Upacara Adat
KODE : L1.SS.X3

KODE : L1.SS.X3

KODE : L1.SS.C18
Pemantauan gunungapi merupakan kegiatan pengukuran dan pengamatan untuk mendeteksi perubahan dari gunungapi sebagai gambaran peningkatan aktifitas gunungapi yang disebabkan pergerakan magma di bawah gunungapi. Sistem pemantauan, diantaranya meliputi pengukuran deformasi permukaan, kegempaan, perubahan emisi gas dan pengukuran suhu fumarola. Hasil pemantauan gunungapi digunakan sebagai informasi untuk peringatan dini bahaya letusan gunungapi.
Berdasarkan hasil pemantauan gunungapi, aktifitas gunungapi dikelompokkan menjadi 4 tingkatan, yaitu :
Informasi peningkatan aktifitas gunungapi dimulai dari Pos Pengamatan Gunungapi ke Pusat Vulanologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan selanjutnya disampaikan ke Pemerintah Daerah setempat ( Gubernur dan Bupati), BNPB, Pusat Keselamatan Penerbangan Internasional dan Bandar udara terdekat.
Peningkatan kewaspadaan masyarakat di kawasan rawan bencana diatur berdasarkan tingkat kegiatan gunungapinya yang terdiri dari :
PERINGATAN DINI TRADITIONAL
Selain menggunakan peralatan pemantauan, peningkatan aktifitas gunungapi dapat dipantau dengan membaca gejala alam yang terjadi. Perilaku binatang yang berada di kawasan gunungapi sering memperlihatkan gejala yang berbeda dari kebiasaannya. Kera, harimau, lebah, burung atau binatang lainnya yang pindah secara masal dari kawasan gunungapi merupakan suatu indikasi adanya perubahan gejala aktivitas gunungapi.
Hal ini didasarkan suatu asumsi bahwa binatang tertentu memiliki sensitivitas terhadap gejala alam. Peningkatan temperatur dan getaran bumi yang disebabkan proses naiknya magma ke permukaan dapat dirasakan oleh beberapa jenis binatang. Sebagian besar masyarakat yang berada di kawasan gunungapi mempercayai fenomena tersebut sebagai indikasi adanya peningkatan aktifitas gunungapi yang akan meletus.
Ketika gunungapi secara visual memperlihatkan indikasi letusan, masyarakat diberikan informasi letusan gunungapi melalui pengeras suara di masjid atau membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya yang disertai upaya penyelamatan diri.
=============================================================
Volcano monitoring is measurements and observations designed to detect changes at the volcano edifice that reflect increasing volcanic activity caused by the movement of magma beneath the volcano. The volcano monitoring system involves, measurement of surface deformation, seismicity and study of changes in gas emission rates and measurements of temperature at fumaroles.
The volcano monitoring provides warning of volcanic unrest, immediately precede most volcanic eruptions. According to volcano monitoring result, the state of volcanic activity is divided into four alert levels system, as follows :
Distribution of information for increasing volcanic activity is propagated from volcano observatory post to Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation and then prosecuted to the local government ( Governor and Regency ), National Disaster Management Agency, Aviation Safety Centre and nearest airport.
Early warning sustem as an lertness system to people living in the volcanic area is provided on the basis of the level of volcanic activity :
TRADITIONAL EARLY WARNING SYSTEM
Besides monitoring instruments, a natural phenomena change may indicate an increase in volcanic activities. Animals that live around volcanic environment frequently show an unusual habit. Monkeys, tigers, birds, bees and others go down the volcano may be an indication of the increasing volcanic activity.
It is based on an assumption that animals have a good sensor to detect natural phenomena. Increasing temperature and ground shaking due to the movement of magma beneath the volcano may be detected by those animals. People who live around the volcano believe that those phenomena related to increasing activity of volcano which might be about to erupt.
When a volcano shows an initial eruption, people are warned the eruption by a siren, loud speaker at the mosque and kentongan ( a traditional warning sytem tool ) to anticipate the eruption.
KODE : L1.SS.C19
Untuk memantau aktivitas sebuah gunung merapi yang aktif, ada dua perangkat yang umumnya digunakan, yaitu Seismometer dan Tiltmeter. Berikut adalah penjelasan singkat tentang keduanya.
Seismometer:
Seismometer adalah alat untuk mengukur gerakan tanah, termasuk gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, dan sumber gempa lainnya.
Rekaman gelombang seismik memungkinkan seismolog untuk memetakan bagian dalam bumi, serta menemukan dan menentukan ukuran dari sumber gempa yang berbeda. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram.
Pada awalanya alat ini hanya bisa digunakan untuk menentukan dari arah mana gempa bumi terjadi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang, maka kemampuan seismometer pun telah ditingkatkan, sehingga bisa merekam getaran dalam jangkauan frekuensi yang cukup lebar. Alat seperti ini disebut Seismometer Broadband.
Tiltmeter:
Tiltmeter merupakan alat pengukur deformasi gunung yang berfungsi untuk mendeteksi pengembungan atau pengempisan tubuh gunung. Perangkat Tiltmeter sendiri terdiri dari tiga komponen utama, yaitu Pelat Tiltmeter, Portable Tiltmeter, dan Readout Unit.
Struktur yang dipandang perlu untuk dilakukan pengukuran dengan metode Tiltmeter adalah struktur yang secara visual telah menunjukkan adanya perubahan posisi secara horizontal atau vertikal agar dapat diketahui intensitas gerakannya.
Untuk kasus sebuah gunung berapi, biasanya para ilmuwan akan memasang Tiltmeter di banyak titik, mulai dari kaki gunung hingga dataran-dataran tertinggi yang diperkirakan sebagai jalur aliran lava.
KODE : L1.SS.C24
KODE : L1.SS.C23
KODE : L1.SS.C21
KODE : L1.SS.C20
KODE : L1.SS.C17
Ilustrasi :
Sabo sendiri berasal dari bahasa Jepang, “sa” yang berarti pasir dan “bo” yang berarti pengendalian. Teknologi sabo ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970 sejak kedatangan Mr. Tomoaki Yokota, seorang tenaga ahli di bidang teknik sabo dari Jepang. Saat itu teknologi sabo dipandang sebagai salah satu alternatif terbaik dalam rangka upaya penanggulangan bencana alam akibat erosi, aliran sedimen dan proses sedimentasi di Indonesia.
Sabo Dam merupakan terminologi umum untuk bangunan penahan, perlambatan dan penanggulangan aliran lahar di sepanjang sungai yang berpotensi terlanda lahar. Beberapa Sabo Dam seperti tanggul, cek dam dan konsolidasi dam telah dibangun di kawasan Gunungapi Merapi.
Sabo Dam is general term for structure that blocks, flattening or divert lahars flows along the river path that might be inundated by lahars. Several sabo dam structures such as existing dike, check dam and consolidation dame have been constructed around Merapi volcano.

