Peta Kawasan Gempa Bumi

KODE : L1.SB.D5


Zona Rawan “Local Site Effect” Gempa bumi di Yogyakarta Oleh: Daryono Sucipto BMKG

Oleh: Daryono SUcipto BMKG
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta

Daerah Yogyakarta dan sekitarnya, secara tektonik merupakan kawasan dengan tingkat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi ini disebabkan karena daerahnya yang berdekatan dengan zona tumbukan lempeng di Samudera Indonesia. Di samping sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas tumbukan lempeng tektonik, daerah Yogyakarta juga sangat rawan gempa bumi akibat aktivitas sesar-sesar lokal di daratan. Kondisi tektonik semacam ini menjadikan daerah Yogyakarta dan sekitarnya sebagai kawasan seismik aktif dan kompleks.

Berdasarkan data sejarah kegempaan Jawa, daerah Yogyakarta sudah beberapa kali mengalami gempa bumi merusak, yaitu pada tahun 1840 (terjadi tsunami), 1859 (terjadi tsunami), 1867 (5 orang tewas, 372 rumah roboh), 1875 (skala intensitas mencapai V-VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1937 (skala intensitas mencapai VII-IX MMI, 2.200 rumah roboh), 1943 (250 orang tewas, 28.000 rumah roboh), 1957 (skala intensitas mencapai VI MMI), 1981 (skala intensitas mencapai VII MMI, terjadi kerusakan ringan di Bantul), 1992 (skala intensitas mencapai V MMI), 2001(skala intensitas mencapai V MMI), 2004 (skala intensitas mencapai V MMI) dan 2006 (6.000 orang tewas, lebih dari 1.000.000 rumah rusak berat). Gempa bumi Yogyakarta 10 Juni 1867 terjadi pada masa kolonial Belanda. Akibat gempa bumi ini tercatat 372 rumah roboh dan menewaskan 5 orang.

Berdasarkan kajian pustaka, kerusakan parah akibat gempa bumi terkonsentrasi di daerah Bantul. Catatan sejarah menunjukkan bahwa getaran dirasakan di kota Yogyakarta sangat dahsyat mencapai skala intensitas VIII hingga IX MMI. Saat itu kerusakan tidak saja melanda permukiman penduduk Yogyakarta, tetapi beberapa bagian dari bangunan Kraton Yogyakarta juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Para ahli geologi menduga bahwa gempa bumi kuat ini memiliki episentrum yang berada di daratan, pada suatu kawasan di sepanjang sesar Sungai Opak. Berdasarkan lokasi dan tingkat kerusakan parah yang ditimbulkan, diperkirakan gempa bumi ini memiliki magnitudo di atas 6.0 Skala Richter.

Menurut ahli geologi berkebangsaan Belanda, Van Bemmelen (1949), daerah Yogyakarta, juga pernah dilanda gempa bumi merusak dengan spektrum getaran yang sangat luas pada 23 Juli 1943. Gempa bumi besar ini terjadi pada masa pendudukan kolonial Jepang. Kota-kota yang mengalami kerusakan berat adalah Pacitan, Klaten, Yogyakarta, Bantul, Purworejo, Kebumen, Cilacap, Tegal dan Purwokerto. Korban yang tewas akibat gempa bumi ini mencapai sekitar 250 orang, lebih dari 4.500 orang menderita luka parah dan sebanyak 28.000 rumah penduduk mengalami rusak berat.

Para ahli kebumian memperkirakan episentrum gempa bumi dahsyat ini terletak di Samudera Indonesia kira-kira 100 kilometer sebelah selatan Kota Kebumen. Dengan mempertimbangkan model pola subduksi lempeng di selatan Jawa serta dengan memperhatikan landainya zona Benioff di kawasan ini, tampaknya hiposenter diperkirakan dangkal, tidak melebihi 60 kilometer. Sesar-sesar lokal yang masih aktif yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta serta jenis tanah yang gembur dengan kandungan air tanah cukup tinggi tampaknya telah mengamplifikasi getaran gempa bumi hingga menyebabkan kerusakan parah di daerah tersebut. Yang penting dicatat di sini adalah bahwa rumah yang roboh atau rusak berat bukanlah rumah-rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu, serta tidak pula rumah-rumah penguasa kolonial yang dibangun dengan konstruksi baik, tetapi rumah-rumah milik kelas menengah tempo doeloe yang dibuat dari batu bata yang tidak begitu kuat.

Gempa bumi Jawa Tengah dan Yogyakarta ini merupakan contoh klasik gempa bumi subduksi dangkal yang berpusat di cekungan busur luar Jawa. Terakhir, pada 27 Mei 2006, daerah Yogyakarta dan sekitarnya, khususnya Bantul kembali diguncang gempa bumi tektonik yang sangat dahsyat. Meskipun kekuatan gempa bumi relatif kecil, hanya 6.4 Skala Richter, namun telah mengakibatkan lebih dari 6.000 korban tewas, lebih dari 40.000 korban luka-luka dan lebih dari 1.000.000 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Zona Paling Rawan Ada sebuah fenomena menarik, dimana daerah kerusakan paling parah akibat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah membentuk suatu pola spasial yang unik. Daerah kerusakan parah membentuk sabuk yang membujur dalam arah Baratdaya-Timurlaut, meliputi Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan. Fakta ini dapat dilihat pada peta agihan kerusakan gempa bumi hasil pantauan satelit yang menunjukkan adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang paralel dengan jalur sesar Sungai Opak.

