ?). Fase akhir dari kronologi letusan yaitu berupa pembentukan kubah lava baru.

Kronologi D:Fase awal berupa letusan vertikal kecil. Fase utama berupa pembentukan sumbat lava yang kemudian diikuti dengan fase akhir berupa letusan vertikal yang cukup signifikan. Pada letusan “D” ini, karena sumbat lava cukup besar, letusan cukup dahsyat, relatif untuk Merapi, yang menghasilkan awanpanas besar dan asap letusan tinggi.

Dalam kenyataan, terutama dari pemantauan aktivitas letusan dengan lebih seksama sejak tahun 1984, batas-batas antara jenis kronologi letusan sebagaimana yang disajikan Hartman di atas sering tidak jelas. Sebagai contoh, letusan 1984 fase awal berupa kejadian awanpanas yang kemudian langsung disusul dengan letusan. Pada fase akhir terjadi guguran lava pijar. Contoh letusan 1984 ini menjadi gabungan dari kronologi A dan B. Kejadian longsoran kubah yang terjadi pada tahun 1994 sulitjuga dimasukkan dalam kronologi Hartman walaupun longsoran juga menghasilkan awanpanas dan letusan.

Kronologi Hartman paling tidak memberikan gambaran pada pentingnya peranan kubah lava dalam setiap aktivitas Merapi. Dan dari penelitian geologi diperoleh hasil bahwa pada perioda Merapi Baru, terutama dalam 600 tahun terakhir, aktivitas Merapi didominasi oleh pembentukan kubah lava dan letusan-letusan kecil yang tidak lebih dari VEI 3 yang disertai awanpanas. Produk dari kejadian letusan-letusan tersebut, bila diltinjau dari pembagian kelompok endapan (Andreastuti, 1999), maka endapan yang terbentuk dapat digolongkan dalam kelompok 1, dan menghasilkan lava, awanpanas atau surge; dan kelompok 2 yang terutama terdiri dari asosiasi endapan awanpanas dan surge.

Endapan hasil letusan yang sekarang meskipun cukup tebal (mencapai 8m), namun karena merupakan endapan awanpanas yang sebarannya di lembah-lembah, maka letusanya relatif kecil. Sedangkan letusan pra-1800, karena hasilnya berupa endapan jatuhan yang ketebalannya dan merata di sekitar gunung, maka letusannya lebih besar. Letusan yang menghasilkan awanpanas tekanan internal dari magma lebih kecil daripada letusan yang menghasilkan endapan jatuhan.

Studi stratigrafi (Andreastuti,1999) yang dilakukan pada tephra Merapi telah memberikan gambaran yang lebih jelas tentang aktivitas letusan Merapi. Letusan yang tercatat dalam sejarah, pada umumnya hanya berupa letusan kecil yang terpusat di puncak. Awanpanas dari bongkaran kubah menjadi ciri utama aktivitas Merapi saat ini. Namun demikian dalam jangka yang lebih panjang analisa stratigrafi menunjukkan bahwa Merapi juga menghasilkan letusan-letusan yang besar. Andreastuti (1999) membagi kurun waktu aktivitas Merapi menjadi 3 episode yaitu Episode I (2990-1960 BP), Episode II (1960-780 BP) dan Episode III (780 BP sekarang). Letusan Merapi saat itu digolongkan dalam type plinian (sangat explosif).

Dari indentifikasi ditemukan bahwa dalam kurun waktu 3000 tahun terakhir terdapat sejumlah 7 letusan skala besar (skala VEI 4, plinian dan subplinian). Sebagai ilustrasi seberapa besar letusan tersebut, misalnya pada letusan yang menghasilkan tephra di Selokopo, sekitar 500 BP, terjadi letusan dengan kolom asap letusan yang diperkirakan setinggi 15 kilometer di atas puncak dan dengan volume material yang diletuskan sebesar 0.26 km3 (260 juta m3, bandingkan dengan produk letusan 1998 yang hanya 8 juta m3).

