KARAKTERISTIK GUNUNG MERAPI

SISTIM VULKANIS

Ada beberapa factor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi diantaranya : (1) sifat magma termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air, (2) struktur dan dimensi pipa saluran magma dan (3) posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan. Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunungapi-gunungapi di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik. Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu “mati”, yang lain sangat aktif.

Erupsi Merapi terjadi relatif sering hal ini ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi, tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. Pada kedalaman 1.5 – 2 km di bawah puncak tidak dijumpai adanya hiposenter gempa, demikian pula pada kedalaman >5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.

Gambar di atas menunjukkan penampang skematik dari struktur geometri internal Merapi. Dimensi kantong magma (atas) dan dapur magma (bawah) adalah perkiraan.

Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma bila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana. Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0.1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3 yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing >40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.

Open Theatre

Persis di belakang gedung C terdapat OPEN THEATRE menghadap ke arah utara, dengan latar belakang keindahan panorama Gunung Merapi yang dapat difungsikan sebagai acara :

  • Pentas seni
  • Senam bersama
  • Gathering
  • Kegiatan sosial
  • Acara Komunitas
  • Olahraga
  • Kegiatan sosial
  • Kegiatan Outdoor lainnya

 

 

 

Halaman Parkir MGM

 

Museum Gunungapi Merapi ( MGM ) memiliki fasilitas halaman parkir yang sangat memadai.

Ruang parkir kendaraan bermotor roda dua disediakan di sisi kiri pintu masuk museum yang dapat menampung kendaraan dalam jumlah ratusan.

Pun demikian buat para pengunjung Museum yang menggunakan kendaraan bermotor roda 4, baik kendaraan pribadi maupun Bis untuk rombongan, disediakan di sisi kanan pintu masuk museum. Sangat nyaman, mudah diakses dan tentu saja, udara yang sejuk serta pemandangan Gunung Merapi dapat langsung dinikmati sebagai suguhan kali pertama para pengunjung menginjakkan kaki di halaman parkir Museum Gunungapi Merapi ( MGM ).

Tidak hanya itu, para pengunjung Museum juga dapat melihat barisan Jeep yang menawarkan paket wisata “Lava Tour Merapi” sebagai bagian dari rangkaian kunjungan menikmati wisata sejarah, geologi hingga wisata alam di seputaran Gunung Merapi yang menawan.

Halaman parkir Museum Gunungapi Merapi juga menjadi tempat anjangsana para komunitas dari berbagai dimensi, misal : Komunitas Suzuki Katana, menjadi tempat berkumpul para Komunitas Motor CB seluruh Indonesia, menjadi titik kumpul para pecinta sepeda dan lain sebagainya.

Karena halaman parkir MGM yang memiliki space serta background alami yaitu Gunung Merapi menjadikan Museum Gunungapi Merapi ( MGM ) sering digunakan untuk acara yang bersifat Lokal maupun Nasional.

 

Produk Hasil Letusan Gunungapi

Letusan gunung berapi St. Helens (AS), 22 Juli 1980

Letusan gunung merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.

Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Read More

Fasilitas MGM

Fasilitas Umum :

  • Kamar Mandi
  • Parkir Luas
  • Souvenir Shop
  • Kantin
  • Koperasi
  • Ruang Audio Visual

Koleksi Lantai 2

  • Meliputi display-display letusan Gunung Merapi, alat peraga Tsunami, serta ruang pemutaran film tentang kegunungapian.

Koleksi Lantai 1

  • Meliputi filosofi kegunungapian dan alat peraga kegempaan serta tempat pengumpulan dan perarsipan benda bernilai yang berkaitan dengan Gunung Merapi dan Gunungapi pada umumnya.

