Indonesia masih memiliki Gunung Api yang Aktif, beberapa di antaranya sudah sempat meletus, sebut saja Gunung Merapi Yogyakarta dan Gunung Sinabung. Gunung api masih menjadi ancaman bagi masyarakat karena sewaktu waktu bisa saja Erupsi. Tentu hal ini perlu di waspadai. Letusan gunung api memberikan dampak positif bagi manusia dan juga bagi lingkungan. Salah satunya adalah letusan abu gunung berapi yang mengandung bermacam-macam gas mulai dari Sulfur Dioksida atau SO2, gas Hidrogen sulfide atau H2S, No2 atau Nitrogen Dioksida serta beberapa partike debu yang berpotensial meracuni makhluk hidup di sekitarnya.
Letusan Gunung Api bisa membuat kelumpuhan ekonomi karena aktifitas masyarakat di wilayah gunung api akan terganggu. Oleh sebab itu banyak yang perlu di perhatikan untuk menghadapi letusan gunung api. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran gunung api aktif perlu tetap waspada dan perlu mempersiapkan dari sekarang karena erupsi bisa terjadi secara tiba tiba.
Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi
Kenali daerah setempat dalam menentukan tempat aman untuk mengungsi. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi awal saat gunung api baru Erupsi dan sambil menunggu bantuan dari Dinas Terkait
Membuat perencanaan penanganan bencana erupsi gunung api.
Mempersiapkan pengungsian saat diperlukan
Mempersiapkan kebutuhan dasar seperti, makanan, minuman, serta obat obatan
Jika Terjadi Letusan Gunung Api
Pergi menjauh dari area gunung terutama area berbahaya seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
Jika berada di tempat terbuka, tetap lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Waspadai karena sewaktu waktu bisa terjadi letusan susulan.
Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi
Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin
Erupting Mountain Volcano Mt Merapi Full Moon
CARA PENYELEMATAN DIRI DARI ANCAMAN BAHAYA GUNUNGAPI
Apa yang harus dilakukan untuk menghindari ancaman bahaya letusan gunungapi ?
1. Awan panas :
a. Menjauh dari kawasan rawan bahaya ancaman aliran piroklastika
b. Menjauh dari lembah sungai yang berhulu di puncak gunungapi.
2. Aliran lava :
Meskipun aliran lava memiliki kecepatan aliran yang lambat, jangan berada di lembah sungai yang menjadi zona aliran lava.
3. Lontaran batu (pijar) :
a. Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana lontaran batu terutama di sekitar puncak gunungapi atau kawah.
b. Saat berlari menghindari lontara batu, selalu melihat ke atas untuk mengetahui arah lontaran batu.
4. Gas beracun :
a. Menjauhkan diri dari sumber keluarnya gas beracun;
b. Menjauhkan diri dari lembah, celah dan cekungan pada saat cuaca mendung, hujan dan berkabut
c. Gunakan masker gas atau kain penutup hidung yang dibasahi air.
d. Membawa obor atau api untuk mendeteksi keberadaan gas beracun. Api akan mati tanpa tertiup angin.
5. Hujan abu :
a. Berlindung di dalam bangunan permanen beratap kokoh.
b. Bersihkan atap rumah dengan menyemprotkan air sehingga beban abu terhadap bangunan menjadi berkurang
c. Menggunakan masker dan kaca mata
d. Buah-buahan dan sayuran yang berasal dari kebun yang terkena abu letusan harus dibersihkan terlebuh dahulu dengan air.
6. Lahar hujan :
Menjauhkan diri dari kawasan rawan bencana aliran lahar, terutama di lembah-lembah sungai yang berhulu di daerah puncak.
HOW TO SURVIVE FROM VOLCANOES ERUPTION 1. Pyroclastic Flows : a. Keep out from hazard zone of pyroclastic flows hazard b. Keep out from the river valley originated from the summit areas.
2. Lava flow : Even though lava flows is slower than pyroclastic flows and lahars, keep out from river valley that may be inundated by lava flows.
3. Ballistic trajectory : Keep out from hazard zone of ballistic trajectory hazard particularly in the summit area. Pay attention of trajectories while you run away.
4. Toxic Gas : a. Keep out from source of volcanic gases. b. Do not stay on the valley, creek, or low topographic area when a cloudy condition and rainfall. c. Wear gas masker or wet towels. d. Bring a torch or gasoline to detect gases.
5. Ash : a. Stay in the building with a permanent roof support. b. Keep roofs free of thick accumulation of ash, sweep or shovel ash from roofs. c. Wear dust masker and google. d. You may eat vegetables and fruits from the garden, but wash it s first.
6. Lahars : Keep out from river valley originating fom the summit area, which may be inundated by lahars.
( STONE COLLECTION FROM SEVERAL VOLCANIC IN INDONESIA )
Lava Alkaline Gunungapi Muria Jepara Jawa Tengah ( Alkaline Lava of Muria Volcano Jepara-Central Java )
Lava Andesit Gunungapi Sindoro Jawa Tengah ( Andesitic Lava of Sindoro Volcano – Central Java )
Lava Andesit Gunungapi Slamet-Jawa Tengah ( Andesitic Lava of Slamet Volcano – Central Java )
Dasit Gunung Kromong Cirebon – Jawa Barat ( Dacite of Mount Kromong Cirebon – Central Java )
Diorit Balukbuk Majalengka – Jawa Barat ( Diorite of Mount Balukbuk Majalengka-West Java )
Kubah Lava Gunungapi Kelud 2007 Kediri – Jawa Timur ( The 2007 Lava Dome of Kelud Volcano Kediri – East Java )
Bom Gunungapi Galunggung 1982 Tasikmalaya – Jawa Barat ( 1982 Volcanic Bomb of Galunggung Volcano Tasikmalaya – West Java )
Lava Basalt Gunungapi Dukono, Maluku Utara ( Basaltic Lava of Dukono – North Maluku )
Lava Basalt Gunungapi Tambora – Nusa Tenggara Barat ( Basaltic Lava of Tambora Volcano – West Nusa Tenggara )
Bom Gunungapi Anak Krakatau 2008 Selat Sunda ( The 2008 Volcanic Bomb of Anak Krakatau – Strait of Sunda )
Lava Basalt Gunungapi Guntur Garut – Jawa Barat ( Basaltic Andesit Lava of Guntur Volcano, Garut – West Java )
[FAG id=1564]
Berbagai macam makhluk hidup yang ada di alam dunia ini tidak terlepas dari adanya unsur batu. Dari bermacam macam batu yang mengalami proses penguraian, kemudian menjadi tanah dan dari tanah tersebut munculah berbagai macam kehidupan.
Berikut ketiga jenis batuan yang ada pada lapisan atmosfer bumi :
Batuan Beku
Batuan Sedimen
Batuan Metamorf
1.BATUAN BEKU
Batuan Beku adalah batuan yang terbentuk karena pembentukan magma dan lava yang membeku.
Apa itu magma dan lava?
Magma adalah batuan cair dan sangat panas yang berada di dalam kerak bumi/perut bumi.
Lava adalah magma yang mencapai permukaan bumi.
Jenis Batuan Beku :
– Batuan beku berdasarkan tempat pendinginannya atau pembekuannya, di bagi menjadi 3 yaitu
1. Batuan beku dalam/plutonik/intusif/tubir
Merupakan batuan yang terbentuk dari magma yang membeku jauh di dalam bumi dan hanya terdiri dari kristal saja. Proses pendinginan batuan beku dalam ini sangat lambat sekali, maka dari itu terjadi pengkristalan yang sempurna. Kristal batuan beku dalam ini besar – besar dan kasar.
Contoh : batu granit, batu gabbro, batu diorit, dan batu syenit.
2. Batuan beku gang/korok/celah
Merupakan batuan beku yang terbentuk magma yang membeku di dalam korok – korok atau gang – gang. Itu berarti letak pembekuan batuan beku korok ini lebih dekat dengan permukaan bumi dibandingkan batuan beku dalam. Karena letaknya yang lebih dekat dengan pemukaan bumi maka proses pendinginan magma disini juga terjadi lebih cepat. Maka dari itu pengkristalan yang terjadi juga tidak terlalu sempurna. Akibatnya batuan ini ada yang memiliki Kristal besar, Kristal kecil, dan bahkan tidak mengkristal, misalnya bahan amorf. Contoh : batu batu profir granit, batu profir gabbro, batu profir syenit, dan batu granit fosfir.
3. Batuan beku luar/leleran/ekstrusi/vulkanis
Magma yang keluar ke permukaan bumi disebut lava. Jika di luar pemukaan bumi, proses pendinginan lava akan berlangsung sangat cepat sekali, maka dari itu sangat kecil sekali terjadi proses kristalisasi pada batuan beku ini.
Contoh : batu rhyolit, batu andesit, batu trachit, batu basalt, batu obsidian, dan batu apung (purnice).
– Batuan beku berdasarkan kandungan SiO2 (menurut C. L Hugnes : 1962) batuan beku dibagi menjadi 4 yaitu :
1. Batuan beku ultra basa : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 kurang dari 45%.
Contohnya adalah batu basalt.
2. Batuan beku basa : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 antara 45% – 52%.
Contohnya adalah batu andesit.
3. Batuan beku intermediate : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 antara 52% – 66%.
Contohnya adalah batu dasit.