Dalam jangka panjang perubahan trend letusan Merapi dimungkinkan oleh adanya perubahan komposisi kimia magmanya.

Pada Episode I, magma Merapi mempunyai komposisi medium-K (1.3-2.0%), sedangkan pada Episode Ill mempunyai komposisi high-K (2.0 – 2.5 %). Episode II merupakan episode transisi dari medium-K ke high-K. Dari kandungan Si02 nya, walaupun terdapat fluktuasi komposisi Si02 antara 51 % sampai 57 %, terdapat kecenderungan jangka panjang bahwa komposisi Si02 semakin besar. Kemungkinan letusan Merapi yang lebih besar dapat terjadi oleh adanya perubahan kandungan air (H20) dalam magma dan proses kristalisasi yang terjadi di dapur magma (del Marmol, 1989). Proses kristalisasi dan kandungan air yang tinggi menghasilkan unsur volatile yang merupakan sumber dari peningkatan tekanan dalam magma.

Awan Panas

AWANPANAS

Istilah awanpanas dipakai untuk menyebut aliran suspensi dari batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu masa gas vulkanik panas yang keluar dari gunungapi dan mengalir turun mengikuti lerengnya dengan kecepatan bisa lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan km. Aliran turbulen tersebut dari jauh tampak seperti awan bergulung-gulung menuruni lereng gunungapi dan bila terjadi malam hari terlihat membara. Awanpanas biasanya tidak segemuruh longsoran biasa karena tingginya tekanan gas pada material menyebabkan benturan antar batu-batu atau material di dalam awanpanas tidak terjadi dengan kata lain benturan teredam oleh gas. Penduduk sekitar Merapi menyebut awanpanas sebagai wedhus gembel dalam bahasa Jawa berarti domba karena secara visual kenampakan awanpanas seperti domba-domba menyusuri lereng. Istilah ini diperkirakan telah dipakai sejak berabad-abad oleh penduduk setempat (lebih tua dari pada istilah nuee-ardente).

Awan panas Merapi dibedakan atas awan panas letusan dan awan panas guguran. Awan panas letusan terjadi karena hancuran magma oleh suatu letusan. Partikel-partikel terlempar secara vertical dan horizontal. Kekuatan penghancuran material magma saat letusan ditentukan oleh kandungan gas vulkanik dalam magma. Awanpanas guguran terjadi akibat runtuhnya kubah lava bersuhu sekitar 500-600°C oleh tekanan magma dan pengaruh gravitasi. Proses awal yang memicu longsornya kubah dapat di timbulkan oleh tiga sebab :

  1. Longsor biasa yang sebagaimana sering terjadi di daerah lereng-lereng pegunungan. Peranan hujan menjadi faktor utama yang menimbulkan ketidakstabilan. Di daerah lereng pegunungan air hujan masuk dalam struktur tanah dan memperkecil gaya gesek pada bidang gelincir sehingga tidak dapat lagi menahan berat lereng. Dalam hal kubah lava Gunung Merapi, air hujan yang masuk ke dalam kubah lava mengalami pemanasan sehingga menjadi gas yang bertekanan cukup tinggi untuk mengganggu kestabilan kubah. Kohesi material penyusun tubuh kubah lava mengecil sehingga mudah muncul longsoran kecil maupun besar.
  2. Longsoran dipicu oleh suatu letusan kecil (lokal) yang terjadi di kubah lava. Gas bertekanan tinggi dalam kubah lava dapat memicu terjadinya letusan kecil setempat yang terjadi di permukaan kubah lava. Tekanan yang dilepaskan secara mendadak dapat mengganggu kestabilan kubah secara keseluruhan sehingga kubah dapat mengalami longsoran besar.
  3. Longsornya kubah dapat pula karena adanya dorongan dari bawah yaitu dari pipa magma gunungapi sehingga kubah lava bergeser dan akhirnya longsor. Karena adanya faktor gravitasi, tekanan dari bawah yang tidak terlalu besar sudah cukup untuk mengganggu kestabilan kubah.