Peta Kawasan Gempa Bumi

KODE : L1.SB.D5


Zona Rawan “Local Site Effect” Gempa bumi di Yogyakarta Oleh: Daryono Sucipto BMKG

Oleh: Daryono SUcipto BMKG
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Daerah Yogyakarta dan sekitarnya, secara tektonik merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi ini disebabkan karena daerahnya yang berdekatan dengan zona tumbukan lempeng di Samudera Indonesia. Di samping sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas tumbukan lempeng tektonik, daerah Yogyakarta juga sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Kondisi tektonik semacam ini menjadikan daerah Yogyakarta dan sekitarnya sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks.

Berdasarkan data sejarah kegempaan Jawa, daerah Yogyakarta sudah beberapa kali mengalami gempa bumi merusak, yaitu pada tahun 1840 (terjadi tsunami), 1859 (terjadi tsunami), 1867 (5 orang tewas, 372 rumah roboh), 1875 (skala intensitas mencapai V-VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1937 (skala intensitas mencapai VII-IX MMI, 2.200 rumah roboh), 1943 (250 orang tewas, 28.000 rumah roboh), 1957 (skala intensitas mencapai VI MMI), 1981 (skala intensitas mencapai VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1992 (skala intensitas mencapai V MMI), 2001(skala intensitas mencapai V MMI), 2004 (skala intensitas mencapai V MMI) dan 2006 (6.000 orang tewas, lebih dari 1.000.000 rumah rusak berat). Gempa bumi Yogyakarta 10 Juni 1867 terjadi pada masa kolonial Belanda. Akibat gempa bumi ini tercatat 372 rumah roboh dan menewaskan 5 orang.

Berdasarkan kajian pustaka, kerusakan parah akibat gempa bumi terkonsentrasi di daerah Bantul. Catatan sejarah menunjukkan bahwa getaran dirasakan di kota Yogyakarta sangat dahsyat mencapai skala intensitas VIII hingga IX MMI. Saat itu kerusakan tidak saja melanda permukiman penduduk Yogyakarta, tetapi beberapa bagian dari bangunan Kraton Yogyakarta juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Para ahli geologi menduga bahwa gempa bumi kuat ini memiliki episentrum yang berada di daratan, pada suatu kawasan di sepanjang sesar Sungai Opak. Berdasarkan lokasi dan tingkat kerusakan parah yang ditimbulkan, diperkirakan gempa bumi ini memiliki magnitudo di atas 6.0 Skala Richter.

Menurut ahli geologi berkebangsaan Belanda, Van Bemmelen (1949), daerah Yogyakarta, juga pernah dilanda gempa bumi merusak dengan spektrum getaran yang sangat luas pada 23 Juli 1943. Gempa bumi besar ini terjadi pada masa pendudukan kolonial Jepang. Kota-kota yang mengalami kerusakan berat adalah Pacitan, Klaten, Yogyakarta, Bantul, Purworejo, Kebumen, Cilacap, Tegal dan Purwokerto. Korban yang tewas akibat gempa bumi ini mencapai sekitar 250 orang, lebih dari 4.500 orang menderita luka parah dan sebanyak 28.000 rumah penduduk mengalami rusak berat.

Para ahli kebumian memperkirakan episentrum gempa bumi dahsyat ini terletak di Samudera Indonesia kira-kira 100 kilometer sebelah selatan Kota Kebumen. Dengan mempertimbangkan model pola subduksi lempeng di selatan Jawa serta dengan memperhatikan landainya zona Benioff di kawasan ini, tampaknya hiposenter diperkirakan dangkal, tidak melebihi 60 kilometer. Sesar-sesar lokal yang masih aktif yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta serta jenis tanah yang gembur dengan kandungan air tanah cukup tinggi tampaknya telah mengamplifikasi getaran gempa bumi hingga menyebabkan kerusakan parah di daerah tersebut. Yang penting dicatat di sini adalah bahwa rumah yang roboh atau rusak berat bukanlah rumah-rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu, serta tidak pula rumah-rumah penguasa kolonial yang dibangun dengan konstruksi baik, tetapi rumah-rumah milik kelas menengah tempo doeloe yang dibuat dari batu bata yang tidak begitu kuat.