4.Batuan beku asam : batuan beku yang memiliki kandungan SiO2 lebih dari 66%.
Contohnya adalah batu riolit.
Contoh Batuan Beku :
1) Batu Apung
Ciri-ciri : warna keabu-abuan, berpori-pori, bergelembung, ringan, terapung dalam air
o Cara terbentuk : dari pendinginan magma yang bergelembung-gelembung gas
o Kegunaan : untuk mengamplas atau menghaluskan kayu, di bidang industri digunakan sebagai bahan pengisi (filler), isolator temperatur tinggi dan lain-lain.
2) Batu Obsidian
Batu Obsidian
Ciri : hitam, seperti kaca, tidak ada kristal-kristal
o Cara terbentuk : terbentuk dari lava permukaan yang mendingin dengan cepat
o Kegunaan : untuk alat pemotong atau ujung tombak (pada masa purbakala) dan bisa dijadikan kerajinan
3) Batu Granit
Batu Granit
Ciri : terdiri atas kristal-kristal kasar, warna putih sampai abu-abu, kadang-kadang jingga, Batuan ini banyak di temukan di daerah pinggiran pantai dan di pinggiran sungai besar ataupun di dasar sungai.
o Cara terbentuk : dari pendinginan magma yang terjadi dengan lambat di bawah permukaan bumi
o Kegunaan : sbg bahan bangunan
4) Batu Basalt
Batu Basalt
Ciri : terdiri atas kristal-kristal yang sangat kecil, berwarna hijau keabu-abuandan berlubang-lubang
o Cara terbentuk : dari pendinginan lava yanng mengandung gas tetapi gasnya telah menguap
o Kegunaan : sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan bangunan / pondasi bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll)
5) Batu Diorit
Batu Diorit
Ciri : Kelabu bercampur putih, atau hitam bercampur putih
o Cara terbentuk : dari hasil peleburan lantai samudra yang bersifat mafic pada suatu subduction zone, biasanya diproduksi pada busur lingkaran volkanis, dan membentuk suatu gunung didalam cordilleran ( subduction sepanjang tepi suatu benua, seperti pada deretan Pegunungan)
o Kegunaan : sbg batu ornamen dinding maupun lantai bangunan gedung dan sbg bahan bangunan (hiasan)
6) Batu Andesit
Batu Andesit
Ciri : batuan bertekstur halus, berwarna abu-abu hijau tetapi sering merah atau jingga
o Cara terbentuk : berasal dari lelehan lava gunung merapi yang meletus, terbentuk (membeku) ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 sampai dengan 1,100 derajat Celsius.
o Kegunaan : Nisan kuburan, Cobek, Arca untuk hiasan, Batu pembuat candi
7) Gabro
Batu Gabro
Ciri : Berwarna hitam, hijau, dan abu-abu gelap. Struktur batuan ini adalah massive, tidak terdapat rongga atau lubang udara maupun retakan-retakan. Batuan ini memeiliki tekstur fanerik karena mineral-mineralnya dapat dilihat langsung secara kasat mata dan mineral yang besar menunjukkan bahwa mineral tersebut terbentuk pada suhu pembekuan yang relatif lambat sehingga bentuk mineralnya besar-besar
o Cara terbentuk : terbentuk dari magma yang membeku di dalam gunung
o Kegunaan : untuk penghasil pelapis dinding ( sebagai marmer dinding )
8) Batu Liparit
Batu Liparit
Ciri : bertekstur porfiris dan umumnya berwarna putih, mineral pembentuknya feldspar, kuarsa, biotit dan mungkin juga mineral berwarna gelap.
o Cara terbentuk :
o Kegunaan :
2. BATUAN SEDIMEN
Batu Sedimen atau Endapan: batuan yang terbentuk karena pengendapan / hasil pelapukan dan pengikisan batuan yang dihanyutkan oleh air atau terbawa oleh tiupan angin. Kemudian endapan ini menjadi keras karena tekanan atau ada zat-zat yang merekat pd bagian-bagian endapan tersebut.Jenis Batuan Sedimen :
Berdasarkan tanaga/medium pengendapannya, batuan sedimen dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :
Batuan sedimen aeris atau aeolis : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan angin. Contoh : tanah loss, tanah tuf, dan tanah pasir di gurun.
Batuan sedimen glasial : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan es/gletser. Contoh : moraine.
Batuan sedimen aquatic : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan air. Contoh : breksi, konglomerat, batu pasir.
Batuan sedimen marine : batuan sedimen yang berasal dari pengendapan air laut.
Berdasarkan tempat pengendapannya, batuan sedimen dibedakan menjadi sebagai berikut :
Batuan sedimen teristis : batuan sedimen yang diendapkan di darat.
Batuan sedimen limnis atau lakustre : batuan sedimen yang diendapkan di danau. Contoh : tuff danau dan tanah liat danau
Batuan sedimen marine atau continental : batuan sedimen yang diendapkan di laut. Contoh tanah loss, tanah merah, dan tanah gurun pasir.
Batuan sedimen fluvial : batuan sedimen yang diendapkan di sungai.
Batuan sedimen glacial : batuan sedimen yang diendapakan di tempat yang terdapat es atau salju.
Berdasarkan cara pengendapannya, batuan sedimen di bedakan menjadi sebagai berikut :
Batuan sedimen klastis : batuan sedimen yang terbentuk dari pelapukan dan erosi dai jenis batuan lain yang kemudian molekulnya mengendap, bergabung dan mengeras menjadi satu. Contoh : breksi, batuan pasir.
Batuan sedimen kimia atau khemis : batuan sedimen yang terbentuk dari proses pelapukan kimiawi yang kemudian mengalami pemisahan molekul zat. Molkul zat yang terpisah kemudian bersatu dengan molekul zat lainnya, dan akhirnya terbentuklah batuan. Namun, ada yang mengatakan juga bahwa batuan sedimen khemis adalah larutan di dalam air dan langsung diendapkan.
Batuan sedimen organis : batuan sedimen yang terbentuk karena kumpulan jasad renik yang kemudian menjadi batuan. Namun ada juga yang mengatakan bahwa batuan sedimen organis adalah larutan di dalam air yang kemudian diambil oleh organisme, dan melalui organisme itu membentuk batuan endapan oranis.
Contoh Batuan Sedimen :
1) Batu Konglomerat
Batu Konglomerat
Ciri : material kerikil-kerikil bulat, batu-batu dan pasir yang merekat satu sama lainnya
o Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat
o Kegunaan : untuk bahan bangunan
2) Batu Pasir
Batu Pasir
Ciri : tersusun dari butiran-butiran pasir, warna abu-abu, kuning, merah
o Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat
o Kegunaan : sebagai material di dalam pembuatan gelas/kaca dan sbg kontruksi bangunan
3) Batu Serpih
Batu Serpih
Ciri : lunak, baunya seperti tanah liat, butir-butir batuan halus, warna hijau, hitam, kuning, merah, abu-abu
o Cara terbentuk : dari bahan-bahan yang lepas dan halus karena gaya beratnya menjadi terpadatkan dan terikat
o Kegunaan : sbg bahan bangunan
4) Batu Gamping (kapur)
o Ciri : agak lunak, warna putih keabu-abuan, membentuk gas karbon dioksida kalau ditetesi asam
o Cara terbentuk : dari cangkang binatang lunak seperti siput, kerang, dan binatang laut yang telah mati. Rangkanya yang terbuat dari kapu tidak akan musnah, tapi memadat dan membentuk batu kapur
o Kegunaan : sbg bahan baku semen
5) Batu Breksi
Ciri : gabungan pecahan-pecahan yang berasal dari letusan gunung berapi
o Cara terbentuk : terbentuk katena bahan-bahan iini terlempar tinggi ke udara dan mengendap di suatu tempat
o Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan dan sbg bahan bangunan
6) Stalaktit dan Stalagmit
Ciri : kuning, coklat, krem, keemasan, putih
o Cara terbentuk : Air yang larut di daerah karst akan masuk ke lobang-lobang (doline) kemudian turun ke gua dan menetes-netes dari atap gua ke dasar gua. Tetesan-tetesan air yang mengandung kapur yg lama kelamaan kapurnya membeku dan menumpuk sedikit demi sedikit lalu berubah jadi batuan kapur yang bentuknya runcing-runcing.
o Kegunaan : sebagai keindahan alam (biasanya di gua-gua)
7) Batu Lempung
Ciri : Coklat, keemasan, coklat, merah, abu-abu
o Cara terbentuk : lempung residu adalah sejenis lempung yang terbentuk karena proses pelapukan (alterasi) batuan beku dan ditemukan disekitar batuan induknya. Kemudian material lempung ini mengalami proses diagenesa sehingga membentuk batu lempung.
o Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan
BATUAN METAMORF
Batuan Metamorf atau Batuan Malihan adalah batuan yang berasal dari batuan sedimen dan batuan beku yang mengalami perubahan karena panas dan tekanan
Jenis / Macam-macam Batuan Metamorf :
Berdasarkan faktor pembentuknya, batuan metamorf dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu :
Batuan Metamorf Kontak
Proses pembentukan batuan metamorf kontak terjadi secara berurutan yang disebabkan oleh suhu yang tinggi akibat berdekatan dengan magma sehingga memanasi batuan di sekitarnya. Oleh karena itu, proses pembentukan batuan metamorf kontak ini terjadi pada daerah yang tidak begitu luas. Contoh batuan metamorf kontak antara lain batu marmer di Tulung Agung, dan batu bara di Bukit Barisan.