Sabodam merupakan bangunan pengendali aliran debris atau lahar yang dibangun melintang pada alur sungai. Prinsip kerja Bangunan Sabo adalah mengendalikan sedimen dengan cara menahan, menampung dan mengalirkan material / pasir yang terbawa oleh aliran dan meloloskan air ke hilir.
Selama masa kejadian banjir lahar pasca erupsi Merapi tahun 2010, sebanyak 77 unit sabodam yang ada di sungai – sungai lahar Merapi mengalami kerusakan atau bahkan hanyut terbawa aliran lahar (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu – Opak, 2011). Sebagian besar dugaan penyebab keruntuhan sabodam mengarah pada pondasinya yang memiliki konsep pondasi mengambang yaitu dibangun di dasar sungai tanpa pondasi yang mengikat ke dalam lapisan tanah keras dengan asumsi bahwa material dasar sungai daerah vulkanik yang didominasi pasir memiliki stabilitas dan daya dukung yang cukup baik sehingga cukup mampu mengikat bangunan untuk tetap pada posisi semula (tidak mengguling ataupun bergeser).
Sabodam dibangun dengan fungsi untuk mengendalikan sedimen dengan cara menahan, menampung dan mengalirkan sedimen. Tata letak pembangunan sabodam di daerah gunungapi dilakukan pada daerah
produksi sedimen sampai dengan daerah pengendapan sedimen. Di daerah tersebut batuan dasar alur sungai sudah tertimbun endapan hasil letusan gunungapi, sehingga letaknya cukup dalam. Untuk itu pondasi sabodam dibuat mengambang dengan anggapan bahwa batuan pada pondasi tersebut memiliki karakteristik yang cukup keras.
Sabodam ini dibangun secara seri artinya bangunan yang satu mendukung bangunan lainnya, dengan jarak tertentu yang disyaratkan agar sabodam stabil dan aman dari gerusan lokal (VSTC, 1985). Pola pengendalian aliran lahar (sabodam) memiliki perbedaan fungsi pada daerah yang berbeda-beda. Daerah Gunungapi berdasarkan pengendalian lahar dibedakan menjadi empat macam yaitu :
Jenis-jenis bangunan Sabodam yang ada di Gunungapi Merapi berjumlah 264 buah dengan tipe yang berbeda-beda. Tipe yang berada untuk daerah sumber material lahar adalah Sabodam, dam konsolidasi, dan tanggul pengarah.
Daerah transportasi lahar memiliki tipe bangunan Sabodam, dam konsolidasi, normalisasi sungai, dan tanggul banjir. Kantong lahar, dam konsolidasi, tanggul banjir, gronsil, dan normalisasi sungai berada pada daerah pengendapan lahar.

Source : Moh. Dedi Munir* , Djudi
Balai Sabo, Kementerian PU, Sopalan, Maguwoharjo, Depok, Sleman Yogyakarta, 55282
KODE : L1.SS.C15