Gempa bumi Jawa Tengah dan Yogyakarta ini merupakan contoh klasik gempa bumi subduksi dangkal yang berpusat di cekungan busur luar Jawa. Terakhir, pada 27 Mei 2006, daerah Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya Bantul kembali diguncang gempa bumi tektonik yang sangat dahsyat. Meskipun kekuatan gempa bumi relatif kecil, hanya 6.4 Skala Richter, namun telah mengakibatkan lebih dari 6.000 korban tewas, lebih dari 40.000 korban luka-luka dan lebih dari 1.000.000 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Zona Paling Rawan Ada sebuah fenomena menarik, dimana daerah kerusakan paling parah akibat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah membentuk suatu pola spasial yang unik. Daerah kerusakan parah membentuk sabuk yang membujur dalam arah Baratdaya-Timurlaut, meliputi Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan. Fakta ini dapat dilihat pada peta agihan kerusakan gempa bumi hasil pantauan satelit yang menunjukkan adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang paralel dengan jalur sesar Sungai Opak.

Pada awalnya, para ahli ilmu kebumian berpendapat bahwa daerah kerusakan yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak disebabkan oleh aktivitas gempa bumi yang dipicu oleh reaktivasi sesar Sungai Opak. Pendapat ini kemudian menjadi pro dan kontra setelah ditentukan episentrum gempa bumi terletak pada koordinat -8.03 LS dan 110.54 BT, tepatnya pada jarak sekitar 20 kilometer di sebelah timur sesar Sungai Opak. Episentrum gempa bumi utama (mainshock) ini dinilai lebih akurat, karena didukung dengan data sebaran episentrum gempa bumi susulan (aftershock) yang terkonsentrasi di sebelah timur Sesar Opak.

Gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah menyimpan beberapa keganjilan dan tanda tanya terkait dengan lokasi episentrum dan sebaran kerusakannya. Berdasarkan peta rasio kerusakan yang ada, ternyata daerah kerusakan paling parah adalah Kecamatan Pundong, Jetis, Pleret (rasio kerusakan: 75-100%) yang lokasinya berjarak lebih dari 20 km dari episentrum gempa bumi. Daerah-daerah di perbukitan Baturagung dan Wonosari yang lokasinya lebih dekat dengan episentrum gempa bumi justru mengalami kerusakan ringan (rasio kerusakan: <6.25%).

Fakta ini menunjukkan bahwa teori yang menyatakan bahwa intensitas kerusakan gempa bumi akan menurun terhadap bertambahnya jarak dari episentrum gempa bumi tidak sepenuhnya benar. Distribusi kerusakan gempa bumi yang membentuk pola “sabuk kerusakan” yang paralel dengan sesar Sungai Opak saat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, merupakan tanda tanya besar yang perlu dicari jawabannya. Ini penting, mengingat lokasi episentrum gempa bumi tidak terletak pada jalur Sesar Opak.

Hasil kajian indeks kerawanan seismik berdasarkan pengukuran mikrotremor di daerah Bantul telah berhasil memberi jawaban adanya fenomena efek tapak lokal (local site effect) di daerah ini. Ada beberapa kesimpulan yang dihasilkan dari kajian indeks kerawanan seismik di Yogyakarta. Pertama, tingkat kerusakan gempa bumi ternyata dikontrol oleh karakteristik bentuk lahan dan tingkat kerusakan gempa bumi tidak dipengaruhi oleh jarak dari pusat gempa bumi. Kedua, distribusi kerusakan gempa bumi yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak ternyata tidak disebabkan oleh adanya reaktivasi sesar seperti yang diprediksi oleh para ahli sebelumnya. Adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang pola sebarannya sesuai dengan zona paling rawan yang mencakup wilayah Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan merupakan cerminan local site effect akibat adanya endapan material sedimen Gunungapi Merapi.