Batuan Metamorf Dinamo (metamorforfosis regional)
Batuan metamorf dinamo merupakan batuan yang terbentuk karena faktor tekanan dalam waktu yang lama. Contoh batuan ini adalah batu sabak.
Batuan Metamorf Kontak Pneumatalitis
Dalam perubahan batuan kontak dan batuan metamorf dinamo kadang – kadang terjadi penambahan bahan – bahan lain juga. Bahan tersebut dapat berupa gas, cair, maupun bendap padat. Bahan – bahan ini lalu mempengaruhi proses dan hasil perubahan batuan tersebut. Contohnya adalah kwarsa yang mengandung fluorium akan menjadi topaz (batu permata berwarna kuning.
Contoh Batuan Metamorf :
1) Batuan Pualam atau Batu Marmer (dari batu gamping/kapur)
Ciri : campuran warna berbeda-beda, mempunyai pita-pita warna, kristal-kristalnya sedang sampai kasar, bila ditetesi asam akan mengeluarkan bunyi mendesah, keras dan mengkilap jika dipoles
o Cara terbentuk : terbemtuk bila batu kapur mengalami perubahan suhu dan tekanan tinggi
o Kegunaan : untuk membuat patung dan lantai/ubin
2) Batuan Sabak
Ciri : abu-abu kehijau-hijauan dan hitam, dapat dibelah-belah menjadi lempeng-lempeng tipis
o Cara terbentuk : terbentuk bila batu serpih kena suhu dan tekanan tinggi
o Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan, sbg batu tulis, sbg bahan bangunan, dan untuk membuat atap rumah (semacam genting)
3) Batu Gneiss (ganes)
Ciri : berwarna putih kebau-abuan, terdapat goresan-goresan yang tersusun dari minera-mineral, mempunyai bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut
o Cara terbentuk : terbentuk pada saat batuan sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi.
o Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan
4) Batu Sekis
Ciri : berwarna hitam, hijau dan ungu, mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilapdan terkadang ditemukan kristal garnet
o Cara terbentuk : batuan metamorf regional yang terbentuk pada derajat metamorfosa tingkat menengah.
o Kegunaan : sebagai sumber mika yang utama (satu komponen penting dalam pembuatan kondensator dan kapasitor dalam industri elektronika)
5) Batu Kuarsit
Ciri : berwarna Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah, sering berlapis-lapis dan dapat mengandung fosil, lebih keras dibanding gelas dan terdapat butiran sedang
o Cara terbentuk : metamorfose dari batuan pasir, jika strukturnya tak mengalami perubahan dan masih menunjukan struktur aslinya. Kuarsit terbentuk akibat panas yang tinggi sehingga menyebabkan rekristalisasi kwarsa dan felsdpar.
o Kegunaan : dijadikan sbg kerajinan, konstruksi jalan dan perbaikan
6) Batu Milonit
Ciri : butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah, dan abu-abu, kehitaman, coklat, biru
o Cara terbentuk : Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan
Bentuk-bentuk permukaan bumi terbentuk lewat proses pembentukan dan perombakan permukaan bumi yang berlangsung cukup lama. Perubahan permukaan bumi terjadi oleh gaya geologi, yaitu gaya-gaya yang bekerja mempengaruhi perubahan muka bumi baik bersifat membangun (konstruktif) maupun merusak (destruktif). Gaya-gaya tersebut dapat berasal dari dalam bumi (endogen) atau berasal dari luar bumi (eksogen) . Gaya geologi terdiri dari gaya endogen dan eksogen.
A. Gaya Endogen
Gaya endogen ialah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Gaya endogen dapat berasal dari beberapa aktifitas, antara lain tektonisme, vulkanisme dan seisme. Aktivitas tektonik adalah aktivitas yang berasal dari pergerakan lempeng-lempeng yang ada pada kerak bumi (lithosphere). Hasil dari tumbukan antar lempeng dapat menghasilkan gempa bumi, pembentukan pegunungan (orogenesa), dan aktivitas magmatis/aktivitas gunung api (volcanism).
1.Tenaga Tektonik
Tenaga tektonik (tektonisme) adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang mengakibatkan terjadinya pergeseran dan perubahan letak lapisan batuan, baik secara horizontal (gerak orogenetik) maupun secara vertikal (gerak epirogenetik).
a.Gerak Orogenetik (Orogenesa)
Yaitu pembentukkan gunung meliputi daerah yang sempit dan dalam waktu yang relatif singkat. Gerak itu dapat menimbulkan,
1) Lipatan
Gerakan tekanan horizontal menyebabkan lapisan kulit bumi yang elastis berkerut, melipat, dan menyebabkan relief-relief muka bumi berbentuk pegunungan. Contoh, pegunungan-pegunungan tua seperti pegunungan Ural. Lipatan ini terjadi pada zaman primer.
Proses Terjadinya Lipatan
Perhatikan gambar di bawah ini :
Gambar 2. Berbagai jenis lipatan a. lipatan tegak d. lipatan menggantung b. lipatan miring e. lipatan isoklin c. lipatan rebah f. lipatan kelopakGambar 2. Berbagai jenis lipatan a. lipatan tegak d. lipatan menggantung b. lipatan miring e. lipatan isoklin c. lipatan rebah f. lipatan kelopak
2). Patahan(sesar)
Gerakan tekanan horizontal dan vertikal menyebabkan lapisan kulit bumi yang rapuh menjadi retak atau patah. Misalnya, tanah turun (Slenk), tanah naik (Horst), dan fleksur. Macam-macam sesar badasarkan arah geraknya dibedakan menjadi :
a)Sesar naik dan sesar turun
Bidang patahan yang atap sesarnya bergeser turun terhadap alas sesar disebut sesar turun. Sedangkan yang atap sesarnya seakan-akan bergerak naik disebut sesar naik. Contoh sesar di Indonesia adalah sistem patahan di Bukit barisan (dari Sumatera Utara sampai teluk Semangko di Sumatera Selatan)
b)Graben atau Horst
Graben adalah sebuah jalur batuan yang terletak di antara dua bidang sesar yang hampir sejajar, sempit dan panjang.
c)Sesar mendatar
Sesar mendatar adalah sesar yang tegak lurus yang bergesar secara horisontal walaupun ada yang agak vertikal.
Jenis-jenis Patahan
b. Gerak Epirogenetik
Gerak naik atau turun dari permukaan bumi, meliputi daerah yang luas dan berlangsung lambat. Gerak epirogenetik dibedakan menjadi :
Gerak Epirogenetik Positif, bila permukaan bumi turun atau seolah-olah permukaan air laut naik.
Gerak Epirogenetik Negatif, bila permukaan bumi naik atau seolah-olah permukaan air laut turun.
2. Tenaga vulkanik
Tenaga Vulkanik (Vulkanisme) adalah proses pergeseran magma di dalam bumi. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian dalam maka dinamakan intrusi magma’, sedangkan apabila penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma.
3. Seisme (Gempa Bumi)
Gempa dapat digolongkan menjadi beberapa kategori. Menurut proses terjadinya, gempa bumi diklasifikasikan menjadi seperti berikut :
(1) Gempa tektonik: terjadi akibat tumbukan lempeng-lempeng di litosfer kulit bumi oleh tenaga tektonik. Tumbukan ini akan menghasilkan getaran. Getaran ini yang merambat sampai ke permukaan bumi.
(2) Gempa vulkanik: terjadi akibat aktivitas gunung api. Oleh karena itu, gempa ini hanya dapat dirasakan di sekitar gunung api menjelang letusan, pada saat letusan, dan beberapa saat setelah letusan.
Gambar letusan gunungapi
(3) Gempa runtuhan atau longsoran: terjadi akibat daerah kosong di bawah lahan mengalami runtuh. Getaran yang dihasilkan akibat runtuhnya lahan hanya dirasakan di sekitar daerah yang runtuh.
B. Gaya Eksogen
Gaya eksogen yaitu tenaga yang berasal dari luar bumi. Sifat umum tenaga eksogen adalah merombak bentuk permukaan bumi hasil bentukan dari tenaga endogen. Bukit atau tebing yang terbentuk hasil tenaga endogen terkikis oleh angin, sehingga dapat mengubah bentuk permukaan bumi. Tenaga eksogen dibedakan menjadi 4 antara lain :
Pelapukan
Pelapukan adalah proses pengrusakan atau penghancuran kulit bumi oleh tenaga eksogen. Pelapukan di setiap daerah berbeda-beda tergantung unsur-unsur dari daerah tersebut. Misalnya di daerah tropis yang pengaruh suhu dan air sangat dominan, tebal pelapukan dapat mencapai seratus meter, sedangkan daerah sub tropis pelapukannya hanya beberapa meter saja.
Pelapukan oleh air
Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu: a. Pelapukan fisik dan mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun ukuranya.
Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.
Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Adapun pembekuan air di dalam batuan
Berubahnya air garam menjadi kristal.
Pelapukan organik
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah, serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang yang dibuat oleh binatang.
Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang umumnya berupa pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat dengan mudah melarutkan batu kapur (CaCO2). Peristiwa ini merupakan pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.