Pada awalnya, para ahli ilmu kebumian berpendapat bahwa daerah kerusakan yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak disebabkan oleh aktivitas gempa bumi yang dipicu oleh reaktivasi sesar Sungai Opak. Pendapat ini kemudian menjadi pro dan kontra setelah ditentukan episentrum gempa bumi terletak pada koordinat -8.03 LS dan 110.54 BT, tepatnya pada jarak sekitar 20 kilometer di sebelah timur sesar Sungai Opak. Episentrum gempa bumi utama (mainshock) ini dinilai lebih akurat, karena didukung dengan data sebaran episentrum gempa bumi susulan (aftershock) yang terkonsentrasi di sebelah timur Sesar Opak.

Gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006 telah menyimpan beberapa keganjilan dan tanda tanya terkait dengan lokasi episentrum dan sebaran kerusakannya. Berdasarkan peta rasio kerusakan yang ada, ternyata daerah kerusakan paling parah adalah Kecamatan Pundong, Jetis, Pleret (rasio kerusakan: 75-100%) yang lokasinya berjarak lebih dari 20 km dari episentrum gempa bumi. Daerah-daerah di perbukitan Baturagung dan Wonosari yang lokasinya lebih dekat dengan episentrum gempa bumi justru mengalami kerusakan ringan (rasio kerusakan: <6.25%).

Fakta ini menunjukkan bahwa teori yang menyatakan bahwa intensitas kerusakan gempa bumi akan menurun terhadap bertambahnya jarak dari episentrum gempa bumi tidak sepenuhnya benar. Distribusi kerusakan gempa bumi yang membentuk pola “sabuk kerusakan” yang paralel dengan sesar Sungai Opak saat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, merupakan tanda tanya besar yang perlu dicari jawabannya. Ini penting, mengingat lokasi episentrum gempa bumi tidak terletak pada jalur Sesar Opak.

Hasil kajian indeks kerawanan seismik berdasarkan pengukuran mikrotremor di daerah Bantul telah berhasil memberi jawaban adanya fenomena efek tapak lokal (local site effect) di daerah ini. Ada beberapa kesimpulan yang dihasilkan dari kajian indeks kerawanan seismik di Yogyakarta. Pertama, tingkat kerusakan gempa bumi ternyata dikontrol oleh karakteristik bentuk lahan dan tingkat kerusakan gempa bumi tidak dipengaruhi oleh jarak dari pusat gempa bumi. Kedua, distribusi kerusakan gempa bumi yang terkonsentrasi di sepanjang jalur sesar Sungai Opak ternyata tidak disebabkan oleh adanya reaktivasi sesar seperti yang diprediksi oleh para ahli sebelumnya. Adanya fenomena “sabuk kerusakan” yang pola sebarannya sesuai dengan zona paling rawan yang mencakup wilayah Kecamatan Pundong, Imogiri, Jetis, Pleret, Banguntapan dan Piyungan merupakan cerminan local site effect akibat adanya endapan material sedimen Gunungapi Merapi.

Zona paling rawan tersebut merupakan daerah yang memiliki indeks kerawanan seismik paling tinggi hasil pengukuran mikrotremor di Yogyakarta. Fakta ini diungkap tidak bermaksud untuk memberikan rasa takut kepada masyarakat. Fakta mengenai kerawanan seismik suatu kawasan justru harus diungkap dan disosialisasikan untuk membangun kapasitas diri seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi gempa bumi yang mungkin terjadi di masa mendatang. Sangat jarang dipahami oleh masyarakat awam bahwa gempa bumi kuat merupakan suatu siklus dan akan berulang kembali pada periode tertentu. Kondisi ini akan terus menerus berlangsung dan berulang kembali membentuk sebuah siklus periode ulang gempa bumi di suatu kawasan tertentu.

Jika mencermati fakta sejarah kegempaan Yogyakarta, sejak dahulu daerah Bantul merupakan kawasan yang selalu mengalami kerusakan paling parah setiap terjadi gempa bumi. Kondisi alam semacam ini merupakan sebuah kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Bantul, sehingga suka tidak suka, semua itu harus dihadapi oleh penduduk yang tinggal di kawasan seismik aktif. Oleh karena itu pemahaman tentang manajemen bencana perlu dimengerti dan dikuasai oleh seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, maupun swasta guna menekan sekecil mungkin jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda yang mungkin timbul jika terjadi gempa bumi. q-c-(1607-2009).

*) Daryono SSi MSi, Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Comments

comments