Karena awanpanas jenis ini terbentuk terutama karena pembongkaran kubah lava yang sudah ada sebelumnya oleh proses gravitasi, fragmen penyusun awan panasnya relatif besar. Demikian pula kekuatan luncurnya terutama hanya oleh beratnya sendiri sehingga jangkauan atau jarak luncurnya tidak begitu besar. Kecenderungan arah luncuran masa awanpanas ditentukan oleh arah aliran-aliran hulu sungai di lereng gunungapi yang berada di bawah posisi kubah lava yang terluncurkan. Material beratnya akan meluncur di dalam alur sungai, sedangkan awan yang kelihatan bergulung-gulung akan menyelimuti aliran masa awan panas dan melebar ke tepian alur hulu sungai di kiri kanan dari alur tersebut. Jarak jangkau awanpanas ditentukan oleh kecepatan alirnya yang tergantung pada morfologi dan kelerengan/ gradien alur lembah sungai.

Kekuatan awanpanas dalam membawa material berukuran besar dan bongkahan bongkahan merupakan ciri utama dari alirannya. Endapan awanpanas tersusun dari dua bagian, yaitu bagian bawah, beberapa meter atau puluhan meter tebalnya, biasanya di dasar lembah sungai terdiri dari material berbutir kasar. Bagian atas terdiri dari endapan material abu. Menurut Fisher & Schmincke (1984), endapan awanpanas bervariasi dan mencerminkan berbagai tipe letusan dan pengendapan. Kejadian letusan awanpanas itu sendiri dapat menghasilkan asosiasi endapan awanpanas dan piroklastik surge atau hanya awanpanas atau piroklastik surge saja. Perbedaan dari dua jenis endapan ini terlihat dari pemilahan dan struktur endapannya. Endapan awanpanas terpilah buruk dan masif sedangkan piroklastik surge mempunyai pemilahan butir yang lebih baik, berukuran lebih halus dan memiliki struktur lapisan. Proses pengendapan awanpanas terjadi pada dasar lembah dan menjauh dari sumber endapannya akan menebal.

Awanpanas yang terjadi di Gunung Merapi umumnya termasuk dalam awan panas guguran. Gaya berat kubah lava atau bagian dari kubah lava yang runtuh menentukan laju dari awan panas. Semakin besar volume yang runtuh akan semakin cepat laju awanpanas dan semakin jauh jarak jangkaunya. Pada umumnya kubah lava yang terbentuk di puncak berbentuk memanjang menjulur ke arah lerengnya. Orientasi dari kubah lava ini yang menentukan arah awanpanas yang akan terjadi. Namun demikian kubah lava di puncak Merapi tidak tunggal dalam arti ada banyak kubah lava yang tidak runtuh dan kemudian menjadi bagian dari morfologi puncak gunung Merapi. Ada kecenderungan bahwa kubah lava yang lebih baru lebih tidak stabil dibanding kubah lava yang lebih dulu terbentuk. Kestabilan kubah lava juga sangat tergantung dari keadaan dasar kawah di mana suatu kubah terbentuk.

Suhu awan panas dipelajari dengan menganalisa arang kayu dari pepohonan yang terlanda awanpanas dan kemudian terbenam dalam endapan awanpanas. Pengambilan contoh arang dilakukan dari endapan awanpanas yang ada, terutama pada endapan tua. Suhu awanpanas Gunung Merapi, dibandingkan dengan awanpanas dari gunung lain dengan letusan yang lebih besar, tidak begitu tinggi. Dari analisa diperoleh data bahwa suhu awanpanas Merapi hanya sekitar 250°C. Walaupun data ini baru dari contoh yang terbatas, hasil ini menunjukkan bahwa suhu awanpanas Merapi minimal 250°C.