2.Pengikisan
Definisi pengikisan atau erosi adalah proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari satu tempat ke tempat lain oleh suatu tenaga yang bergerak di atas permukaan bumi. Ditinjau dari pelaku yang mengikis batuan, pengikisan dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
Pengikisan oleh air (yang mengalir). Pengikisan jenis ini berikutnya lebih tepat disebut erosi (erosion). Pengikisan oleh air yang mengalir ini juga sering disebut ablasi
Pengikisan oleh gelombang laut. Pengikisan yang pelakunya berupa gelombang laut disebut abrasi.
Pengikisan oleh angin. Pengikisan yan dilakukan oleh angin disebut deflasi (deflasion).
Pengikisan oleh gletser. Pengikisan yang pelakuknya adalah gletsyer disebut eksarasi.
3. Pengendapan
Sebelum menjadi batuan sedimen, awalnya terjadi proses pengendapan yang kemudian akan mengalami suatu proses litifikasi membentuk batuan beku. Berikut beberapa cara pengendapannya :
Pengendapan secara mekanik
Batuan sedimen hasil dari pembentukan secara mekanik dapat dibagi berdasarkan ukuran butir. Batuan ini terbentuk oleh batuan yang telah ada terlebih dahulu yang mengalami pelapukan, hancur lalu dibawa oleh air, angin, atau ombak dan diendapkan di tempat lain yang lebih rendah. Setelah itu mengalami proses diagenesis menjadi batuan yang kompak. Pengendapan dapat terjadi di mana-mana, baik di daratan (tepi rawa, danau), pantai, dan di bawah permukaan laut.
Pengendapan secara kimiawi
Pembentukan endapan ini karena proses penguapan pada larutan, sehingga menjadi jenuh dan yang tertinggal hanya kandungan garam. Biasanya endapan ini tersusun dari kristal-kristal garam, misalnya garam dapur, gips, dan sebagainya. Tidak ditemukan fosil (bekas hewan atau tumbuhan) karena terbentuk pada air yang mempunyai konsentrasi tinggi sehingga tidak ada kehidupan.
Pengendapan secara biologis (organik)
Batuan sedimen yang terbentuk oleh adanya organisme, baik berupa binatang ataupun tumbuhan.
Pengendapan yang membentuk batuan sedimen
4. Masswasting
Secara garis besar gerak masa batuan (Mass Movement) dapat diartikan sebagai perpindahan material batuan di permukaan bumi akibat gaya grafitasi yang dimiliki bumi. Perpindahan ini dapat terjadi dalam waktu yang singkat maupun waktu yang lama. Satu ciri yang dapat digunakan sebagai acuan bahwa bentuk lahan yang ada akibat adanya pergerakan masa batuan adalah tidak adanya sortasi/pemilahan material. Seluruh material baik kasar maupun halus akan tercampur aduk menjadi satu. Perpindahan Masa Batuan ini sendiri dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, antara lain :
a. Tipe Creep (Rayapan)
Rayapan merupakan gerak masa batuan yang sangat lambat, sehingga proses rayapannya hampir tak dapat diamati. Perpindahan Masa Batuan bertipe Creep ini hanya bisa diketahui dengan gejala-gejala seperti menjadi miringnya tiang listrik atau dengan melihat ketidakteraturan permukaan tanah. Jika dilihat dari kecepatannya maka tipe Creep ini memiliki kecepatan antara 1 mm hingga 10 m pertahun.
Gerak masa batuan tipe rayapan
b. Tipe Luncuran (Slides)
Tipe Luncuran ini lebih sering dikenal orang awam dengan bencana tanah lonsor. Gerakan masa batuan seperi inilah yang sering menimbulkan korban jiwa. Secara umum luncuran batuan dapat diartikan sebagai pepindahan material permukaan bumi menuruni lereng dengan cepat. Berdasarkan bidang luncurannya maka tipe pepindahan masa batuan ini dapat dibedakan menjadi transisional dan rotasional. Untuk luncuran yang memiliki bidang luncur lurus disebut dengan transitional slide, sedangkan luncuran yang memiliki bidang luncur melengkung disebut sebagai rotational slide contoh: Slump.
Gerak masa batuan tipe luncuran
c. Tipe Aliran
Gerak Masa Batuan tipe aliran ini dicirikan dengan adanya bidang geser (shear plan). Tipe aliran ini dapat dibedakan dengan rayapan dari batas yang tegar dan material yang terpindahkan. Menurut Vames (1978) aliran masa batuan dapat dibedakan menjadi aliran kering, suliflaction, aliran tanah, aliran debris, dan debris avelanche. Dari berbagai tipe tersebut tipe suliflaction adalah gerak masa batuan tipe aliran yang paling lambat bergerak. Hal ini terjadi karena lapisan tanah memiliki kejenuhan yang tinggi terhadap air. Tipe suliflaction dapat berlangsung pada medan dengan kemiringan hanya 1° dan dapat pula terjadi pada lingkungan periglasial.
d. Tipe Heave
Gerak masa batuan bertipe Heave ini terjadi karena adanya proses kembang kerut tanah. Tanah yang banyak mengandung lempung smectile biasa mengalami kembang kerut. Ketika tanah ini mengembang maka volume akan bertambah kearah tegak lurus bidang lereng. Oleh sebab itu akan terjadi desakan kearah lereng bawah. Tipe heave sendiri masih dapt dibagi menjadi rayapan tanah dan rayapan talus. Tipe heave ini dikendalikan oleh kuanitas kandungan tanah terhadp lempung jenis smectile atau illit dan relief mikro akibat adanya proses kembang kempis.
e. Tipe Jatuhan
Gerak masa batuan bertipe jatuhan ini dicirikan oleh pegerakan melalui udara. Pada umumnya fragmen batuanlah yang seolah terbang. Didalm kenyataannya sangat sulit menemui tip pergerakn masa batuan seperti ini. Suatupengecualian pada tebing sungai yang runtuh dan sering diistilahkan dengan bank calving.
f. Tipe Runtuhan (Subsidence)
Ciri utama dri pergerakan masa batuan ini adalah tak kuatnya lagi penopang batuan yang ada. Ketika penopang sudah tak kuat atau bahkan sudah hilang maka masa batuan diatasnya akan jatuh secara cepat yang disebut dengan runtuh.
sumber :
Endarto, danang . 2005 . Pengantar Geologi Dasar . Solo : UNS Press
Bola dunia adalah model bulat Bumi, dari beberapa benda langit lain, atau dari bola selestial. Globes melayani tujuan yang mirip dengan peta, tetapi tidak seperti peta, tidak mendistorsi permukaan yang mereka gambarkan kecuali untuk menurunkannya. Bola bumi disebut bola bumi. Dunia bola surgawi disebut bola langit.
Sebuah dunia menampilkan detail subjeknya. Dunia terestrial menunjukkan daratan dan badan air. Ini mungkin menunjukkan negara dan kota-kota terkemuka dan jaringan garis lintang dan garis bujur. Beberapa orang telah merasa lega untuk menunjukkan gunung. Sebuah bola langit menunjukkan bintang-bintang, dan mungkin juga menunjukkan posisi objek astronomi yang menonjol lainnya. Biasanya itu juga akan membagi bola selestial menjadi rasi bintang.
Kata “globe” berasal dari kata Latin globus, yang berarti “bola”. Globes memiliki sejarah panjang. Penyebutan dunia pertama yang diketahui adalah dari Strabo, menggambarkan Globe of Crates dari sekitar 150 SM. Dunia terestrial tertua yang masih hidup adalah Erdapfel, yang dikerjakan oleh Martin Behaim pada tahun 1492. Bola surgawi tertua yang masih ada berada di atas Atlas Farnese, yang diukir pada abad ke-2 Kekaisaran Romawi.
Lingkar Bumi cukup dekat dengan 40 juta meter. Banyak bola bumi dibuat dengan keliling satu meter, sehingga mereka adalah model Bumi dengan skala 1:40 juta. Dalam satuan imperial, banyak bola bumi dibuat dengan diameter satu kaki, menghasilkan keliling 3,14 kaki dan skala 1: 41.777.000. Globes ( bola dunia ) juga dibuat dalam berbagai ukuran lainnya.
Terkadang globe memiliki tekstur permukaan yang menunjukkan topografi; dalam hal ini, ketinggian dibesar-besarkan, jika tidak, mereka hampir tidak terlihat. Sebagian besar bola modern juga dicetak dengan paralel dan garis bujur, sehingga seseorang dapat mengetahui koordinat perkiraan tempat tertentu. Globes juga dapat menunjukkan batas negara dan nama mereka.
Banyak bola bumi terestrial memiliki satu fitur selestial yang ditandai pada mereka: sebuah diagram yang disebut analemma, yang menunjukkan gerakan nyata Matahari di langit selama setahun.
Globes umumnya menunjukkan utara di atas, tetapi banyak bola memungkinkan sumbu diputar sehingga bagian selatan dapat dilihat dengan mudah. Kemampuan ini juga memungkinkan menjelajahi bumi dari berbagai orientasi untuk membantu mengatasi bias utara yang disebabkan oleh presentasi peta konvensional.
Celestial
Celestial globes menunjukkan posisi nyata bintang di langit. Mereka menghilangkan Matahari, Bulan dan planet karena posisi badan-badan ini bervariasi relatif terhadap bintang-bintang, tetapi ekliptika, di mana Matahari bergerak, diindikasikan.