Zona paling rawan tersebut merupakan daerah yang memiliki indeks kerawanan seismik paling tinggi hasil pengukuran mikrotremor di Yogyakarta. Fakta ini diungkap tidak bermaksud untuk memberikan rasa takut kepada masyarakat. Fakta mengenai kerawanan seismik suatu kawasan justru harus diungkap dan disosialisasikan untuk membangun kapasitas diri seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi yang mungkin terjadi di masa mendatang. Sangat jarang dipahami oleh masyarakat awam bahwa gempa bumi kuat merupakan suatu siklus dan akan berulang kembali pada periode tertentu. Kondisi ini akan terus menerus berlangsung dan berulang kembali membentuk sebuah siklus periode ulang gempa bumi di suatu kawasan tertentu.

Jika mencermati fakta sejarah kegempaan Yogyakarta, sejak dahulu daerah Bantul merupakan kawasan yang selalu mengalami kerusakan paling parah setiap terjadi gempa bumi. Kondisi alam semacam ini merupakan sebuah kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Bantul, sehingga suka tidak suka, semua itu harus dihadapi oleh penduduk yang tinggal di kawasan seismik aktif. Oleh karena itu pemahaman tentang manajemen bencana perlu dimengerti dan dikuasai oleh seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, maupun swasta guna menekan sekecil mungkin jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda yang mungkin timbul jika terjadi gempa bumi. q-c-(1607-2009).

*) Daryono SSi MSi, Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Mitos Gunungapi Bromo Rara Anteng & Joko Seger

KODE : L1.SB.D3


Legenda Gunung Bromo berkaitan dengan legenda kawasan Tengger. Menurut legenda, pada akhir abad 15, seorang putri keturunan kerjaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan Joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng ( Teng ) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan, kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikarunia keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.

Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkan 25 orang puta-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega apabila kehilangan putra putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib “Saudara-saudaaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widi menyelematkan kalian semua. Hiduplah damai dan tentram, sembahlah Sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke 14 mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga dan binatang peliharaan kepada Sang Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.

MOUNT BROMO MITHOLOGY RARA ANTENG & JOKO SEGER
The legend of Mount bromo reated to the region of Tengger. According to this legend, at the end of the 15th century a princess named Roro Anteng from Majapahit who started a principality with her husband, Joko Seger. They named the principally Tengger, on amalgam of the last syllable of both their names, Rara Anteng ( Teng ) and Joko Seger ( Ger ).
Being childless for many years, they made a trip up Mount Bromo to seek the help of the mountain gods in granting them a child. The god agreed to their request, but demanded that they have to sacrifice their younger child to Bromo crater.

Many years later they had 25 children. When the last and final child was born Roro Anteng and Joko Seger refused to do the sacriface as promised. The god then threatened with fire and brimstone until Raden Kesuma finally relented. After the child was thrown into the crater of the volcano, his voice was heard asking that an annual ceremony be performed to appease the gods. The ceremony was still being performed to this day. It takes place on the 14th day of the full moon Kasodo, according to the Tenggerese calendar. Rice, fruits, vegetables, flowers and livestock are offered to the mountain of gods.

Cara Penyelamatan Diri dari Ancaman Bahaya Gunungapi

KODE : L1.SB.D1


Indonesia masih memiliki Gunung Api yang Aktif, beberapa di antaranya sudah sempat meletus, sebut saja Gunung Merapi Yogyakarta dan Gunung Sinabung. Gunung api masih menjadi ancaman bagi masyarakat karena sewaktu waktu bisa saja Erupsi. Tentu hal ini perlu di waspadai. Letusan gunung api memberikan dampak positif bagi manusia dan juga bagi lingkungan. Salah satunya adalah letusan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S, No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa partike debu yang berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.

