Mitos Gunungapi Bromo Rara Anteng & Joko Seger

KODE : L1.SB.D3


Legenda Gunung Bromo berkaitan dengan legenda kawasan Tengger. Menurut legenda, pada akhir abad 15, seorang putri keturunan kerjaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan Joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng ( Teng ) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan, kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikarunia keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.

Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkan 25 orang puta-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega apabila kehilangan putra putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib “Saudara-saudaaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widi menyelematkan kalian semua. Hiduplah damai dan tentram, sembahlah Sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke 14 mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga dan binatang peliharaan kepada Sang Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.

MOUNT BROMO MITHOLOGY RARA ANTENG & JOKO SEGER
The legend of Mount bromo reated to the region of Tengger. According to this legend, at the end of the 15th century a princess named Roro Anteng from Majapahit who started a principality with her husband, Joko Seger. They named the principally Tengger, on amalgam of the last syllable of both their names, Rara Anteng ( Teng ) and Joko Seger ( Ger ).
Being childless for many years, they made a trip up Mount Bromo to seek the help of the mountain gods in granting them a child. The god agreed to their request, but demanded that they have to sacrifice their younger child to Bromo crater.

Many years later they had 25 children. When the last and final child was born Roro Anteng and Joko Seger refused to do the sacriface as promised. The god then threatened with fire and brimstone until Raden Kesuma finally relented. After the child was thrown into the crater of the volcano, his voice was heard asking that an annual ceremony be performed to appease the gods. The ceremony was still being performed to this day. It takes place on the 14th day of the full moon Kasodo, according to the Tenggerese calendar. Rice, fruits, vegetables, flowers and livestock are offered to the mountain of gods.

Comments

comments