Sejarah
The sphericity Bumi didirikan oleh astronomi Yunani di abad ke-3 SM, dan bola bumi terestrial awal muncul dari periode itu. Contoh paling awal yang diketahui adalah yang dibangun oleh Peti Mallus di Cilicia (sekarang Çukurova di Turki modern), pada pertengahan abad ke-2 SM.
Tidak ada bola bumi dari Zaman Kuno atau Abad Pertengahan yang selamat. Contoh dari bola langit yang masih hidup adalah bagian dari patung Helenistik, yang disebut Atlas Farnese, yang bertahan hidup di abad ke-2 salinan Romawi di Museum Arkeologi Naples, Italia.
Dunia terestrial awal yang menggambarkan keseluruhan Dunia Lama dibangun di dunia Islam. Menurut David Woodward, salah satu contohnya adalah dunia terestrial yang diperkenalkan ke Beijing oleh astronom Persia, Jamal ad-Din, pada 1267.
Dunia terestrial paling awal yang masih ada dibuat pada tahun 1492 oleh Martin Behaim (1459–1537) dengan bantuan dari pelukis Georg Glockendon. Behaim adalah pembuat peta Jerman, navigator, dan pedagang. Bekerja di Nuremberg, Jerman, dia menyebut globe-nya sebagai “Nürnberg Terrestrial Globe.” Sekarang dikenal sebagai Erdapfel. Sebelum membangun dunia, Behaim telah bepergian secara ekstensif. Dia tinggal di Lisbon sejak 1480, mengembangkan minat komersial dan berbaur dengan para penjelajah dan ilmuwan. Pada 1485–1486, ia berlayar bersama penjelajah Portugis Diogo Cão ke pantai Afrika Barat. Dia mulai membangun globe setelah kembali ke Nurnberg pada tahun 1490.
Bola awal lainnya, Hunt – Lenox Globe, ca. 1510, dianggap sebagai sumber kalimat Hic Sunt Dracones, atau “Ini adalah naga”. Dunia berukuran grapefruit yang terbuat dari dua bagian telur burung unta ditemukan pada tahun 2012 dan diyakini berasal dari 1504. Mungkin ini adalah bola dunia tertua yang menunjukkan Dunia Baru. Stefaan Missine, yang menganalisis bola dunia untuk jurnal Washington Map Society, Portolan, mengatakan itu adalah “bagian dari koleksi Eropa yang penting selama beberapa dekade.” Setelah satu tahun penelitian di mana dia berkonsultasi dengan banyak pakar, Missine menyimpulkan Hunt – Lenox. Globe adalah cast tembaga dari bola telur.
Sejarah Bumi
A globe is a spherical model of Earth, of some other celestial body, or of the celestial sphere. Globes serve similar purposes to maps, but unlike maps, do not distort the surface that they portray except to scale it down. A globe of Earth is called a terrestrial globe. A globe of the celestial sphere is called a celestial globe.
A globe shows details of its subject. A terrestrial globe shows land masses and water bodies. It might show nations and prominent cities and the network of latitude and longitude lines. Some have raised relief to show mountains. A celestial globe shows stars, and may also show positions of other prominent astronomical objects. Typically it will also divide the celestial sphere up into constellations.
The word “globe” comes from the Latin word globus, meaning “sphere”. Globes have a long history. The first known mention of a globe is from Strabo, describing the Globe of Crates from about 150 BC. The oldest surviving terrestrial globe is the Erdapfel, wrought by Martin Behaim in 1492. The oldest surviving celestial globe sits atop the Farnese Atlas, carved in the 2nd century Roman Empire.
The circumference of the Earth is quite close to 40 million metres. Many globes are made with a circumference of one metre, so they are models of the Earth at a scale of 1:40 million. In imperial units, many globes are made with a diameter of one foot, yielding a circumference of 3.14 feet and a scale of 1:41,777,000. Globes are also made in many other sizes.
Sometimes a globe has surface texture showing topography; in these, elevations are exaggerated, otherwise they would be hardly visible. Most modern globes are also imprinted with parallels and meridians, so that one can tell the approximate coordinates of a specific place. Globes may also show the boundaries of countries and their names.
Many terrestrial globes have one celestial feature marked on them: a diagram called the analemma, which shows the apparent motion of the Sun in the sky during a year.
Globes generally show north at the top, but many globes allow the axis to be swiveled so that southern portions can be viewed conveniently. This capability also permits exploring the earth from different orientations to help counter the north-up bias caused by conventional map presentation.
Celestial Celestial globes show the apparent positions of the stars in the sky. They omit the Sun, Moon and planets because the positions of these bodies vary relative to those of the stars, but the ecliptic, along which the Sun moves, is indicated.
History The sphericity of the Earth was established by Greek astronomy in the 3rd century BC, and the earliest terrestrial globe appeared from that period. The earliest known example is the one constructed by Crates of Mallus in Cilicia (now Çukurova in modern-day Turkey), in the mid-2nd century BC.
No terrestrial globes from Antiquity or the Middle Ages have survived. An example of a surviving celestial globe is part of a Hellenistic sculpture, called the Farnese Atlas, surviving in a 2nd-century AD Roman copy in the Naples Archaeological Museum, Italy.
Early terrestrial globes depicting the entirety of the Old World were constructed in the Islamic world. According to David Woodward, one such example was the terrestrial globe introduced to Beijing by the Persian astronomer, Jamal ad-Din, in 1267.
The earliest extant terrestrial globe was made in 1492 by Martin Behaim (1459–1537) with help from the painter Georg Glockendon.Behaim was a German mapmaker, navigator, and merchant. Working in Nuremberg, Germany, he called his globe the “Nürnberg Terrestrial Globe.” It is now known as the Erdapfel. Before constructing the globe, Behaim had traveled extensively. He sojourned in Lisbon from 1480, developing commercial interests and mingling with explorers and scientists. In 1485–1486, he sailed with Portuguese explorer Diogo Cão to the coast of West Africa. He began to construct his globe after his return to Nürnberg in 1490.
Another early globe, the Hunt–Lenox Globe, ca. 1510, is thought to be the source of the phrase Hic Sunt Dracones, or “Here be dragons”. A similar grapefruit-sized globe made from two halves of an ostrich egg was found in 2012 and is believed to date from 1504. It may be the oldest globe to show the New World. Stefaan Missine, who analyzed the globe for the Washington Map Society journal Portolan, said it was “part of an important European collection for decades.” After a year of research in which he consulted many experts, Missine concluded the Hunt–Lenox Globe was a copper cast of the egg globe.
Gunung Merapi hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.
Untuk memahami mitologi Gunung Merapi tidak bisa terlepas dari filosofi Kota Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pancernya. Kota ini terbelah oleh sumbu imajiner yang menghubungkan Laut Kidul, Parangkusumo – Panggung Krapyak – Kraton – Tugu Pal Putih dan Gunung Merapi. Secara filosofis hal ini dibagi menjadi dua aspek, yaitu Jagat Alit dan Jagat Ageng.
Jagat alit, yang mengurai proses awal-akhir hidup dan kehidupan manusia dengan segala perilaku yang lurus sehingga terpahaminya hakekat hidup dan kehidupan manusia, digambarkan dengan planologi Kota Yogyakarta sebagai Kota Raja pada waktu itu. Planologi kota ini membujur dari selatan ke utara berawal dari Panggung Krapyak, berakhir di Tugu Pal Putih. Hal ini menekankan hubungan timbal balik antara Sang Pencipta dan manusia sebagai ciptaannnya (Sangkan Paraning Dumadi).
Dalam perjalanan hidupnya manusia tergoda oleh berbagai macam kenikmatan duniawi. Godaan tersebut dapat berupa wanita dan harta yang digambarkan dalam bentuk pasar Beringharjo. Adapun godaan akan kekuasaan digambarkan oleh komplek Kepatihan yang kesemuanya berada pada sisi kanan pada jalan lurus antara Kraton dan Tugu Pal Putih, sebagai lambang manusia yang dekat dengan pencipta-Nya (Manunggaling Kawula Gusti).
Jagat Ageng, yang mengurai tentang hidup dan kehidupan masyarakat, di mana sang pemimpin masyarakat siapapun dia senantiasa harus menjadikan hati nurani rakyat sebagai isteri pertama dan utamanya guna mewujudkan kesejahteraan lahir batin bagi masyarakat dilandasi dengan keteguhan dan kepercayaan bahwa hanya satu pencipta yang Maha Besar. Jagat Ageng ini digambarkan dengan garis imajiner dari Parangkusuma di Laut selatan – Karaton Yogyakarta – Gunung Merapi.
Gunung Merapi menduduki posisi penting dalam mitologi Jawa, diyakini sebagai pusat kerajaan mahluk halus, sebagai “swarga pangrantunan”, dalam alur perjalanan hidup yang digambarkan dengan sumbu imajiner dan garis spiritual kelanggengan yang menghubungkan Laut Kidul – Panggung krapyak – Karaton Yogyakarta – Tugu Pal Putih – Gunung Merapi. Simbol ini mempunyai makna tentang proses kehidupan manusia mulai dari lahir sampai menghadap kepada sang Maha Pencipta.