Letusan Gunung Api bisa membuat kelumpuhan ekonomi karena aktifitas masyarakat di wilayah gunung api akan terganggu. Oleh sebab itu banyak yang perlu di perhatikan untuk menghadapi letusan gunung api. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran gunung api aktif perlu tetap waspada dan perlu mempersiapkan dari sekarang karena erupsi bisa terjadi secara tiba tiba.

Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi

  • Kenali daerah setempat dalam menentukan tempat aman untuk mengungsi. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi awal saat gunung api baru Erupsi dan sambil menunggu bantuan dari Dinas Terkait
  • Membuat perencanaan penanganan bencana erupsi gunung api.
  • Mempersiapkan pengungsian saat diperlukan
  • Mempersiapkan kebutuhan dasar seperti, makanan, minuman, serta obat obatan

Jika Terjadi Letusan Gunung Api

  • Pergi menjauh dari area gunung terutama area berbahaya seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
  • Jika berada di tempat terbuka, tetap lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Waspadai karena sewaktu waktu bisa terjadi letusan susulan.
  • Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
  • Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
  • Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.

Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi

  • Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
  • Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
  • Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin

Erupting Mountain Volcano Mt Merapi Full Moon

CARA PENYELEMATAN DIRI DARI ANCAMAN BAHAYA GUNUNGAPI
Apa yang harus dilakukan untuk menghindari ancaman bahaya letusan gunungapi ?

1. Awan panas :
a. Menjauh dari kawasan rawan bahaya ancaman aliran piroklastika
b. Menjauh dari lembah sungai yang berhulu di puncak gunungapi.

2. Aliran lava :
Meskipun aliran lava memiliki kecepatan aliran yang lambat, jangan berada di lembah sungai yang menjadi zona aliran lava.

3. Lontaran batu (pijar) :
a. Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana lontaran batu terutama di sekitar puncak gunungapi atau kawah.
b. Saat berlari menghindari lontara batu, selalu melihat ke atas untuk mengetahui arah lontaran batu.

4. Gas beracun :
a. Menjauhkan diri dari sumber keluarnya gas beracun;
b. Menjauhkan diri dari lembah, celah dan cekungan pada saat cuaca mendung, hujan dan berkabut
c. Gunakan masker gas atau kain penutup hidung yang dibasahi air.
d. Membawa obor atau api untuk mendeteksi keberadaan gas beracun. Api akan mati tanpa tertiup angin.

5. Hujan abu :
a. Berlindung di dalam bangunan permanen beratap kokoh.
b. Bersihkan atap rumah dengan menyemprotkan air sehingga beban abu terhadap bangunan menjadi berkurang
c. Menggunakan masker dan kaca mata
d. Buah-buahan dan sayuran yang berasal dari kebun yang terkena abu letusan harus dibersihkan terlebuh dahulu dengan air.

6. Lahar hujan :
Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aliran lahar, terutama di lembah-lembah sungai yang berhulu di daerah puncak.

HOW TO SURVIVE FROM VOLCANOES ERUPTION
1. Pyroclastic Flows :
a. Keep out from hazard zone of pyroclastic flows hazard
b. Keep out from the river valley originated from the summit areas.

2. Lava flow :
Even though lava flows is slower than pyroclastic flows and lahars, keep out from river valley that may be inundated by lava flows.

3. Ballistic trajectory :
Keep out from hazard zone of ballistic trajectory hazard particularly in the summit area.
Pay attention of trajectories while you run away.

4. Toxic Gas :
a. Keep out from source of volcanic gases.
b. Do not stay on the valley, creek, or low topographic area when a cloudy condition and rainfall.
c. Wear gas masker or wet towels.
d. Bring a torch or gasoline to detect gases.

5. Ash :
a. Stay in the building with a permanent roof support.
b. Keep roofs free of thick accumulation of ash, sweep or shovel ash from roofs.
c. Wear dust masker and google.
d. You may eat vegetables and fruits from the garden, but wash it s first.

6. Lahars :
Keep out from river valley originating fom the summit area, which may be inundated by lahars.