Sosialisasi Museum Gunungapi Merapi: Nilai Filosofi Sumbu Imajiner Dengan Peradaban Kehidupan Orang Jawa

Museum Gunungapi Merapi (MGM), Selasa 19 September 2017 mengadakan kegiatan sosialisasi dengan tema Nilai Filosofi Sumbu Imajiner Dengan Peradaban Kehidupan Orang Jawa. Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari kelompok kesenian dan kebudayaan yang akan mengikuti festival Sumbu Imajiner 2017 di Yogyakarta  dengan narasumber Dr. Djoko Dwiyanto, Msi., yang merupakan Dosen Arkeologi UGM.

 

Sosialisasi ini membagikan ilmu terkait dengan sumbu imajiner di Yogyakarta. Sumbu imajiner merupakan konsep filosofi tata ruang yang disusun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi – Tugu - Kraton Yogyakarta - Panggung Krapyak - Laut Selatan secara filisofi merupakan pertemuan sifat laki-laki yang digambarkan oleh Gunung Merapi (makro) dan Tugu (mikro) dengan sifat keperempuanan yang digambarkan oleh laut selatan (makro) dan Panggung Krapyak (mikro) yang akan melahirkan kesuburan. Sumbu imajiner memiliki makna perjalanan manusia dari lahir sampai kembali kepada sang Khalik. Gunung Merapi yang berada di bagian utara dilambangkan sebagai api, pantai selatan dilambangkan sebagai air, dan Kraton Yogyakarta berada di tengah-tengah yang merupakan titik imbang. Kraton menjadi titik keseimbangan antara hubungan vertikal dan horizontal. Secara simbolis filosofis, sumbu imajiner ini melambangkan konsep hablum minallah – sangkan paraning dumadi, dan hablum minannas – manunggaling kawula-Gusti.

Dari filosofi sumbu imajiner tersebut terdapat ajaran tata nilai budaya jawa oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I antara lain: Hamemayu Hayuning Bawono yang artinya perilaku yang mengutamakan keselarasan, keserasian dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan. Selain itu, terdapat Falsafah sewiji (bersatu), greget (semangat), sengguh (percaya dengan kemanpuan sendiri), dan ora mingkuh(bertanggung jawab).

Museum Gunungapi Merapi juga membahas keberadaan sumbu imajiner ini sebagai salah satu bagian budaya yang tidak bisa ditinggalkan jika membicarakan Gunung Merapi. Tidak hanya koleksi saja yang terkait dengan sumbu imajiner namun filosofi ini juga diwujudkan pada dasar arsitektur bangunan museum. Berbagai kosep nilai, moral, serta budaya luhur muncul dengan penuh pemikiran luhur. Sudah selayaknya museum ikut melestarikan dan menanamkan nilai-nilai tersebut sehingga tidak hanya terwujud dalam konsep tapi juga dalam kehidupan masyarakatnya.

Comments

comments