Menurut foklor yang diceritakan oleh Juru Kunci Merapi yang bernama R. Ng. Surakso Hargo atau sering disebut mbah Maridjan disebutkan bahwa konon Karaton Merapi ini dikuasai oleh Empu Rama dan Empu Permadi. Dahulu sebelum kehidupan manusia, keadaan dunia miring tidak stabil. Batara Guru memerintahkan kepada kedua Empu untuk membuat keris, sebagai pusaka tanah Jawa agar dunia stabil. Namun belum selesai keburu mengutus para Dewa untuk memindahkan G. Jamurdipa yang semula berada di Laut Selatan ke Pulau Jawa bagian tengah, utara Kota Yogyakarta (sekarang) dimana kedua Empu tersebut sedang mengerjakan tugasnya. Karena bersikeras berpegang pada “Sabda Pendhita Ratu” (satunya kata dan perbuatan) serta tidak mau memindahkan kegiatannya, maka terjadilah perang antara para Dewa dengan kedua Empu tadi yang akhirnya dimenangkan oleh kedua Empu tersebut.
Mendengar kekalahan para Dewa, Batara Guru memerintahkan Batara Bayu untuk menghukum keduanya dengan meniup G. Jamurdipa sehingga terbang diterpa angin besar ke arah utara dan jatuh tepat di atas perapian dan mengubur mati Empu Rama dan Permadi. Namun sebenarnya dia tidak mati hanya berubah menjadi ujud yang lain dan akhirnya menguasai Kraton makhluk halus di tempat itu. Sejak itu arwahnya dipercaya untuk memimpin kerajaan di Gunung Merapi tersebut. Masyarakat Karaton Merapi adalah komunitas arwah mereka yang tatkala hidup didunia melakukan amal yang baik. Bagi mereka yang selalu melakukan amalan yang jelek arwahnya tidak bisa diterima dalam komunitas mahluk halus Karaton Merapi, biasanya terus “nglambrang” ke mana-mana lalu hinggap di batu besar, jembatan, jurang dsb menjadi penunggu tempat tersebut.
Menurut cerita rakyat yang lain yang juga diceritakan oleh mbah Maridjan: Konon pada masa kerajaan Mataram tepatnya pada pemerintahan Panembahan Senopati Pendiri Dinasti Mataram (1575-1601). Panembahan Senopati mempunyai kekasih yang bernama Kanjeng Ratu Kidul, Penguasa Laut Selatan. Ketika keduanya sedang memadu kasih dia diberi sebutir “endhog jagad” (telur dunia) untuk dimakan. Namun dinasehati oleh Ki Juru Mertani agar endog jagad tersebut jangan dimakan tapi diberikan saja kepada Ki Juru Taman. Setelah memakannya ternyata Juru Taman berubah menjadi raksasa, dengan wajah yang mengerikan. Kemudian Panembahan Senopati memerintahkan kepada si raksasa agar pergi ke G. Merapi dan diangkat menjadi Patih Karaton Merapi, dengan sebutan Kyai Sapujagad.
PEMANTAUAN KIMIA GAS
Merapi merupakan gunungapi sangat aktif yang memiliki hembusan gas solfatara dan fumarata secara terus menerus. Sollfatara dan fumarola merupakan fenomena yang menunjukkan bahwa magma berada relatif dekat dengan permukaan. Gas gunungapi tersusun atas unsur utama H2O, dan lainnya seperti CO2, SO2, HCl serta komposisi gas minor seperti H2, N2,CH4. Gas vulkanik Merapi juga mempunyai komposisi utama sebagaimana tersebut di atas yaitu gas H2O sebagai gas utama dengan konsentrasi 90% mol pada keadaan normal dan 9% mol merupakan komposisi utama lainnya, sedangkan unsur minor gas dalam kadar rendah yaitu 1%mol.
Untuk memantau secara terus menerus dari jarak yang aman, gas dikur dengan Correlation Spectrophotometer ( COSPEC ). Konsep pengukuran COSPEC membandingkan spektrum sinar ultraviolet pada emisi gas vulkanik dengan database spektrum yang memiliki alat tersebut. Hasil pembandingan dapat mengetahui kandungan gas SO2 di dalam asap solfatara. Akhir-akhir ini telah dikembangkan alat ukur sejenis yang disebut Mini DOAS ( Differential Optical Absorption Spectrooscopy ). Spectrophotometer ini memeliki prinsip alat dan metode pengukuran yang mirip dengan COSPEC. Alat ini lebih kecil bentuknya, lebih portabel, peka dan efisien.
Perubahan relatif komposisi gas menunjukkan hubungan dengan perubahan aktivitas vulkanik. Pada saat terjadi peningkatan aktivitas, komposisi gas akan berubah dimana kadar gas H2) akan turun, sedangkan gas utama lain akan lebih dominan. Penurunan rasio CO.CO2, kemungkinan berkaitan dengan pergerakan magma ke permukaan. Rasio SO2/HCL, CO2/HCl dan H2S/HCl mempunyai kecenderungan yang sama dengan rasio CO2/H2O.
pH Meter adalah sebuah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH ( derajat keasaman dan kebasaan ) cairan. Kaitannya dengan gunungapi, pengukuran derajat keasaman atau kebasaan dilakukan pada air danau kawah dan mata air panas sebagai gambaram pengaruh sif kimia. A pH meter is an electronic instrumental used to measure the pH (acidity or basicity) of a liquid/ Dealing with volcano observation, pH measurement is held in the crater lake water and hotspring representing chemical magmatic feature.Masker Gas ( Gas Masker ) Alat untuk melindungi manusia dari gas beracun ketika melakukan pengkuran gas gunungapi. Property for people protection from toxic gas when measuring volcano gases.
TILTMETER Tiltmeter merupakan alat yang dirancang untuk mengukur perubahan permukaan bumi dalam akurasi tinggi secara horizontal. Kaitannya dengan pemantau gunungapi, ketika tekanan magma di bawah gunung api naik ke permukaan , tubuh gunungapi terungkit miring menjauhi sumber tekanan. Sebelum terjadi letusan , magma yang bergerak ke permukaan mengakibatkan kekosongan dapur magma dan menghasilkan perubahan ungkitan. A Tiltmeter is an instrument designed to measure very small changes from the horizontal level, either on the ground or in structures.
CHEMICAL GAS MONITORING Merapi possesses solfatara and fumarole indicating a shallow magmatic chamber. Volcanic gas normally consists of water vapor (H2)) as major component, carbon dioxide (C)2), sulfur dioxide (SO2) and hydrogen chloride (HCl) and the other ones such as : hydrogen (H2), Nitrogen(N2) and CH4 as minor components. Concentrations of H2) is 90% mol fraction in normal condition, 9% of another components and 1% mol fraction for the minor component.
A distance monitoring of volcanic gas is carried out by Correlation Spectrophometer (COSPEC) on the basis of comparing UV spectrum of gas emission to spectrum database belonging to COSPEC. The comparative result yield SO2 content of volcanic gas. The most recent gas detector is Mini DOAS ( Differential Optical Absorption Spectroscopy). The basic principle of DOAS is comparable to COSPEC.
Relative changing composition of gas elucidates volcanic activities. During increasing activity of Merapi, H2O composition tend to decline, whereas the other ones tend to incline. Decreasing CO/CO2 ratio indicate a magmatic rise to the surface. The SO2.HCl, CO2/HCl and H2S/HCl ratio tend to correspond to CO2/H2) ratio on character.
GEOKIMIA
Kimia Gas
Pengukuran Laju Emisi Gas SO2 dengan COSPEC
Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu komponen yang ada dalam gas vulkanik yang dimonitor emisinya untuk memantau aktivitas suatu gunungapi. Konsentrasi SO2 bervariasi antara 5%sampai 50% mol, dengan fluks yang bervariasi.
Monitorig emisi SO2 suatu gunungapi biasanya menggunakan Corelation Spectroscopy (COSPEC). Metoda ini telah digunakan lebih dari tiga puluh tahun terakhir. Pengukurannya dapat dilakukan dari jarak jauh, walau gunungapi pada kondisi sedang terjadi letusan, dan merupakan salah satu kegiatan utama dibidang vulkanologi. COSPEC mempunyai peran yang sangat penting dalam beberapa krisis dan letusan suatu gunungapi, seperti Merapi, Kilauea, St. Helens dan sebagainya. Data COSPEC juga digunakan sebagai dasar evaluasi emisi SO2 gunungapi ke atmosfer scara global dan gas lain (menggunakan estimasi proporsi relatif terhadap gas SO2.
COSPEC mengukur kolom SO2 dengan menggunakan pancaran sinar ultra violet (UV) sebagai sumber energinya. Sinar masuk ke dalam instrumen dan bergerak melalui serangkaian cermin, lensa, dan slit untuk mencapai detektor dan photo multiplier dimana sinar dirubah kedalam pulsa listrik dan amplifier. Jika gas ada di dalam instrumen, COSPEC mendeteksi sejumlah radiasi UV yang diserap oleh SO2. Biasanya pengukuran dengan COSPEC dilakukan pada tempat yang tetap (fix position), dengan menempatkan COSPEC pada tripot yang berotasi dan melakukan scanning diarea plume. Pengukuran biasanya dilakukan dari jarak jauh. Selain itu COSPEC juga dioperasikan diatas mobil atau boat, kemudian mobil berjalan melintasi dibawah plumme, jika tidak ada jalan yang dapat dilalui mobil, COSPEC dioperasikan di atas helicopter, yang berarti membutuhkan biaya tambahan yang besar serta keterbatasan geografi, COSPEC tidak dapat digunakan dimana saja karena beratnya. Satu hal lagi yang merupakan kelemahan COSPEC adalah masalah perawatan dan perolehan suku cadang pengganti semakin meningkat kesulitannya.
