Tipe Erupsi

TIPE ERUPSI

Erupsi adalah peristiwa keluarnya magma di permukaan bumi bisa dalam bentuk yang berbeda-beda untuk setiap gunungapi. Erupsi bisa efusif yaitu lava keluar secara perlahan dan mengalir tanpa diikuti dengan suatu ledakan atau eksplosif yaitu magma keluar dari gunungapi dalam bentuk ledakan. Dalam erupsi yang eksplosif, terbentuk endapan piroklastik, sedang dalam erupsi efusif terbentuk aliran lava. Secara garis besar ada tiga tipe/jenis erupsi yaitu: Hawaiian, Strombolian dan Vulkanian. Istilah tipe hawaiian diambil dari kata Hawaii, pulau vulkanik di tengah samudera Pasifik yang mempunyai gunung dengan tipe erupsi khas hawaiian. Dinamika erupsi tipe hawaiian dicirikan dengan adanya erupsi lava cair berasal dari kawah dalam waktu cukup lama. Lava yang membentuk erupsi tipe hawaiian ini berjenis basalt. Dari bentuk fisiknya, gunung yang bertipe erupsi hawaiian mempunyai bentuk perisai, dalam arti bahwa diam tubuh gunung jauh lebih besar dari tinggi gunung.

Istilah tipe strombolian diambil dari kata Stromboli, nama gunungapi di pulau Stromboli Italia yang terletak di Laut Thyrene, Mediterania. Erupsi jenis strombolian dicirikan dengan erupsi-erupsi kecil dari gas dan fragmen-fragmen atau serpihan magma. Material yang diletuskan jatuh kembali ke dalam kawah atau di sekitar bibir kawah. Pada saat terjadi erupsi yang lebih besar, lava mengalir ke lereng di sekitarnya. Secara umum suatu gunungapi disebut bertipe strombolian apabila dalam suatu erupsi material padat yang terhamburkan kurang lebih setara dengan material yang mengalir sebagai aliran lava. Gunungapi tipe strombolian mempunyai kawah, biasanya berbentuk lingkaran. Tubuh dan lereng gunung tersusun dari batuan skoria hasil lontaran saat erupsi.

Istilah tipe vulkanian berasal dari nama gunung Vulcano yang terletak di kepulauan Lipar Italia. Erupsi bersifat eksplosif dengan tingkat eksplosivitas dari lemah ke katastropik. Magma yang membentuk erupsi tipe vulkanian bersifat antara basa dan asam (dari andesit ke dasit). Erupsi vulkanian terjad karena lobang kepundan tertutup oleh sumbat lava atau magma yang membeku di pipa magma setelah kejadian erupsi. Diperlukan suatu akumulasi tekanan yang relatif besar untuk membuka lobang kepundan atau menghancurkan sumbat lava. Erupsi melontarkan material hancuran dari puncak gunungap tapi juga material baru dari magma yang keluar. Salah satu ciri dari erupsi vulkanian yaitu adanya asap erupsi yang membumbung tinggi ke atas dan kemudian asap tersebut melebar menyerupai cendawan. Asap erupsi membawa abu dan pasir yang kemudian akan turun sebagai hujan abu dan pasir. Tidak seperti tipe hawaiian dan strombolian, aliran lava tidak terjadi pada tipe erupsi vulkanian. Gunung Merapi merupakan gunungapi yang dapat dimasukkan dalam tipe vulkanian lemah dengan ciri khas adanya peranan kubah lava dalam tiap-tiap erupsinya.

KARAKTERISTIK GUNUNG MERAPI

SISTIM VULKANIS

Ada beberapa factor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi diantaranya : (1) sifat magma termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air, (2) struktur dan dimensi pipa saluran magma dan (3) posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan. Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunungapi-gunungapi di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik. Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu “mati”, yang lain sangat aktif.

Erupsi Merapi terjadi relatif sering hal ini ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi, tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. Pada kedalaman 1.5 – 2 km di bawah puncak tidak dijumpai adanya hiposenter gempa, demikian pula pada kedalaman >5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.

Gambar di atas menunjukkan penampang skematik dari struktur geometri internal Merapi. Dimensi kantong magma (atas) dan dapur magma (bawah) adalah perkiraan.

Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma bila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana. Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0.1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3 yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing >40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.

Produk Hasil Letusan Gunungapi

Letusan gunung berapi St. Helens (AS), 22 Juli 1980

Letusan gunung merupakan peristiwa yang terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava. Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 °C. Letusan gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa membanjiri sampai sejauh radius 90 km.

Tidak semua gunung berapi sering meletus. Gunung berapi yang sering meletus disebut gunung berapi aktif.

Read More
1 2

Search

+