Emisi Gas SO2
Gambar Skema pengukuran emisi gas SO2 dengan sistem DOAS dan aplikasinya di Gunung Merapi.
Di Gunung Merapi, pengukuran emisi gas SO2 dengan COSPEC telah dilakukan secara harian sejak tahun 1990. Metoda ini merupakan salah satu pemantauan jarak jauh berdasarkan geokimia yang telah banyak diaplikasikan di gunungapi lain di dunia. Dengan prinsip dan cara pengukuran yang sama dengan COSPEC, saat ini pengukuran emisi gas SO2 telah dikembangkan menggunakan DOAS (Differential Optical Absorption Spectroscopy). Skema pengukuran emisi gas SO2 dengan sistem DOAS dan aplikasinya di Gunung Merapi disajikan pada gambar di atas.
Hasil pengukuran emisi gas SO2 di G. Merapi dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2006 disajikan pada gambar di bawah ini. Dari gambar tersebut dapat dinyatakan bahwa pada keadaan aktif normal Gunung Merapi melepaskan SO2 rata-rata sekitar 100 ton/hari dan emisi gas meningkat apabila terjadi peningkatan aktivitasnya. Pada erupsi Gunung Merapi tanggal 14 Juni 2006, emisi gas SO2 rata-rata mencapai 300 ton/hari. Hasil pengukuran emisi gas SO2 yang tinggi yang mengawali terjadinya erupsi gunungapi tercatat Gunungapi Etna and Asama volcano.
Gambar Hasil pengukuran emisi gas SO2 di G. Merapi tahun 1990-2007.
Gambar di atas menunjukkan bahwa secara garis besar emisi gas SO2 di G. Merapi meningkat pada saat tercatat adanya peningkatan aktivitas. Pada awal aktivitas G. Merapi, emisi gas SO2 menunjukkan tren meningkat secara tidak signifikan, tetapi saat aktivitas makin meningkat maka emisi SO2 meningkat tajam dan tercatat maksimum pada saat atau setelah terjadi erupsi. Prediksi erupsi berdasarkan emisi gas SO2 tidak sangat tepat tetapi diagnosa menunjukkan bahwa gunungapi memiliki potensi erupsi. Oleh karena itu, tren emisi gas SO2 digunakan sebagai data pendukung dalam evaluasi tingkat aktivitas gunungapi.
Pada erupsi G. Merapi Februari 1992, emisi gas SO2 rata-rata pada status “Normal” kurang dari 100 ton/hari (tahun 1991), kondisi ini menggambarkan bahwa proses pelepasan gas terhambat. Sejak September 1991 sampai Februari 1992 (status “Awas”) emisi gas meningkat tajam hingga 400 ton/hari. Tingginya jumlah pelepasan gas diduga akibat dari konduit telah terbuka. Selanjutnya emisi gas menunjukkan tren menurun hingga Bulan September 1992. Sehingga dapat dinyatakan bahwa selama episode erupsi G. Merapi Februari 1992, variasi emisi gas SO2 memiliki korelasi dengan tingkat aktivitasnya. Pada perioda erupsi November 1994, emisi gas SO2 pada status “Normal” sekitar 150 ton/hari demikian juga pada perioda Juni 1998 dan Januari 2001.
Gambar di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2004 emisi gas SO2 rata-rata sekitar 100 ton/hari. Pada awal 2005, emisi gas menunjukkan peningkatan secara gradual sehingga emisi gas sekitar 150 ton/hari. Pada Januari-April 2006, emisi gas terus menunjukkan peningkatan (gambar di bawah) hingga menunjukkan rata-rata hampir 200 ton/hari. Sejak Mei 2006, emisi gas meningkat secara tajam hingga mencapai 300 ton/hari yang tercatat sebelum erupsi 14 Juni 2006. Pada saat terjadinya erupsi, pengukuran emisi gas tidak dapat dilakukan karena terhalang oleh abu vulkanik yang dilontarkan.
Gambar Emisi gas SO2 yang diukur dengan COSPEC dari Pos Pengamatan G. Merapi Jrakah.
PEMANTAUAN VISUAL
Pengamatan visual paling menarik dan penting di Gunungapi Merapi adalah pengamatan perubahan morfologi kubah lava karena memberikan informasi kemungkinan arah longsoran kubah dan besaran volume yang akan diluncurkan. Teknik pengamatan sederhana hanya memerlukan kamera dengan zoom secukupnya. Perubahan morfologi dan perkembangan nilai volume dilakukan dengan cara mengurutkan foto dari lokasi pengambilan yang sama. Foto ini kemudian diberi tanda yang mudah dilihat untuk pembanding dengan menggunakan skala dari satelit dan geometri tertentu sehingga volume kubah lava dapat dihitung.
VISUAL MONITORING The most important and interesting in visual monitoring of the Merapi volcano is observation of morphological changing of lava dome. This information provides prediction of slope failure direction and volume of lava dome that might be collapsed. A conservative methodology is conducted by using a zooming camera taken from the selected locations in periodic time. Development of size and volume of lava dome by the time is compared to satelite imagery and then converted into mathematical calculation to figure out the volume of lava dome.
PEMANTAUAN DEFORMASI
Deformasi bawah permukaan gunungapi memberikan petunjuk proses magma di bawah gunungapi yang dapat dijadikan indikator kemungkinan letusan gunungapi. Pemantauan deformasi di gunungapi Merapi, salah satunya menggunakan GPS ( Global Positioning System) dan EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengukur pertumbuhan kubah lava.
Teknologi GPS sangat baik digunakan untuk pemantauan deformasi gunungapi karena pengukuran GPS memberikan perubahan posisi titik pengukuran secara tiga dimensi dengan akurasi milimeter hingga centimeter, tidak terpengaruh kondisi perubahan cuaca, dapat dilakukan secara terus menetus selama 24 jam dan tidak memerlukan hubungan jarak pandang di antara titik-titik pengamatan dalam jaringan pengamatan GPS. Melalui pengukuran secara periodik pada garis vector yang sama, diharapkan besaran dan kecepatan perubahan karena deformasi tubuh gunungapi dapat diketahui.
EDM ( Electronic Distance Measurement) untuk mengetahui deformasi yang dicerminkan oleh perubahan jarak antara alat ke reflektor yang dipasang di kawasan puncak untuk mengukur perubahan horisontal akibat deformasi. EDM membandingkan panjang gelombang cahaya beam yang dipantulkan reflektor dan dikonversikan untuk menghitung perpedaan jarak slope. Besaran dan arah perubahan jarak dikalkulasi terhadap masing-masing titik pada jaringan pengamatan.
DEFORMATION MONITORING Ground surface deformation can give clue to processes at depth and is a reliable indicator of an impending eruption. The surface deformation monitoring at Merapi volcano utilize Global Positioning System (GPS) and Distance Electronic Measurement (EDM ) instruments to measure lava dome development. The GPS technology is well suited for volcano deformation monitoring because its measurements can provide three-dimensional positions, potentially at milimeter to centimeter-level accuracy, independent of weather conditions, 24h/day. In addition, there is no requirement for intervisibility between stations within a GPS network and measurements can be made over relatively long distance. By repeatedly measuring the same baseline vector to accuracy commensurate to expected baseline component changes due to deformation, the rate of change in the baseline components can be reliably determined.
Electronic Distance Measurement measures horizontal distance changes due to deformation which employ a laser beam aimed of a reflector station. The instrument compares the waveform of the light beam going out with that the returning reflected beam and converts this difference to a slope distance, The magnitude and direction of the distance change are calculated for each station in the network.
DEFORMASI GUNUNGAPI MERAPI
DEFORMASI
Pengukuran deformasi G. Merapi dilakukan dengan menggunakan berbagai metoda antara lain pengukuran jarak dengan EDM (Electronics Distance Measurement), GPS (Global Positioning System) dan Telemetri Tiltmeter. Berikut ini dijelaskan masing-masing metoda pengukuran deformasi dengan contoh-contoh hasil yang telah dicapai.
EDM
Usaha untuk melihat deformasi yang terjadi terkait dengan erupsi dilakukan dengan berbagai cara salah satunya adalah dengan prinsip EDM. Pemantauan dengan sistem ini telah dilakukan sejak tahun 1980 menggunakan prisma-prisma reflektor permanen walaupun belum terlihat deformasi yang signifikan melebihi ralat sistem (Siswowidjoyo dkk, 1980).
Gambar Jaringan pengukuran EDM 1988-1991.Tampak keterangan deformasi total dalam kurun waktu tersebut pada setiap titik pengukuran.
Pada tahun 1988 kembali dilakukan survey EDM oleh Voight dkk yang didukung oleh USGS, USAID, dan VSI. Program ini dilakukan dengan survey jaringan trilaterasi di puncak dan pengukuran jarak miring dari pos pengamatan terhadap reflektor-reflektor permanen di puncak.
Berdasarkan obervasi selama beberapa tahun, terukur deformasi sebesar 1,1 m/th di sektor Selatan puncak yang berlangsung pada tahun 1990 dan 1991 sebagai prekursor erupsi Januari Februari 1992. Secara umum, deformasi puncak yang terjadi tidak simetris di setiap sektor namun dominan ke arah mendekati Utara-Selatan. Medan deformasi ini diinterpretasikan sebagai akibat migrasi ke atas sumber tekanan di bawah kawah sekitar kedalaman 1 km.
Berdasarkan obervasi selama beberapa tahun, terukur deformasi sebesar 1,1 m/th di sektor Selatan puncak yang berlangsung pada tahun 1990 dan 1991 sebagai prekursor erupsi Januari-Februari 1992. Secara umum, deformasi puncak yang terjadi tidak simetris di setiap sektor namun dominan ke arah mendekati Utara-Selatan. Medan deformasi ini diinterpretasikan sebagai akibat migrasi ke atas sumber tekanan di bawah kawah sekitar kedalaman 1 km.
Saat ini pemantauan deformasi menggunakan EDM hanya dilakukan pada pengukuran jarak miring reflektor-reflektor puncak terhadap pos-pos pengamatan. Berikut adalah gambar peta jaringan pemantauan EDM saat ini.
Gambar Peta jaringan pengukuran jarak miring dengan EDM 2003-2007.
Pasca erupsi 1994, data deformasi EDM tetap menunjukkan prekursor yang jelas menjelang beberapa siklus erupsi seperti erupsi 2001 dan 2006. Pada erupsi 2006, indikasi adanya peningkatan tekanan terbaca sejak tanggal 14 Februari 2003, dimana terjadi peningkatan kelajuan deformasi yang berlanjut sampai menjelang munculnya kubah lava dan turun secara drastis saat magma mulai keluar di permukaan puncak. Seperti halnya yang terjadi pada erupsi 1992, deformasi tidak terjadi merata secara radial terhadap kubah lava. Menjelang erupsi 2006, deformasi nampak dominan ke arah Selatan – Tenggara diikuti yang ke arah Barat Daya sedangkan deformasi ke arah Utara sangat kecil dibandingkan dengan arah pengukuran yang lain.
GPS
Penyelidikan deformasi puncak menggunakan GPS telah dilakukan sejak tahun 1993 oleh Beauducel dkk bekerjasama dengan Perancis. Metode pengukuran memiliki beberapa karakteristik meliputi penggunaan receiver portable dual-frequency, baselines yang pendek (<500m), prosesing kinematic/rapid-static, adjustment gabungan antara kinematik dan statik, dan prosesing otomatis.
Gambar Lintasan pengukuran GPS kinematik (kiri) dan titik-titik referensi pengukuran statik.
Dari tahun 1993 sampai 2006, jaringan pengukuran GPS relatif tidak ado perubahan yang berarti. Gambar 1 memperlihatkan lintasan pengukuran GPS dengan kinematik dan titik-titik referensi. Survey GPS tahun 2006 memperlihatkan adanya perubahan pola deformasi yang mencerminkan dinamika tekanan menjelang erupsi dan setelahnya. Vektor deformasi yang nampak di sebagian besar titik pengukuran periode September 2005 sampai dengan Maret 2006 menunjukkan pola radial yang seragam sehingga apabila di potongkan akan nampak adanya pemusatan tekanan.
Hal ini mencerminkan sumber tekanan yang sangat dekat dengan permukaan puncak. Setelah erupsi, tampak vektor deformasi lebih acak dengan magnitudo yang jauh lebih kecil. Ini menunjukkan sumber tekanan yang lemah dan menyebar.
Gambar Vektor-vektor deformasi periode September 2005 s/d Maret 2006 (kiri), dan periode Maret sampai dengan November 2006.
Telemetri Tiltmeter
Monitoring kemiringan permukaan secara elekronis telah dimulai sejak 1990. Pemantauan lebih intensif dan kontinu dilakukan bekerjasama dengan USGS dan Penn State Unv (Young, 1994). Ilmuwan Jepang juga memasang beberapa platform Tiltmeter diikuti oleh ilmuwan Jerman (Rebscher, 1997) dan Perancis (Beauducel dan Cornet, 2000). Gambar di bawah ini memperlihatkan peta jaringan monitoring Tiltmeter 1992 – 1998 kerjasama VSI, USGS dan Penn State Unv. Sensor yang digunakan adalah tipe Applied geomechanics model 800 untuk di puncak dengan resolusi 2,6 µrad/mV, dan model 701 dengan resolusi 0,1 µrad/mV untuk di lereng.
Gambar Peta jaringan monitoring Tiltmeter G. Merapi 1992 – 1998Gambar Grafik jarak miring yang terukur dari Pos Babadan terhadap sektor Barat Daya G. Merapi. Tampak peningkatan laju pemendekan jarak dua tahun setelah erupsi 2001.
Di antara sensor Tiltmeter yang terpasang, yang memberikan informasi deformasi paling dominan adalah sensor yang berada di puncak T3 sektor Barat Daya. Pada tahun 1997 teramati laju kemiringan pada orde 200 µrad/hari, sedangkan pada tahun 1998 meningkat menjadi 5000 µrad/hari (gambar di atas). Hal ini selain mencerminkan intensitas tekanan yang tinggi namun juga menunjukkan tubuh batuan tempat kedudukan sensor yang mulai lepas terhadap batuan induknya. Secara umum, inflasi yang terjadi yang ditunjukkan Tiltmeter ini terkait dengan pertumbuhan kubah lava, sedangkan deflasi terkait dengan runtuhnya material kubah lava (Voight dkk, 2000). Pada erupsi 2006 sensor Tiltmeter yang dipasang di puncak tepatnya di Lava 1957 memberikan prekursor yang cukup jelas. Sejak awal tahun 2006 sudah tampak adanya inflasi meskipun dengan laju yang rendah, sekitar 19 µrad/hari. Setelah itu menjelang munculnya kubah lava laju inflasi menjadi meningkat drastic mencapai 375 µrad/hari (komponen radial). Perubahan kemiringan radial terhadap kubah lava dam kemiringan arah tangensial dari waktu ke waktu menjelang munculnya kubah lava dan teramati nya kubah lava dipermukaan disajikan pada gambar berikut.
Gambar Grafik perubahan kemiringan yang terukur oleh sensor Tiltmeter yang dipasang di lava 1957 puncak G. Merapi. Lingkaran merah adalah kemiringan arah radial terhadao kubah lava, sedangkan lingkaran biru kemiringan arah tengensial.
GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.
Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.
Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.
Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.
Hubungan Keraton mataram dan Merapi
Alkisah, sesaat setelah merapat di bibir pantai Parang Kusumo, Panembahan Senopati diberi tanda mata cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad (telor). Di tempat itu pula, sekali lagi kesungguhan dan kesetiaannya diuji. Dan satu lagi yang musti diingat, segera makan endhog ini, ujar nyai rara kidul ” berpesan sebelum hilang dari pandangan dan kembali keasalnya.
Tertegunlah panembahan senopati dibuatnya. Namun tanpa dinyana. Ternyata dalam perjalanan pulang ia kepergok oleh sunan kalijogo yang sedari tadi secara diam diam mengamati kejadian ini. Atas nasehat sunan klijogo pula pendiri dinasti mataram ini lalu disarankan untuk mengurungkan niat memakan telor pemberian ratu pantai selatan tersebut, meski itu hanya sebagi sarana belaka. Karena telor tersebut, diduga hanya untuk mejebak sang penembahan.
Terbukti saat sesudah telor jagad tersebut ditelan secara tak sengaja oleh Ki Juru Taman , abdi dalem setia keraton, menndadak berubah wujud menjadi raksasa.
Menyaksikan pemandangan ini bukan main masgul hati sang penembahan. Ia hanya bisa membatin , ada benarnya juga ramalan sunan kalijogo tersebut. Bagaimana seandainya ia yang memakan telor tadi ”
Sudah seperti yang digariskan , perintah ku, jagalah puncak merapi kapan saja. Selamatkan rakyatku dari amuk merapi selamanya , ” demikian titah sang Penembahan Senopati kepada juru taman yang telah berubah menjadi raksasa, petinggi lelembut di gunung merapi. Abdi dalem inilah yang akhirnya nanti dikenal sebagai Kyai Sapu Jagad, penunggu merapi.
Labuhan Merapi
Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, keraton Jogja dan Surakarta diminta menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk benda benda sesaji untuk dipersembahkan kepadanya.
Sejak itulah, upacara labuhan merapi selalu dirayakan oleh masyarakat setempat dan Kesultanan Yogyakarta maupun Surakarta secara turun temurun tanpa mengurangi muatan sakralnya.
Di Yogyakarta benda benda untuk labuhan merapi terdiri dari 8 buah yang meliputi : sinjang cangkring , semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, dan kampuh poleng. Semua benda itu diarak dari keraton dan diserah terimakan melalui Bupati Sleman, Camat Cangdringan , dan kemudian dipasrahkan kepada Juru kunci Merapi Mas Ngabehi Suraksohargi (mbah Maridjan) untuk kemudian di labuh.Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, berupa hasil bumi berupa sayur mayur,sego gunung,dan yang pokok berupa kepala kerbau yang kemudian tepat pada malam satu suro pukul 00:00WIB di bawa ke puncak kawah merapi untuk dilarung.